Momen Ujian Skripsi, Tesis dan Disertasi

Posted on November 28, 2013

9


Momen ujian skripsi atau tesis atau disertasi selalu epic: tak kan pernah terlupa. Saya masih ingat betul momen-momen itu ketika masih di bangku S1, S2 dan S3 berabad-abad silam. Sekarang setelah makin sering menguji skripsi atau tesis mahasiswa, saya ingat kembali momen-momen bersejarah dalam kehidupan seorang mahasiswa itu.  

 

Skripsi S1 saya adalah tentang perbedaan murid yang menggunakan glossary dan mereka yang membaca tanpa glossary. Sepanjang satu semester saya berkutat sendirian. Ayah saya, yang juga dosen, diam saja tidak membantu atau bertanya setitik pun. Itu memang kami maui. Kami bukan keluarga penganut kolusi dan nepotisme: sekalipun  ayah saya punya kapasitas membantu saya atau setidaknya membisikkan tips-tips supaya putranya lulus, tak sepatah katapun ia ucapkan tentang skripsi saya. Saya pun juga acuh bei beh, berkutat sendirian. Namun, pada malam sebelum ujian skripsi, ayah saya meminta saya menunjukkan naskah skripsi saya. Beliau hanya memerlukan kurang dari dua menit untuk sampai pada bab 3 (yang membahas metodologi), dan  bertanya: “kok eksperimennya hanya satu sesi?”. Lalu dengan santainya dia tutup  naskah itu dan melanjutkan nonton TV lagi, seolah-olah mengatakan: “That’s your problem. Embuh wis”.

 

Saya terkesima. Pertanyaan itu tidak bisa saya jawab. Iya, ya, kenapa bikin experimental design kok percobaannya hanya satu kali? Wah, goblook! Tapi saya ndak mungkin merubahnya, lha wong besoknya sudah ujian kok. Jadilah saya maju dengan desain yang agak cacat itu. Entah para penguji dan pembimbing saya kelewatan atau bagaimana, ternyata kesalahan yang dideteksi oleh ayah saya itu tidak muncul di ujian. Saya lulus dengan nilai sangat memuaskan, dan lanjut ke wisuda dengan mulus. Namun, peristiwa naskah skripsi saya dikomentari mematikan oleh ayah saya itu tetap membekas, bahkan sampai sekarang ketika saya sudah menjadi dosen yang sarat dengan pengalaman dan wawasan. Setiap kali membaca naskah skripsi atau mereview naskah jurnal yang menggunakan desain eksperimental, saya langsung mencermati durasi eksperimennya untuk melihat apakah jangka waktu tersebut cukup substansial untuk membuat satu perubahan dalam variabel terikatnya. Nah, trauma rupanya tidak selalu berdampak buruk, ha ha . . .

 

Setelah lulus S1, saya langsung lanjut ke S2. Di S2, tesis saya berbicara tentang perbedaan antara strategi membaca mahasiswa yang pintar dan mereka yang kurang pintar. Tesis saya itu terkesan canggih pada jaman (tahun 1994) itu karena saya lengkapi dengan chart yang bisa menggambarkan perbedaan antara kedua kelompok mahasiswa itu dari segi kualitas dan frekuensi strateginya. Ketika ujian, saya dikeroyok 5 dosen penguji, 2 diantaranya pembimbing. Semua pertanyaan para penguji, bahkan yang dianggap paling killer pun, saya tangkis dengan relatif mudah. Sampailah pada seorang ibu, yang dengan lembut melontarkan pertanyaan mematikan: “kalau menilik uraian Anda sejauh ini, kok saya tidak melihat perbedaan yang kongkrit ya antara mereka yang pintar dan yang tidak? Coba jelaskan, dimana letak bedanya?”

 

Saya terdiam, menatap nanar lembar-lembar tesis saya, dan membatin: “Lhoo??? Kok aku ndak iso njawab ngene?? Dimana bedanya? Haduuh!!”

Jadilah saya diam saja dengan lidah kelu tidak mampu menjawab pertanyaan ibu dosen tersebut. Jiambu! Mati kutu aku! 

 

Akhirnya ujian selesai. Saya dipersilakan keluar menunggu dewan penguji berunding. Sementara menunggu di luar, saya masih kamitenggengen (basa Jawa, artinya “terkaget2”; bahasa Maduranya: “stunned”). Pintu terbuka. Ternyata ibu dosen tadi. Dia mendekati saya dan mengulurkan piring snacknya: “ini, makan. Kamu pasti haus dan capek”. Saya tidak tahu apakah ucapan itu sindiran untuk saya yang mati kutu tidak bisa menjawab pertanyaannya, atau karena memang dia jatuh kasihan sama saya, ha ha haa!

 

Saya mendapat nlai A minus untuk tesis tersebut. Saya legawa menerimanya, karena memang saya akui sekalipun secara umum bagus, tesis itu masih mengandung kelemahan, yang diantaranya membuat saya mati kutu tidak bisa menjawab tadi itu.

 

Selepas S2, saya langsung lanjut ke S3. Kepalang tanggung wis, sekalian aja diselesaikan sekolah sialan ini, ya to? Disertasi saya berbicara tentang strategi belajar dan gaya belajar siswa yang introvert dan ekstrovert. Tahap ujian kualifikasi dan pra-promosi saya lalui dengan lancar, sampailah akhirnya ke promosi Doktor (ini adalah semacam ujian terbuka yang dihadiri oleh mahasiswa dan dosen2 lain, plus sanak saudara dan keluarga saya). Berminggu-minggu sebelum ujian gila itu (mau ndak gila gimana, wong diuji kok dipertontonkan di depan orang banyak, ya to?) saya menyiapkan satu buku khusus untuk mensimulasi semua jenis pertanyaan yang bakal dilontarkan dewan penguji, plus jawaban yang saya pikirkan. Buku kecil itu langsung penuh oleh coretan-coretan saya. Semua kemungkinan pertanyaan saya tulis, kemudian saya pikirkan jawabannya, dan saya tulis jawabannya di bawah pertanyaan itu. Whew! Canggih, man! Sampai sariawan saya tumbuh 3 biji di mulut gara-gara persiapan maksimal itu. Begitulah, saya tidak kepalang tanggung menyiapkan diri untuk menangkis serangan pertanyaan dari dewan penguji.

 

Ketika akhirnya forum tanya jawab dengan dewan penguji mulai, dengan sangat percaya diri saya menjawab semuanya. Ternyata pertanyaan – pertanyaan para dosen juga tidak sampai seberat yang saya simulasikan di buku kecil itu. Seorang profesor senior (yang sekarang menjadi kolega saya di Universitas Ma Chung dan merupakan profesor sangat senior disitu) malah melontarkan pertanyaan lucu yang membuat hadirin tertawa: “anda ini introvert atau ekstrovert? Kalau ayah Anda gimana? kalau Ibu Anda gimana? Paman Anda gimana?” semua orang langsung ketawa sementara saya mesam-mesem setengah jaim setengahnya ya geli. Tapi kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Tibalah pada giliran dosen saya yang dikenal jago penelitian. Dia melontarkan pertanyaan yang langsung membuat saya  skak mat: “apa artinya ini p sama dengan nol koma nol nol nol lima?”. Nah, sejarah di S2 terulang kembali: saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Tentu saja saya bisa menjawab ngawur, tapi saya bukan begituan lah. Kalau memang tidak tahu, ya saya akan diam saja (teman saya yang ujian beberapa bulan sesudah saya malah lebih gila lagi. Ketika ditanya, dan tidak bisa menjawab, dengan entengnya dia mengatakan: “Pass!”. Gendeng, ujian disertasi dianggap kayak kuis ndek TV ae rek). 

 

Begitulah. Ujian disertasi di depan orang banyak itu berakhir dengan hanya satu pertanyaan yang saya tidak bisa menjawab. Saya tetap lulus dengan nilai gemilang, dan berhak menyandang gelar Doktor yang pada saat itu terasa sangat istimewa, sebagian karena usia saya masih 31 tahun saat itu. 

 

Saya sudah sangat jarang menghadapi forum ujian seperti itu. Terakhir mengalaminya adalah ketika memaparkan proposal penelitian Hibah Bersaing di depan para reviewer beberapa bulan yang lalu, dan itu pun sangat ringan, tidak ada apa-apanya dibandingkan momen-momen menegangkan di ujian S2 dan S3 saya. Sekarang saya lebih banyak menguji skripsi, dan kenangan akan momen-momen menegangkan dan mengesankan itu kadang masih berkelebat di benak saya ketika mendengarkan uraian dari mahasiswa-mahasiswa saya di ruang ujian. 

Image

 

Posted in: Uncategorized