Hatinya Patah

Posted on December 19, 2013

0


Bertahun-tahun yang lalu saya punya seorang teman yang sudah menjalin hubungan dengan seorang pria selama 2,5 tahun, namun sayang hubungan itu harus kandas di tengah jalan. Dia tidak mau bercerita apa yang menjadi penyebabnya, namun yang jelas saya melihatnya seperti ranting pohon yang semula kokoh lalu tiba-tiba “kraaak!”, patah begitu saja. Selama berhari-hari ketika masuk kerja, saya melihat matanya masih memerah, bahkan sedikit bengkak, pertanda dia menangis semalaman. Rambut panjangnya yang dulu nampak bersinar hitam mengkilat menjadi sedikit acak-acakan; jerawat tumbuh di dahinya, dan badannya yang dulu kelihatan tinggi kokoh menjadi seolah melembek dan lungkrah.

Boy o boy o boy, tidak saya sangka patah hati bisa sedemikian dahsyatnya untuk seorang wanita. “Kalau kamu sudah jatuh cinta kepada seseorang, dan harus meninggalkannya dalam keadaan kamu masih sayang sekali kepadanya, kamu akan mengerti perasaan saya,” katanya suatu pagi ketika bertemu saya di lift menuju kantor. Saya mengangguk mengiyakan tidak membantah apapun. “Memang kenapa kok sampai putus?” tanya saya dengan hati-hati.

Dia terdiam lama sebelum menjawab.

“Ada saatnya dimana sepasang kekasih harus berani menghadapi batas kendala terbesar dalam hubungan mereka,” katanya pelan. “Kami sudah sampai disana, dan ternyata kami harus memilih berpisah.”

Itu saja yang dia katakan. Pendek, namun jelas bagi saya bahwa ada rintangan maha besar yang membuat mereka harus berpisah. Yang jelas mereka masih saling mencintai dan menginginkan satu sama lain. Itu yang membuat sakit.

Waktupun bergulir. Saya sibuk dengan berbagai urusan saya sendiri, sehingga tidak sempat memperhatikan teman ini lagi. Lalu suatu ketika saya pindah ke kota lain, dan hanya bisa melihat teman ini dari socmednya. Setelah beberapa tahun, saya duga dia pasti sudah mempunyai kekasih baru lagi. Masa iya sih patah hati bisa sampai melebihi satu atau bahkan dua tahun? Time heals, that’s what wise men say.

Ternyata tidak . Baru-baru ini saya ketemu dengan dia di sebuah seminar. Masih berambut panjang, figurnya yang tinggi besar tidak asing lagi bagi saya. Setelah basa-basi sebentar, saya menyinggung apakah dia sudah pulih dari patah hatinya. Di luar dugaan saya, dia menjawab: “sudah. . . .”.

Lalu dia melanjutkan, seolah menebak apa yang saya pikirkan: “belum, aku belum punya kekasih baru.”. Dia angkat tangan kirinya, dan saya bisa melihat sebuah cincin berwarna perak masih melingkar di jari manisnya. “Selama dia masih di hatiku, aku tidak akan melepas cincin ini, dan selama itu pula, aku tidak sanggup mencari pria lain.”

Fiyuuuhhh . . . . .

“Aku belajar bahwa mencintai seseorang tidak sama dengan membeli mobil. Kalau membeli mobil, sekali kamu tidak suka satu merek, kamu bisa pindah dengan mudah ke merek lain. Tapi hubungan cinta dengan seorang pria yang benar-benar kamu sayangi akan jauh lebih rumit daripada memilih seperti itu,” dia menguraikan.

“Tapi pada akhirnya toh Anda harus mendapatkan pria lain sebagai pasangan hidup,” sanggah saya.

Dia terdiam dan balik menatap saya, seolah-olah mengatakan, “siapa bilang??”.

Demikianlah, kisah sebuah hati yang patah dan serpihan-serpihannya tetap tegar mengarungi samudra hidup ini . . . .

(bersambung)

Tagged: , ,
Posted in: Uncategorized