Hatinya Patah (2)

Posted on December 20, 2013

0


Demikianlah, hidup bergulir, bulan berganti bulan, tahun pun berganti. Tak terasa sudah hampir 3 tahun sejak pertemuan saya dengan rekan saya yang belum pulih dari patah hatinya itu. Lalu mendadak sontak saja saya ketemu lagi dengannya di sebuah mall.

Astaga!

Saya tak mengira bahwa itu dia, dan beberapa detik saya hanya terdiam ketika dia menyapa duluan. Wah, kok dia sudah berubah sekali. Rambutnya masih tergerai panjang, namun yang dulunya cenderung lurus sekarang bergelombang di bagian ujungnya, dan ada sedikit sentuhan warna coklat perak di beberapa bagian. Mata nya terbingkai eyeliner yang cukup membuat pria normal manapun sulit melepas pandang, bibirnya berlipstik glossy, dan pakaiannya, alamaak, sejak kapan dia suka memakai rok agak mini dan blus putih dengan wangi semegrak parfum menguar dari lehernya yang jenjang? Wih, Pariyem sudah jadi kayak gini.

 

Setelah berbasa-basi sejenak dan melepas kaget, saya tanpa sadar memandang jari manisnya.  Cincin perak sederhana itu sudah tak ada, digantikan oleh sebuah cincin berbatu berkilauan. Seolah tahu apa yang saya pikirkan, dia langsung menukas: “Yah. . . .inilah aku sekarang. Aku sadar aku tidak bisa hidup terus menerus dengan kenangan tentang seorang pria yang pernah aku sayangi. Life goes on, dan aku juga tidak ingin terus menerus terkubur dalam sendu berkepanjangan. Aku sudah punya tunangan,”.

 

Ya sih, batin saya. Pada usia 27 tahun ya sudah pantas lah dia punya tunangan.

 

Lalu seorang pria tinggi besar mendekat. Wih, saya terpana melihat pria ini. Tinggi, kekar, buesar seperti Hulk. 

 

“Kamu dapat darimana kayak ginian ini, Yem??” saya kecuprutan bertanya saking kagetnya, dan disambut dengan tendangan sepatu stilleto mahalnya ke dengkul saya.

 

“Huss!” dengusnya. “Kamu kan tahu, aku cewek tinggi, jadi ndak mudah mendapatkan pria yang setinggi aku. Nah, ini aku temukan waktu nonton UFC Championship di Hong Kong tahun lalu. Yah, namanya aja petinju kelas bebas, kadang wajahnya bisa berubah sesuai serunya pertandingan. Kadang bonyok disini, kadang peyot kesana, kadang miring kesitu, ya akibat kena tendangan dan pukulan lawan2nya itu, tuh. Tapi aku ga perduli, yang penting tinggi besar, dan aku nyaman dengan itu. Malah enak kan, wajahnya ndak tetap aja kayak gitu, bisa bervariasi”

 

Prrrt! Saya nyaris kepentut saking tak tahan mau ngakak mendengar penjelasannya. Tapi karena dia serius sekali, jadi akhirnya saya hanya bisa mengangguk-angguk.

 

“Oooh, begitu,” kata saya sambil tak henti menengadah memandang kekasih barunya itu. 

 

Begitulah. Pariyem (bukan nama sebenarnya) yang saya kenal sudah bukan lagi Pariyem yang dulu limbung penuh derai air mata karena patah hati dan harus meninggalkan kekasih yang sangat disayanginya. Memang benar. Time heals. Waktu akan menyembuhkan, dan tanpa sadar Anda akan mendapati diri Anda sudah berada di pelukan pria atau wanita lain.

 

TAMAT

 

Posted in: Uncategorized