Memasak Kenapa Tidak

Posted on January 7, 2014

2


Semuanya berawal dari sebuah adegan film. Seorang pria Barat sedang memasak dengan cekatan, memasukkan bumbu ke panci, mencacah daging, lalu mengaduk-aduk masakannya, sambil berbicara kepada seorang wanita yang sedang duduk di sofa. Sesaat kemudian dia menyuguhkan makanan penuh dengan kentang dan irisan daging, dan mereka berdua makan sambil menyeruput anggur putih. Jiangkrik! Saya terpesona oleh adegan si pria yang memasak itu. Entah ya, tapi pemandangan seorang pria macho memasak makanan sungguh menarik. Itu kombinasi antara ketelatenan, kepekaan, selera yang bagus, dan semangat melayani.

 

Film itu sudah lama berlalu, namun ketika liburan panjang ini, adegan itu mengusik pikiran saya lagi dan akhirnya saya pun memberanikan diri untuk mencoba memasak sendiri. Selama ini saya adalah pria payah dalam urusan dapur. Sejak kecil saya mempunyai pembantu, dan sampai sudah tuwek kayak gini saya beruntung dianugerahi pembantu rumah tangga, istri dan   mertua yang pintar masak. Jadi, setiap kali ingin makan sesuatu saya tinggal memerintah: “bikinkan mie goreng!”, atau “aku kok kepingin pecel ya?”, dan beberapa lama kemudian pembantu pun menyajikan apa yang saya minta. Tapi sekarang saya ingin merasakan bagaimana enaknya memasak dan memakan hasil olahan sendiri.

 

Saya mulai dengan jenis masakan yang katanya Google adalah yang paling sederhana tapi termasuk yang paling populer: nasi goreng. Dibantu oleh pembantu, saya menyiapkan bumbunya, yaitu seperti yang terlihat di gambar berikut ini: bawang putih 2 siung, bawang merah 3 siung, sebiji cabe (cabe sungguhan, bukan cabe-cabean), garam setengah sendok teh, merica tumbuk atau merica butiran 4 atau 5 butir, dan penyedap secukupnya. Semua itu diulek di cobek sampai lumat bercampur. Karena tidak terbiasa ngulek, tangan kanan saya pegal juga dan saya ganti dengan tangan kiri. Melihat itu ibu mertua dan pembantu berkomentar: “Astagaa, nguleknya lha kok pake tangan kiri??”. Yah, capek sih pake kanan terus terusan.

 

Image

Setelah bumbu halus, wajan ditaruh di atas kompor, minyak goreng dituang tidak terlalu banyak , dan ketika sudah panas, telur saya pecahkan di atasnya untuk membuat telur ceplok. Menggoreng telur ada seninya juga. Tidak boleh terlalu lama membaliknya, dan waktu membalik juga harus sempurna sehingga ndak malah ajur ndak karuan. Tekniknya: sutil itu masuk seluruhnya ke bagian bawah telur, kemudian langsung dibalik. Telur yang sudah matang lalu ditaruh di piring.

 

 

Minyak dituang lagi ke wajan, dan setelah agak panas bumbu di cobek tadi saya tuang seluruhnya ke wajan, lalu ditumis dengan sutil sampai aromanya terasa mulai menyengat. Lalu ke dalam adonan itu dituanglah nasi putih (yang bukan nasi hangat) dalam jumlah yang mau dimakan, dan kembali sutil beraksi membalik-balik, menekan-nekan nasi dan bumbu itu sehingga bercampur seluruhnya. Pada saat ini bisa ditambahkan saus tomat atau minyak wijen. Setelah nasi goreng itu berwarna seperti nasi goreng sungguhan alias sudah merata, maka diangkatlah keseluruhan isi wajan dan disajikan di piring bersama dengan telur ceplok yang tadi sudah matang duluan. Nah, inilah hasil nasi goreng yang pertama kali saya masak sepanjang sejarah hidup saya:

IMG_2120

Rasanya? Yah, namanya juga masih pemula, jangan lah ditulis disini karena malu-maluin, bwa ha haaa! Ndak, enak juga kok ternyata.

 

O ya, selama memasak yang pertama kali itu saya disupervisi terus oleh pembantu saya. Karena dia orang Madura asli, dia berbicara terus menerus dalam bahasa Madura. Celakanya, kadang-kadang saya tidak mengerti maknanya. “Gungser, gungser!”, katanya. Sialan, apa sih artinya “gungser”? Oh, ternyata “gungser” itu maksudnya mengolah nasi dan bumbu di wajan dengan sutil.

 

Jadi, apakah memasak akan menjadi hobi saya yang baru? Yah, semoga lah begitu. Saya menghabiskan hampir sembilan puluh persen hidup saya mengajar, menulis, dan meneliti. Paper, flash disk, dan MS Word adalah layaknya separuh nafas yang saya hembuskan. Alih-alih nasi goreng, saya menghasilkan ratusan makalah dan karya penelitian. Maka saya ingin variasi hidup dalam bentuk hobi yang jauh dari bau kertas dan komputer, tapi tidak membuat polusi, tidak terlalu banyak menghabiskan biaya, dan menyenangkan untuk orang lain. Jadi, memasak, kenapa tidak?

 

Resep berikutnya yang mau saya coba adalah menu khas ayam. Google menawarkan ayam rica-rica dan ayam goreng mentega. Hmm, tunggu aja tanggal mainnya dan saya akan sajikan masakan itu di piring Anda dan di blog ini.

 

Tagged: ,
Posted in: Uncategorized