Mengajar Gratisan

Posted on December 21, 2013

2


Percayalah, pada suatu saat dalam hidup Anda, akan ada suatu momen di mana Anda berpikir: “apa yang telah aku sumbangkan untuk kemanusiaan?”. Anda mungkin sudah mapan, sudah tamat sekolah sampai S tung-tung (gelar setelah S3), sudah punya pasangan hidup, tapi toh Anda merasa ada yang masih bisa Anda lakukan sekalipun tidak diimbal dengan duit. Beberapa dari Anda mungkin sangat beruntung bisa mempunyai lembaga pendidikan atau organisasi sosial nir laba yang bergerak demi kemanusiaan. Sebagian dari kita masih belum bisa mewujudkan desakan naluri berbagi itu karena masih sibuk mengejar gelar, mengejar karir, mengejar jodoh. Kalaupun sempat ya paling banter menyumbangkan sedikit donasi entah itu berupa barang atau uang, tapi selebihnya Anda benar-benar berkutat dengan perjuangan menaikkan taraf hidup Anda sendiri. Sebagian dari kita, seperti saya, tergolong STMG (Sudah Tua Masih Gedubrakan), karena setelah bekerja lalu mendapat tanggung jawab memimpin sebuah unit dan praktis keseharian Anda disibukkan oleh urusan unit atau departemen itu. Jadi kalaupun akhirnya menyumbangkan untuk orang lain, ya paling banter lewat derma tadi. Kasih uang lalu sudah.

Untunglah di tengah segala kesibukan dan keterbatasan saya sebagai manusia, dunia maya menawarkan jalan untuk sedikit berbagi. Sedikiiit sekali, tapi kan intinya adalah berbagi. Setelah beberapa bulan memelihara burung biru (alias Twitter) dan nggedabrus kesana kemari tanpa tujuan jelas, saya menemukan kegunaan Twitter yang lebih mulia: mengajar bahasa Inggris gratis!

Maka pada suatu hari Minggu sekitar 4 bulan yang lalu, jadilah akun Twitter saya yang bernama inggrisanda (@InggrisAnda). Akun ini saya pakai khusus untuk membagikan kata-kata dalam bhs Inggris, idiom (ungkapan), sampai bentuk-bentuk kalimat bahasa Inggris. Setiap hari ada sekitar 6 – 8 kata bahasa Inggris yang saya bagikan lewat akun itu; supaya mudah menemukannya, saya beri hashtag englishvocab, englishidiom, dan englishgrammar. Untuk mencari pelanggan, saya promosikan akun ini ke mahasiswa baru Universitas Ma Chung pada sesi Study Skills. Lalu ketika semester sudah mulai, setengahnya saya paksa mahasiswa-mahasiswi saya di kelas Vocabulary yang saya ajar untuk menjadi followernya. Saya follow juga beberapa alumni Universitas Ma Chung dari beberapa mahasiswa akuntansi dan teknik industri yang dulu pernah saya ajar. Dasar sombong, tak ada satupun dari alumni Universitas ini yang memfolbek, mungkin karena mereka merasa bahasa Inggris sudah ndak ada gunanya begitu mereka lulus, bwa ha ha!

Tapi makin lama akun itu makin banyak followernya. Entah gimana, yang memfollow banyak yang dari luar Universitas Ma Chung. Ada yang dari UI, ada yang dari PTS-PTS di luar pulau, ada yang dari SMA di Lampung, dan masih banyak lagi. Ternyata benar kata orang: “dukun ndak akan laku di daerahnya sendiri; pasiennya pasti banyak dari luar kota atau tempat-tempat yang jauh”. Ya betul juga ya, di Ma Chung nama saya mungkin sudah bikin eneg di kalangan Ma Chungers, makanya mereka males memfollow saya. Sebaliknya, di kota-kota lain malah orang berdatangan untuk mengikuti les gratis bahasa Inggris lewat kicauan saya di twitter.

Saya senang melihat respons dari banyak orang itu. Setiap minggu rata-rata ada 2 followers baru. Yang paling menyenangkan adalah ketika menerima pujian dari seorang kolega yang sedang mengambil S3 di Jepang. Dosen ini bilang dia mendapatkan manfaat tambahan dari InggrisAnda karena contoh kalimat yang saya pakai membuatnya bisa tahu lebih banyak tentang suatu kata.

Begitulah, dibalik semua kesibukan dan “egoisme” saya mengurus diri sendiri dan fakultas yang dipercayakan kepada saya, saya senang masih bisa memberikan sedikit sumbangan untuk orang lain, walaupun dengan sangat terbatas lewat kicauan burung biru bernama inggrisanda.

Posted in: Uncategorized