Menumpas Copas

Posted on December 16, 2013

0


Kemajuan jaman memang layaknya pedang bermata dua. Di satu sisi dia membantu kemajuan, di sisi lain dia menuai peluang menyuburkan keburukan. Sejak teknologi informasi makin canggih, peluang untuk menjiplak karya orang lain tanpa ketahuan juga makin terbuka. Hanya diperlukan empat atau lima langkah pada keyboard atau layar sentuh gadget kita untuk menemukan sebuah sumber, menandai bagian yang ingin kita copas (=copy paste, alias menjiplak), lalu  meletakkannya di naskah kita sendiri. Selesai. Copas accomplished! Selanjutnya adalah berdoa atau membaca jampi jampi supaya orang lain (baca: dosen, editor, tim reviewer, TPAK kampus) tidak bisa membaui jejak tipu muslihat itu.

 Kenapa dunia pendidikan mengutuk keras copas dan menggunakan segala daya upaya untuk memeranginya? Ada setidaknya 2 alasan yang menurut saya masuk akal:

 Pertama, copas adalah cermin kemalasan berpikir kritis dan berpikir dalam. Seorang pencopas hanya berpikir pada tahap menemukan buah pikiran yang selaras dengan alur naskah atau makalah ilmiahnya. Setelah menemukannya, dia akan langsung menjiplaknya, tidak usah berpikir lebih dalam untuk melakukan peringkasan ide, sintesis, perampingan atau penambahan, atau penyesuaian yang lain. Maka saya tidak heran kalau apa yang dicopaskan kadang-kadang terasa ndak match dengan untaian argumen sebelumnya. Terasa sekali njeglek, atau malah tidak nyambung karena ada bagian-bagian yang kurang selaras. Kalau Anda dosen di jurusan bahasa akan terasa sekali keterkejutan itu karena mendadak Anda membaca kata-kata sangat canggih yang mustahil diungkapkan oleh mahasiswa yang kadang-kadang grammarnya saja masih kacau.

 

Jadi, kebiasaan copas akan menumpulkan kemampuan membaca analitis dan kemampuan mengolah buah pikiran yang relatif orisinil. Sarjana dengan kemampuan yang tumpul di ranah ini sebenarnya kurang pantas mendapat gelar sarjana. Itu sebabnya kenapa beberapa perguruan tinggi tidak segan-segan mencopot gelar Doktor seorang dosennya yang ketahuan copas. Mana dunia bisa menerima seorang sarjana yang semua hasil karyanya hanya berupa jiplakan disana sini? Kalau dia seorang dosen yang sudah mendapat Serdos, dia sudah mengingkari kepantasan kepribadian dan kepantasan profesional yang dipersyaratkan oleh sistem Serdos. Dia cacat secara pribadi karena memelihara mental penjiplak, dan dia cacat secara profesi karena apa yang disajikannya  adalah buah pikiran orang lain, bukan hasil karya olah pikirnya sebagai seorang profesional.

  

Kedua, copas itu tidak sopan, karena tidak menghargai jerih payah orang yang sudah bersusah payah menuangkan ide tersebut lewat upayanya sendiri. Kalau Anda menulis atau membuat sebuah karya yang kemudian dijiplak terang-terangan oleh orang lain, tentunya Anda merasa tidak suka, bukan? Nah, begitulah yang dirasakan oleh dunia akademik menghadapi para pencopas. Sebenarnya bukan hanya di dunia akademik saja, namun juga dunia lain seperti musik dan industri. Pemusik manapun akan merasa gusar kalau melihat irama atau lirik lagu ciptaannya ditiru oleh pemusik lain. Pemegang suatu merek dagang juga tidak segan-segan menuntut ke pengadilan pihak lain yang sengaja memalsukan atau meniru produknya, bahkan mereknya.

  

Seorang kolega profesor di Universitas Ma Chung mempunyai cara jitu untuk mengetahui sekaligus menghajar mahasiswa pencopas. Begitu dia membaca ada bagian yang dia curigai, dia akan menanyakan kepada mahasiswa itu arti beberapa kata di bagian tersebut. Kalau mahasiswa tersebut gelagapan dalam menjawab atau bahkan membisu, itu jelas bahwa dia sudah mencopas bagian tersebut.

 

Kalau melihat ada mahasiswa yang dibegitukan oleh rekan saya itu, dalam hati saya berkata begini: “Lha kamu ya goblok, sudah copas tapi ndak mempelajari dulu semua arti kata disitu.”

Tapi memang begitulah yang terjadi. Celakanya tak satupun dari mahasiswa-mahasiswa itu yang sukses menangkal serangan mematikan dari profesor senior itu. Ini membuktikan ada hal yang lebih gawat lagi dalam cara mahasiswa sekarang menyikapi karya ilmiah: sudah menjiplak, mereka pun tidak membaca lebih dalam  dan tidak mengetahui arti beberapa kata yang dijiplaknya. Ini kan sama dengan seorang pria mencuri pakaian dari kamar ganti, kemudian langsung saja memakainya dan ternyata setelah sampai di luar orang-orang heboh karena yang dia pakai adalah celana dalam wanita yang berenda-renda. Persis kan?

Parah.

Yah, intinya, copas itu tindakan tidak terpuji.

 

Saya mentwitkan hal ini tadi pagi secara sambil lalu, tapi setelahnya saya mulai berpikir-pikir juga. Ini tweet saya itu: “untuk menghindari kebiasaan copas, ada baiknya mata kuliah  skripsi dilakukan secara lisan, tidak bertumpu pada naskah tertulis”.

Hmm, boleh tuh ide dipertimbangkan. Setidaknya itu akan membuat mahasiswa berpikir keras untuk menyajikan gagasannya secara orisinal, tidak lagi tergoda untuk copas dari sumber semurah hati Google.

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized