Berpose

Posted on December 12, 2013

0


Karena hanya seorang guru, bisa sangat dimaklumi saya kagok dan kikuk sekali ketika harus berpose untuk sebuah acara berfoto. Begitu kamera sudah siap dan fotografer siap memotret, saya tidak tahu harus bagaimana. Tersenyumkah? Tersenyum itu susah juga lho, apalagi kalau memang harus tersenyum dan tidak ada suasana yang membuat saya tersenyum atau bahkan tertawa secara alamiah. Ya akhirnya sih tersenyum, tapi begitu fotonya jadi ketahuan bahwa senyum saya tadi itu senyum kuda. Tahu senyum kuda ya? Kuda tuh kalau tersenyum kan kelihatan kaku dan elek pol, kayak setengahnya ndak rela gitu lho kalau harus tersenyum. Ya seperti itulah senyum saya kalau sedang difoto dalam sebuah acara resmi.

Maka saya suka kalau ada seorang kamerawan yang pintar membuat suasana menjadi renyah, cair, santai dan bahkan lucu ketika sesi pemotretan berlangsung, sehingga tawa dan senyum saya dan teman-teman pun bisa kelihatan lepas dan alamiah. Dilihatnya juga menyenangkan ketika sudah jadi.

IMG_5783

Nah, foto di atas itu diambil kemarin ketika sesi pemotretan dosen-dosen Sastra Inggris Universitas Ma Chung. Senyum saya merekah bahkan nyaris menjadi tawa lepas karena suasana pada saat itu santai dan juga lucu, sehingga saya bisa tersenyum lepas seperti itu. Senyuman asli lho itu, 24 karat, lihat aja kerutan di tepi kedua mata saya. Bukankah itu selaras dengan teori senyum yang mengatakan bahwa senyuman yang asli adalah yang juga membuat mata ikut “tertawa”?

Lalu masih ada lagi aspek pose yang cukup bikin ribet ketika berpose: posisi tangan. Kemana dan ngapain sebaiknya tangan saya ketika difoto? Profesor Sadtono yang ahli dalam bidang budaya mengatakan bahwa untuk pria Jawa, posisi tangan yang benar adalah “ngapurancang”, yaitu kedua tangan bersilang di depan dan telapak tangan saling mengait. “Itu soalnya ada maksudnya, yaitu untuk menjaga supaya burung kita tidak lepas, ha ha ha haaa!” demikian sabda beliau disambung tawa menggelegar. Saya langsung kecut. Wah, kalau sudah masalah perburungan pria ini lebih baik saya diam saja wis, takut kuwalat. Nah, tapi pertanyaan saya itu belum terjawab: kemana tangan saya? Saya ogah melindungi burung sialan itu, tapi lha terus gimana? Niki murid saya sudah siap dengan kameranya, dan memberi aba-aba siap. Nah, akhirnya sayapun begini, tuh lihat difoto bawah itu:

IMG_5777

Nah, selesailah masalah tangan itu. Memang jadinya sangat tidak nJawani, masak pria Jawa melangkrik (berkacak pinggang) kayak gitu? Tapi ya ini kan Jawa modern dan generasi millenium kedua, jadi ya ndak papalah. Daripada tangan dipakai untuk melindungi burung pembawa nikmat, eh, maksiat, lebih baik diletakkan di pinggang. Kesannya memang sedikit sombong, tapi juga santai dan tidak jaim-jaim amat.

O, ya, kain jarik di pinggang saya itu adalah ide dari Wakil Dekan saya. Karena dia lebih punya cita rasa seni, saya manut saja didandani kayak gitu.

Tagged: , ,
Posted in: Uncategorized