Menjadi Profesor

Posted on November 27, 2013

0


Menjadi atau tidak menjadi profesor, saya kira tugas seorang dosen sudah jelas: Tri Dharma. Itu artinya mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat. Bahwa seseorang diganjar gelar profesor karena hasil karyanya di ketiga bidang itu menumpuk-numpuk sampai buanyak, ya sudah layak dan sepantasnya. Tapi sebenarnya percayalah, bukan itu yang utama. Ya, saya sadar juga sih, di negeri dimana gelar itu bisa menjadi status simbol tersendiri, tidak mudah meruntuhkan pandangan ini. Sebagian orang bahkan rela menjual martabat untuk memperoleh gelar ini; sebagian lagi bekerja keras dengan halal untuk mencapai gelar itu.

 

Seseorang baru bisa diakui sebagai profesor kalau dia berhasil mengumpulkan poin sampai sekitar 980 poin. Nah, jadi kayak main game itu lho; semakin banyak poin yang Anda peroleh ketika bisa menembak musuh atau memakan pacman, semakin tinggi poin Anda. Profesor ya gitu. Maka jangan heran kalau profesor yang Anda kenal di Ma Chung itu (yang konon baru satu) sudah mulai main “game” itu sejak th 2000. Satu demi satu dia kumpulkan: paper ilmiah, terbitan di jurnal-jurnal, memberi ceramah ke masyarakat luar kampus, mengajar sampai ke Widya Mandala, (padahal rumahnya di Malang), meneliti keluar masuk SD pinggiran. Tahun demi tahun poinnya makin banyak, sampai akhirnya ndak kamot lagi di otaknya dan didaftarkanlah semua poin itu ke Dikti tahun 2009. Tahun 2010 dia pun diberi gelar profesor. Itu berarti dia memerlukan waktu 10 tahun untuk meraih gelar itu! Biyuuh!

 

Setelah jadi profesor, apa terus ongkang-ongkang? Ya endak! Tambah gila tuntutannya. Karena profesor menerima tunjangan yang jumlah nominalnya tidak kecil dari pemerintah, sudah wajar pemerintah juga menuntut kinerja yang bagus darinya. Sebagai profesor, saya wajib menulis dan menerbitkan buku dalam kurun waktu 3 tahun. Artinya, tahun 2016 buku saya harus terbit, minimal satu judul. Kedua, dia harus meneliti. Saben tahun harus meneliti. Jadi jangan heran kalau saya sibuk memikirkan penelitian di kantor, dan tidak sempat lagi mengulik blog saya ini. Kedua, harus menyebarkan karya ilmiah berupa presentasi ke berbagai forum ilmiah, atau  ke jurnal nasional dan jurnal internasional. Maka kalau Anda tahu-tahu mendapati foto saya di fesbuk dalam pose membosankan, yaitu sedang menyajikan paper di suatu tempat di dunia ini, ya itulah yang saya lakukan demi memenuhi tuntutan kinerja itu.

 

Yang paling seru dan membuat miris adalah menerbitkan artikel di jurnal terakreditasi. Jurnal ilmiah bereputasi internasional mempunyai kriteria seleksi yang sangat ketat. Saya mengerahkan upaya yang lebih gila untuk menembusnya daripada ketika saya mencari jodoh. Lho ojok ngguyu a! Sungguh. Lha masak, saya mengirimkan artikel  saya  ke sebuah jurnal di Singapore sekitar Agustus tahun 2012, dan baru sebulan yang lalu November tahun 2013 saya mendapat notifikasi dari redaksinya bahwa naskah saya bisa dimuat, itupun dengan syarat revisi disana-sini. “Ini definisinya kurang; ini gak nyambung; ini kok tahu-tahu ngomong seperti ini, apa kaitannya dengan judul?”.  Luar biasa cermatnya editor jurnal ini; masak referensi aja dicek dan ditanyakan: “Ini elu mbikin referensi ke dua buku, tapi kok yang muncul di naskah elo hanya 1? Mana yang benar ini?”. Jiambu! Terpaksalah saya menelusuri dengan agak susah payah referensi tersebut sampai ke akar-akarnya di amazon sana. Setelah saya dapat dan saya kirim lagi, jawabannya singkat: “Ok, kamsia ya. Silakan tunggu”.

 

Begitulah. Jangan dikira menjadi seorang profesor itu enak. Perlu kerja keras dan kepekaan menangkap fenomena praksis sehari-hari untuk diangkat dan dijadikan paper atau bahkan diteliti. Ya, tapi ya wajarlah, soalnya tunjangannya setiap setengah tahun sekali cukup lah membuat  tersenyum. Lumayan untuk ongkos ke tukang cukur merapikan rambut yang sebentar lagi sudah gundul akibat mikir yang enggak-enggak, eh, maksud saya, memikir yang berat-berat. 

 

Tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa menjadi profesor, baik dalam persiapan maupun sesudahnya, memerlukan corak kepribadian tertentu. Saya niscaya tidak akan menjadi profesor kalau saya seorang yang sangat impulsif, tidak betah merenung dan diam menulis, lebih suka berkoar-koar membacotkan slogan-slogan muluk. By design, a professor is a thinker, and a thinker speaks louder through his writing rather than through his mouth.

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized