Outbound di Dusun Sahabat Alam

Posted on January 2, 2014

2


Rekreasi di alam terbuka sambil belajar mendekatkan diri (lagi) ke alam. Itu pengalaman yang bisa diperoleh di Dusun Sahabat Alam, sebuah kawasan seluas 2,2 hektar di Tawangargo yang terletak sekitar 25 km dari pusat kota Malang. Dengan lalu lintas ramai tapi lancar, tempat itu bisa dicapai dalam waktu sekitar 45 menit. Rutenya adalah dari Dinoyo ke arah Batu, terus sampai ke pertigaan Pendem, belok kanan, lalu terus lurus sampai ketemu tugu di dekat pasar Tawangargo, dan dari sana belok kiri lagi lalu berkelok-kelok melalui jalan-jalan kecil di daerah perkampungan. Kesanalah saya dan keluarga besar berwisata pada hari Sabtu 28 Desember yang lalu. Ini logo dan misi Dusun Sahabat Alam:

 

Image

 

Jalan masuk yang tidak terlalu lebar berujung pada sebuah bangunan yang selama ini dipakai sebagai kantor oleh pengelolanya. Di sebelah kanan ada jajaran camping ground dengan tenda-tenda yang bisa memuat sampai 100 an orang. Di sebelah kiri ada jajaran tanaman markisa yang pada pagi hari itu ternyata sedang berbuah. Ini gambar istri saya setelah “memanen” tanaman markisa itu:

 

 

 Image

Markisa ini rasanya manis, agak ada asamnya, dan yang jelas segar. Pengelola DSA, yang tak lain adalah adik ipar  saya sendiri, Yoyok dan Pak Catur, menyediakan sirup markisa yang diberi es batu dan dicampur dengan potongan kelapa muda. Terasa segar diminum setelah capek jalan keliling dan main-main di area outboundnya.

 

Di sayap sebelah kanan bangunan kantor tadi ada pendapa yang cukup luas untuk dibuat duduk-duduk santai. Ini tempat yang cocok untuk briefing kalau ada acara kelompok disini. Suplai listrik membuat kita bisa memasang TV dan aneka peralatan manusia modern lainnya. Tahu kan bahwa manusia jaman sekarang harus punya 3 hal supaya bisa bertahan hidup: sandang, pangan, dan casan. Istilah “casan” ini maksudnya “tempat untuk mengecharge gadget (HP, iPad, BB dsj).” Anda juga termasuk yang mengamini hal itu, bukan? Cobalah  berkunjung ke suatu tempat yang tidak ada casannya, dijamin Anda kelabakan melihat gadget sudah low-batt. Biar kenyang kayak apa kalau gadget sudah tewas karena tidak dicas, apalah artinya hidup? Ha ha ha!

 

Tepat di belakang pendapa ada kawasan outbound yang memuat beberapa jenis permainan yang menguji daya tahan dan kelenturan tubuh. Ini gambar saya sok gaya mencoba berayun melewati kolam. Maksud hati mau meniru adik ipar yang dengan enaknya bisa bergelayut dengan tali tambang melintasi kolam, tapi apa daya saya ternyata salah teknik dan akibatnya sukses kejebur di kolam itu. Semua yang menyaksikan tertawa ngakak melihat sang profesor berbasah-basah. Selain celana basah kuyup, dua jari di tangan kanan saya terbeset tali tambang sampai berdarah, dan alamak, ternyata perih juga. Untung ada Betadine.

 

 Image

Kedua anak saya juga mencoba berayun dan yaah,  . . . .  ndak bapak ndak anak sama geblegnya: semua jatuh ke kolam. Tapi mereka tidak menyerah dan berusaha menaklukkan rintangan yang lain. Nah, ini gambar si sulung dan si bungsu mencoba memanjat tali temali. Si bungsu pada awalnya masih kelihatan ragu, dan akhirnya berhasil naik setapak demi setapak setelah disemangati oleh kakek neneknya dari bawah. Akhirnya dia sampai ke puncak, meninggalkan sang kakak yang ternyata memillih menyerah di tengah jalan karena capek.

 

Image

Tantangan berikutnya adalah Flying Fox. Permainan  itu dipandu oleh beberapa tenaga trampil sehingga tidak perlu khawatir celaka. Istri, anak dan adik saya sukses melayang dengan tali. Si bungsu malah ketagihan sampai dia minta dua kali, padahal awalnya dia grogi sampai muntah-muntah. Saya? Yah, setelah kejebur tadi rupanya nyali saya ciut dan lebih memilih jadi fotografer saja, khe khe khe!

 Image

 

Nah, di belakang area outbound tadi ada kawasan penuh tanaman dan semak yang cocok untuk dipakai jalan kaki. Kami beramai-ramai menyusuri jalan setapak, dengan pepohonan bambu, jeruk, cabai dan entah apa lagi itu namanya, pokoknya ijo-ijoan yang segar gitu deh, di samping kanan dan kiri. Jalan kaki menyusuri kawasan ini memang capek, apalagi ada medan yang curam dan mendaki berkelok-kelok. Tapi capeknya ini adalah capek yang sehat, karena selain otot-otot kaki dilatih, mata juga disegarkan dengan pemandangan alam yang terhampar sejauh mata memandang.

Image

 

 

 

ImageImage

 

Wah, lha kalau yang satu ini pastilah kendaraan serba guna yang garang melintasi medan seperti itu:

 

 Image

Di sebuah titik saya temukan pemandangan yang sudah tidak mungkin didapatkan di kota: sebuah pancuran dengan air segar bening menggerojos dari mulutnya. Hmm, bayangkan mandi disitu pagi-pagi. Lebih membahana lagi kalau mandinya bersama-sama artis Hong Kong. Wah, kok jadi ngeres gini? Oke, saya ganti deh: lebih mengesankan lagi kalau mandinya bersama-sama dengan seekor kambing yang kemudian kita biarkan merumput di tengah padang, sebelum disembelih jadi sate kambing dengan gule, bwa ha haaa!

 Image

Agak jauh dari situ saya temukan sebuah ladang jagung. Ini pose saya dengan tanaman jagung dengan latar belakang Gunung Kawi. Enak kan? Kalau panen jagung, kita bisa mbakar jagung malam-malam sambil ngerokok-ngerokok, ngopi, dan ngobrol.

 Image

Di perjalanan itu ayah dan paman saya juga ikut. Dengan usia sudah di atas 74 tahun, saya pikir mereka nekad juga. Mungkin itulah pria: tidak pernah mau dianggap lemah. Akibat medan yang berat, ayah saya sempat terperosok, untung ada adik ipar dan adik saya yang sigap menolongnya. Paman saya? Lanjut terus sampai akhir, membuat kami semua kagum. O ya, paman saya ini juga seorang dosen di  Ma Chung dan juga seorang profesor. Ya jadi sama kayak saya lah, bedanya hanya saya lebih gebleg sementara beliau sudah sangat bijak.

 

Setelah perjalanan dan main-main di area ketangkasan, kami makan siang bersama-sama di pendapa. Tepat didepan pendapa ada lahan cukup luas untuk main futsal. Ini gambar dua orang adik sedang main disitu:

Image

 

Menurut ipar saya, di lahan itu mereka mengumpulkan sampah dari wilayah Tawangargo yang kemudian dipilah-pilah. Sampah itu lalu diolah; sebagian menjadi kompos, sebagian lagi untuk bahan makanan ayam. Itulah makanya tempat ini disebut juga ups lidi, singkatan dari unit pengolahan sampah dan pertanian terpadu.

 

Menjelang jam 3 sore lengkaplah pengalaman kami di Dusun Sahabat Alam tersebut. Puas dan kenyang kami pulang kembali ke Malang yang sore itu lancar jaya dengan sinar mentari terang benderang.

 

Posted in: Uncategorized