Belajar Sak Karepe Dewe (Personalized Learning)

Posted on December 9, 2013

2


Waktu belajar:  2 x 50 menit. Tempat: di kelas. Mode pembelajaran: ceramah satu arah. Evaluasi: ujian tengah semester.

 

Ternyata dari jaman purba sampai sekarang mode itu tidak berubah sedikitpun. Belajar dipatok dan dikungkungi dengan beberapa parameter yang sudah baku: baik tempat, durasi, maupun cara belajarnya sudah diatur.

Coba perhatikan ini: kalimat diatas sendiri itu mengasumsikan beberapa hal: (1) dalam waktu 2 kali 50 menit itu pembelajaran pasti sudah tercapai; (2) semua murid punya gaya belajar yang sama, yaitu duduk diam mendengarkan ceramah dosennya, mencatat poin-poin penting, menghafal lalu diuji; (3) semua murid harus melalui tahapan belajar yang sama, yang sudah ditentukan oleh dosen atau gurunya.

 

Tapi bagaimana kalau semua asumsi itu ternyata goyah oleh fakta-fakta tentang sifat dan cara belajar manusia? Bagaimana dengan murid yang punya gaya belajar kinestetik (harus bergerak melakukan sesuatu saat belajar) dan punya gaya kognitif ekstrovert? Bagaimana kalau beberapa murid adalah pemelajar bergaya divergers yang bisa belajar kalau dia mencerna sesuatu  lewat pengalaman konkret dan kemudian memprosesnya lewat pengamatan reflektif, dan tidak sebaliknya? Bagaimana kalau dalam waktu 1 kali 50 menit ada sang dosen yang begitu piawai menerangkan sehingga semua mahasiswanya  sudah dapat memahaminya dalam waktu satu jam? Bagaimana kalau ada mahasiswa yang merasa tidak perlu tahu terlalu banyak tentang satu bab karena dia sudah sangat paham bab itu, dan ingin segera melanjutkan ke bab lainnya? 

 

Semua kemungkinan itu tentu tidak bisa hidup sejahtera dalam sebuah sistem pembelajaran yang sangat kaku seperti yang diungkapkan di kalimat pertama posting ini.

 

Maka para ahli pendidikan di jaman modern ini merayap mencari model pembelajaran baru. Ketemulah apa yang dinamakan Personalized Learning, yang saya artikan dengan “belajar sak karepe dewe (belajar semaunya sendiri)”. Ini bukan belajar yang berkonotasi negatif semau gue, tapi pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan pribadi dan gaya belajar pribadi yang tidak harus sangat patuh pada berbagai batasan waktu atau ruang. 

 

Mau bukti? Beberapa minggu yang lalu saya mendaftar ke sebuah online course dari sebuah kampus di Amerika. Coursenya adalah tentang bagaimana mengelola blended learning (belajar kombinasi). Modul-modul di course itu disajikan lewat beberapa video klip dari kedua dosennya yang berceramah panjang lebar tentang konsep-konsep utama blended learning. Video klip pertama sampai keempat saya ikuti dengan tekun; tapi begitu video klip kelima disajikan saya langsung lompat ke video yang ketujuh dan berikutnya. Kenapa? Ya karena saya tidak merasa perlu materi di video klip kelima dan keenam itu. Tujuan saya adalah untuk tahu intisarinya, sementara video klip kelima dan keenam berbicara tentang sekolah-sekolah yang menerapkan blended learning. Saya gak butuh itu, maka dengan enaknya saya lompat ke materi berikutnya. Jebreet!

 

Lebih gila lagi, ketika saya lupa beberapa konsep awal, maka saya balik lagi tuh ke video klip kesatu dan kedua, dan saya putar lagi. Kedua dosen itu pun nyerocos lagi tentang konsep-konsep awal blended learning, dan saya dengarkan dengan cermat sambil manggut-manggut, “Oo, ngono to, pak? Yo yo yo, paham aku saiki”. Jebreet!

 

Apa sulitnya loncat kesana kemari dalam sebuah ruang kelas virtual dimana semua kuliah ceramah sudah disajikan dalam bentuk rekaman video klip dan bisa diakses dari negeri manapun? Wenaaak! Sak karepe dewe tho?

 

Contoh lain: dua minggu yang lalu saya nekad mencoba mengajar secara online di kelas Language Testing. Yang jadi “korbannya” adalah mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2011. Semua materi saya upload di coursesite, lalu semua mahasiswa saya minta siap dengan laptopnya dan secara berkelompok  mengakses materi itu lewat laptop. Mereka di kelas dan mungkin lesehan di selasar Bhakti Persada lt 2, saya di kantor saya di lantai 1. Pertama saya suruh mereka membaca materi utama selama 15 menit, lalu saya arahkan ke ruang Discussions di coursesite, dan disanalah terjadi tanya jawab dan dialog antara saya dengan mahasiswa-mahasiswa itu, dan antara mereka sendiri. 

 

Di akhir sesi, terbentuklah suatu dokumen panjang yang memuat dialog kami, mulai dari tanya jawab saya soal materi sampai komentar-komentar dan tanggapan dari mereka dan antara mereka sendiri. Saya lakukan analisis singkat di dokumen itu, dan saya sampai pada kesimpulan bahwa semua kelompok itu menunjukkan penguasaan atas poin-poin yang selaras dengan materi utama tadi.

 

Jadi, siapa bilang belajar harus selalu di kelas dengan batasan empat sisi tembok/hardboard, dan guru di depan kelas? Eksperimen saya yang sederhana itu menunjukkan bahwa pembelajaran bisa terjadi bahkan ketika guru tidak hadir di kelas, dan ketika mahasiswa dengan aktif membaca materi, berdiskusi, bertanya jawab dengan sang guru, dan saling berkomentar  antar mereka sendiri. 

 

Bagaimana kalau ada mahasiswa yang tidak masuk kemudian ingin menangkap materi pelajaran pada hari itu? Ya dia tinggal masuk ke situs itu, lalu mengakses dokumen panjang yang berisi percikan-percikan penting pembelajaran tadi. Coba kalau pembelajaran itu tadi berlangsung di kelas konvensional seperti biasanya, tidak bakal si mahasiswa itu bisa mengakses semua materi dan kegiatan pelajaran. Sama halnya dengan kalau ada seorang mahasiswa yang merasa materi itu sudah dia kuasai. Dia ndak usah ikut di sesi itu; paling dia hanya mengakses hasilnya yang sudah direkam dengan baik oleh situs itu, membacanya sekilas, kemudian bersiap-siap untuk materi selanjutnya. Namanya juga belajar “sak kareppe dewe” kok, jadi sah-sah saja bukan?

 

Di kelas maharu yang saya ajar ada satu mahasiswa yang sudah sangat pintar, jauh melebihi kemampuan teman-teman sekelasnya. Ah, coba di negeri ini sudah ada skema “belajar sak kareppe dewe” itu maka dia bisa loncat ke kelas yang menyajikan materi belajar lebih rumit sesuai kemampuannya.

 

Demikianlah sekilas tentang belajar sak kareppe dewe. Dunia sedang berubah makin cepat. Kalau langkah kita masih urut satu persatu dengan batasan ruang dan waktu, wah lha keburu kabur makin jauh masa depannya. 

 

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized