Nostalgia Studi di Wellington, New Zealand, 1992

Posted on December 3, 2013

3


 

Kenangan sebagai mahasiswa selalu menyenangkan, apalagi kalau itu di negara orang lain. Yang saya ceritakan di posting kali ini adalah nostalgia menjadi mahasiswa DipTESL (Diploma in Teaching English as a Second Language) di Victoria University of Wellington, New Zealand, pada tahun 1992. Semuanya adalah kehidupan luar kampus, yang tentu saja lebih berwarna-warni daripada perkuliahan di kelas.

 

 

Ini saya berpose di depan Botanical  Garden, sebuah taman penuh bunga yang sedang mekar dengan aneka warna yang sungguh sedap dipandang. Waktu saya kesana, bunga tulip dan mawarnya sedang merekah. Bagus sekali. Saya yang bukan pemerhati tanaman aja bisa betah disitu. Tapi apa sih yang tidak membuat betah berlama-lama di negeri yang serba resik ini? Taman terawat, tidak ada sampah berserakan, udara bersih dan segar, tidak ada orang berjubel-jubel. Nyaman sekali. 

 

Image

Tepat sebelum Botanical Garden ada sebuah hamparan rumput yang luas dengan kontur agak berbukit. Disitu saya pernah sehabis kuliah pergi bersama beberapa teman untuk bersantai menghirup udara segar. Salah satu dari teman itu  adalah mantan dosen saya di IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang), seorang dosen wanita yang dalam masa kuliah itu menjadi teman sekelas saya. Kami duduk-duduk bahkan leyeh-leyeh dan klekaran (basa Jawa, artinya: berbaring santai) di rumput sambil ngobrol ngalor ngidul. Ndak mbayangkan, beberapa tahun sebelum itu saya adalah mahasiswanya ibu itu, duduk dengan patuh dan sopan mendengarkan kuliah Grammarnya, lha kok sekian tahun kemudian kami klekaran bareng di rerumputan di Wellington, ha ha ha! Kalau ada seorang mahasiswi  saya membaca blog ini, jangan-jangan dia akan mengalami nasib yang sama: sekian tahun kemudian entah dimana dan kapan, dia bisa klekaran di rumput-rumput di sebuah kampus bersama saya mantan dosennya yang menjadi teman sekelasnya. Biyuh.

 

 

Pada waktu liburan panjang, saya dan beberapa teman naik mobil sewaan ke Gunung Ruapehu. Karena saat itu musim dingin, gunung itu akan berselimutkan salju, dan kami, orang-orang Asia, pasti akan sangat senang bisa melihat salju pertama kalinya. Ini gambar saya di depan mobil sewaan itu.

Image

 

 

Mobilnya keren pada jaman itu (1992), Toyota, dengan persneling otomatis. Saya menjadi sopir untuk keempat teman saya yang lain. Di tengah jalan, saya mulai merasa capek dan teman saya dari Makassar menggantikan saya menyetir. Karena gaya nyetirnya beda jauh dengan saya yang kalem, akhirnya mobil kami itu menyerempet sebuah mobil lain yang ditumpangi oleh beberapa orang New Zealand. Untung si pemilik mobil itu tidak memperkarakan tabrakan itu, sekalipun sempat marah-marah kepada kami. Perjalanan pun dilanjutkan. Eh, ternyata mobil si Kiwi  ( orang New Zealand bule disebut “Kiwi”,atau Pakeha dalam bahasa Maori) itu masih menguntit aja di belakang. Wah, kami deg-degan, jangan-jangan mau dibunuh kami ini. Mobil saya belokkan ke sebuah pom bensin, dan eh, si Kiwi juga ikut masuk ke situ! Setelah turun, eh, ngglethek ae, ternyata si Kiwi itu menawarkan layanan asuransi! Bwa ha haa! Saya masih ingatkata-katanya sampai sekarang: “Aku lihat kalian ini dari Asia ya? Di Asia mungkin belum banyak asuransi, tapi kalau disini semua sudah ikut asuransi dan bla bla blaaa…”. Ha ha ha! Kirain mau dibunuh ternyata hanya ditawari asuransi!

 

Perjalanan ke Gunung Ruapehu itu akhirnya berujung menyenangkan karena setelah berjam-jam mengemudi, akhirnya sampai juga kami ke gunung sialan itu. Kami langsung turun dari mobil dan setengah histeris meraup salju yang memenuhi dataran sejauh mata memandang itu. “O alah, lee, lee, dasar wong kamso ora tau ndelok salju” (o alah, nak, nak. Dasar orang kampung ndak pernah melihat salju). Ini foto saya di gunung bersalju tersebut. Masih ada adegan yang lebih heboh waktu saya dan teman-teman meluncur dari atas bukit bersalju dengan kantong plastik besar dan gulung koming sampai di bawah, tapi sayang foto-fotonya entah kemana itu.

 

Image

 

Nah, ini foto kami dalam perjalanan pulang, bersantai sejenak  di sebuah area istirahat. 

 

Image

Teman-teman Kiwi kami baik-baik. Beberapa kali mereka mengajak saya dan teman-teman Asia lain untuk pergi liburan ke daerah pegunungan, ke danau naik kayak, dan ini adalah salah satu tempat yang saya kunjungi: Bowling Center, di daerah pinggir kota Wellington. Itu adalah kali pertama saya memakai sepatu bowling kemudian main bowling. Yang lucu adalah teman saya, seorang cewek Kiwi, yang kaku sekali gaya mainnya. Beberapa kali bola yang digelindingkannya lepas begitu saja dan bola mak glodak menghajar pinggiran trek bowlingnya. Yang melihat tertawa terpingkal-pingkal. Sekian kali dia mencoba, sekian kali pula mak glodak seperti itu. Mukanya sampai merah padam. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengajarinya: “Ni gini lho. Kamu ayunkan tanganmu ke belakang, kemudian gelindingkan seperti ini, jangan dilepas sebelum tanganmu sampai ke depan lutut”. Sekali lagi saya dengar bisikan almarhumah nenek saya dari surga: “O alah lee, lee, wong kamso ae kok kathik ngajari londo baraaang” (o alah, nak, nak, orang kamu itu orang kampung kok ya sok gaya ngajari cewek bule). Teman saya itu mengatakan: “Ok, I’ll do it Patris way then, ha haha!”

Image

 

Pada satu kesempatan, kami dari Indonesia mengundang teman-teman Kiwi untuk menikmati makanan khas Indonesia. Maka sibuklah saya dan teman-teman Indonesia lain berbelanja kemudian memasak bersama-sama. Nah, ini adalah foto saya bersama mantan dosen yang tadi saya ceritakan klekaran bareng di taman itu. Ini ceritanya kami sedang membeli bahan-bahan untuk membuat es teler:

Image

 

Kami berkutat agak lama memasak makanan Indonesia. Kalau ndak salah kami bikin sate, kemudian ada sayur-sayuran dan es teler sebagai desertnya. Nah, ini foto kami sebelum acara makan bersama di suatu Sabtu siang yang sangat menyenangkan itu.

 

Image

 

Fakultas saya di Universitas Ma Chung tahun depan kemungkinan akan menerima kunjungan mahasiswa-mahasiswa asing. Negeri, atau lebih tepatnya kota saya, tidak sebersih dan sesegar Wellington, tapi saya berharap kami bisa memberikan kepada mereka kenangan yang akan mereka bawa sampai berpuluh-puluh tahun kemudian, sebagaimana saya mengungkapkan kenangan di Wellington dua puluh satu tahun yang lalu.

 

 

Posted in: Uncategorized