Menanamkan Karakter Jujur

Posted on November 21, 2013

4


Karena sudah mulai capek hanya berbicara di rapat-rapat tentang pendidikan karakter, saya mulai melangkah sedikit lebih jauh dengan mencobakan apa yang saya yakini benar dalam pembelajaran di kelas. Saya ambil karakter jujur sebagai tujuan utama tindakan ini. Bagaimana menanamkan, atau setidaknya membuat mahasiswa sadar tentang, karakter jujur ini?

 

Mahasiswa itu takut sekali sama yang namanya nilai. Apapun mereka lakukan supaya nilainya baik. Mahasiswa yang semula brutal dan malas pasti akan langsung tunduk dan sedikit rajin kalau diancam dengan kalimat: “kalau begini terus, nilaimu hancur!” 

 

Nah, tapi justru pada puncak momok itulah saya tabrakkan penanaman karakter jujur. Sudah beberapa kali di kelas saya, saya memberikan tes kecil (di Universitas Ma Chung disebut “Kuis Kecil”, maklum dulu yang mbaurekso suka nonton ANTV yang senengannya kuis-kuis berhadiah) kemudian dengan sengaja mengatakan ungkapan ini :

“Ok, sekarang kita akan membahas jawaban yang benar. Anda periksa sendiri jawaban masing-masing. Coret yang salah. Jujurlah pada diri sendiri, jangan menipu. Kalaupun Anda mau menipu, yang Anda tipu adalah nurani dirimu sendiri, bukan dosenmu!”

 

Mereka nampak sedikit terhenyak. Tapi dengan patuh mereka laksanakan perintah aneh itu. Jadilah mereka memeriksa sendiri jawabannya. Kalau ada yang salah, mereka  harus coret jawaban itu. 

 

Selesai kelas, saya periksa jawaban mereka. Cukup mengagumkan. Mereka jujur sekali. Kalau dari sepuluh soal salahnya tujuh, ya mereka coret tujuh-tujuhnya. Kalau hanya salah satu, ya mereka coret satu. Nampaknya tidak ada upaya menTipEx atau mengurek-urek jawaban salah yang kemudian dibenarkan. Ya ndak tahu lagi kalau mereka sudah memakai teknologi penyamaran kecurangan yang lebih canggih, tapi sejauh yang saya pandang, tidak ada upaya curang seperti itu.

 

Pernah dengar ide Kantin Kejujuran yang dicetuskan beberapa tahun lalu oleh beberapa sekolah? Nah, di lingkup kuliah, prinsip yang sama ternyata bisa saya terapkan. Baguslah kalau mahasiswa  Universitas Ma Chung masih memegang teguh karakter jujur ini, dan malu atau merasa sangat bersalah kalau harus menipu dirinya sendiri untuk mendapatkan sepotong nilai baik yang haram.

 

Nah, itu baru satu. Masih ada beberapa nilai yang harus saya pikirkan pengejawantahannya di perkuliahan: gotong royong, kepeloporan, moralitas, religiusitas. Wadaw, mulia dan luas sekali ya? Tapi ndak papa. Ayo majuo, aku hajar satu persatu dengan bekal otak kananku dan nafsu untuk memulai pendidikan karakter pada tataran praktis. 

 

 

 

Posted in: Uncategorized