Pendidikan Karakter

Posted on November 16, 2013

2


Pendidikan Karakter

Pendidikan Karakter itu mengasumsikan bahwa setiap dosen atau staf yang mengembangkan karakter sudah mampu dan mau melakukan karakter baik yang mereka ingin tanamkan ke anak didiknya. Lebih penting lagi adalah bahwa mereka sendiri juga mempunyai karakter unggulan yang pantas diteladani. Pertanyaannya: sudahkah mereka?

Pendidikan karakter, utamanya pada level perguruan tinggi, juga mengasumsikan bahwa karakter orang-orang muda yang berusia 20 an tahun masih bisa dibentuk, ditempa, dan diperbaiki. Pertanyaannya: betulkah seperti itu? Saya masih yakin bahwa sekalipun karakter sudah terbentuk sejak usia anak2, karakter mahasiswa masih bisa dibentuk dan diperbaiki.

Pendidikan karakter punya satu syarat atau hukum besi yang tidak bisa ditawar-tawar: harus berkelanjutan, terus menerus. Anda tidak bisa menggelar 1 atau 2 program pengembangan karakter selama 2 atau 3 hari kemudian mengklaim bahwa karakter mahasiswa sudah bagus setelah program itu selesai. Itu juga yang membuat saya sangat yakin bahwa pendidikan karakter harus diintegrasikan dengan kegiatan perkuliahan sehari-hari karena disitulah mahasiswa dihadapkan pada situasi yang menguji karakternya: berinteraksi dengan teman dan dosennya, berjuang memerangi rasa malas atau bosan, pantang menyerah menghadapi nilai buruk, memahami tingkah polah orang lain, dan sejenisnya. Tadi sekilas terpikir oleh saya satu tindakan sederhana untuk mengasah karakter jujur: meminta mahasiswa memeriksa hasil ujiannya sendiri. Masih banyak yang bisa saya olah dalam benak saya, tapi untuk sementara satu itu dulu.

Pendidikan karakter, kalau itu diklaim sebagai pendekatan untuk semua mahasiswa, juga sebaiknya diarahkan ke semua mahasiswa tanpa kecuali. Bahwa ada program-program yang kegiatannya bagus tapi ternyata hanya diikuti oleh sekian persen mahasiswa saja belum merupakan dasar yang kuat untuk mengklaim bahwa pendidikan karakter sudah berjalan bagus.

Itu saja dulu percikan-percikan pikiran saya tentang pendidikan karakter. Semua yang saya paparkan memerlukan kemauan pengelola universitas, termasuk segenap dosennya, untuk melakukan pendekatan yang menyeluruh, kompak, dan berkelanjutan, lengkap dengan konsekuensinya (perhatian yang meningkat terhadap aspek afektif, bukan hanya sekedar kognitif; sistem insentif yang memadai; ketegasan akan sanksi).

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized