Kelas Inspirasi

Posted on November 12, 2013

2


Entah bisikan surga apa yang menggiring saya untuk keluar dari comfort zone mengikuti gerakan Kelas Inspirasi. Kelas Inspirasi adalah cabang  dari gerakan Indonesia Mengajar yang digagas oleh Bapak Anies Baswedan, yang bertujuan untuk menyumbangkan pendidikan secara sukarela kepada tunas muda Indonesia, terutama mereka yang jauh dari sentuhan modern dan fasilitas serba berlimpah. Ini wadah yang tepat untuk para profesional, termasuk dosen seperti saya, untuk melakukan pengabdian pada masyarakat. Kelas Inspirasi (KI) dimulai dengan perekrutan para profesional melalui Twitter dan Facebook. Karena rajin twitteran, saya menemukan undangan ini dan langsung mendaftar. Dari sekitar 297 profesional, terpilih sekitar 100 orang untuk menjadi sukarelawan KI. Saya termasuk salah satu yang dipilih, dan jadilah saya mengikuti rangkaian kegiatannya. Yang pertama adalah kegiatan pengarahan yang diadakan di Universitas Gajayana pada suatu Sabtu di penghujung Oktober.  Acara itu penuh dengan para profesional dan kaum muda dari berbagai suku, ras, dan agama yang disatukan oleh tekad menyumbangkan sesuatu kepada generasi muda Indonesia.  Semangatnya ibarat sekam-sekam gairah meledak-ledak, mulai dari yel-yel, ceramah yang berapi-api, sampai pada grup di Facebook dan Twitter yang tak kalah bergelora.

Image

Image

Ibu ini dipanggil Eyang Wiwik. Beliau sudah berusia 70 tahun lebih tapi semangatnya masih berkobar-kobar untuk memajukan generasi muda Indonesia lewat pendidikan. Di sesi ini, dia sharing tentang pengalaman dan wawasannya dalam mendidik anak.

Image

Foto di atas ini adalah salah seorang figur penting dalam gerakan Kelas Inspirasi Malang, Namanya Ibu Julia. Melihat penampilannya, tahu kan maksud saya ketika menulis “kaum muda dari berbagai suku, ras,  dan agama” di bagian atas sebelum ini? Ya, ini contoh hidupnya.  Tidak usah membaca saya berpanjang kata,  Anda pasti tahu apa maksud  “Indonesia bersatu padu memajukan generasi muda.”  Beliau dengan bersemangat membangkitkan perasaan cinta Tanah Air lewat kegiatan sukarela berbagai inspirasi untuk anak-anak SD. Salah satu ujarannya adalah: “Kita tahu betapa Indonesia dihujat dimana-mana, dikatakan yang kurang ini yang kurang itu lah. Kita buktikan dengan semangat pengabdian nyata bahwa masih ada segelintir orang yang sangat perduli terhadap pendidikan anak-anak bangsa.”

Lalu disusul dengan kegiatan nyata terjun ke beberapa SDN di wilayah Kota Malang. Saya kebagian berkiprah di SDN Tanjungrejo 4. Nah, ini adalah foto para profesional yang pada hari bersejarah 11 November 2013 itu bersama-sama saya membaktikan kiprah inspirasinya di SDN Tanjungrejo 4 itu.

Image

Di sebelah kiri saya adalah Ibu Anna, Kepala Sekolah SDN Tanjungrejo 4. Setelah berbincang sebentar,  ternyata saya baru tahu bahwa beliau adalah ibu dari dua orang kolega saya di Prodi Akuntansi Universitas Ma Chung.  Kolega yang satu itu populer bingit di Ma Chung karena hobi fotografi dan main gitarnya, dan karena istri beliau adalah juga kepala di bagian Direktorat Penjaminan Mutu.  Rupanya semangat mendidik ibu menurun ke putra putrinya. Ibu Anna mengisahkan perjuangannya mengembangkan SD tersebut, yang dulu sudah kelihatan menyedihkan karena tidak terurus, tidak ada dana, dan ditambah dengan sebagian besar murid yang berasal dari apa yang disebut “penampungan”.  Itu artinya banyak murid disana yang berasal dari keluarga yang broken home, atau dengan penghasilan yang hanya cukup untuk makan sehari dua hari. Untunglah kebijakan pendidikan di negeri ini sudah menggratiskan biaya sekolah SD negeri sampai SMP negeri.

Memang, ketika saya lihat data orang tua murid, saya mendapati sebagian besar dari mereka berasal dari kalangan ekonomi lemah. Ini profesi orang tua mereka: sopir taksi, tukang batu, tukang pijat keliling, penjual tahu, pembuat sapu, tukang cuci, dan sejenisnya. Bisa dibayangkan kan lingkungan sosial dan taraf ekenomi seperti apa keluarga-keluarga mereka?

Sebelum kelas mulai, ternyata ada upacara bendera. Ini fotonya. Mereka memakai baju pahlawan dan seragam tentara dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November kemarin. Eh, coba lihat sekolahnya. Sudah rapi dan bersih dan cukup kokoh. Enak ya sekolah dengan banyak pohon mangga di halaman sekolah? Mangganya udah mulai masak dan sedang bergelantungan mengundang selera. Tapi disitu tertulis peraturan: Dilarang Memegang Mangga.   Memegang ndak boleh, memetik boleh dong? Ha ha ha!

Image

Kami masuk kelas jam 8 lewat sedikit. Tugas kami adalah membimbing mereka dengan berbagai kegiatan yang sifatnya menginspirasi mereka untuk mencapai cita-citanya. Maka, saya pun memperkenalkan diri saya dan lembaga tempat saya bekerja. Nah, foto berikut ini menggambarkan perkenalan diri saya. Gambar itu buatan saya sendiri; gimana, cukup ancur atau cukup bagus?

Image

Saya: “Selamat pagi adik-adik! Kalian tahu saya punya pekerjaan apa?”

Mereka: “Dosen!”

Saya: “Lho! koK tahu?”

Seorang anak perempuan: “Dari tampangnya!”

Temannya: “Lha itu ada tulisannya”.

Saya baru sadar bahwa saya sejak tadi memakai plakat kecil yang saya kalungkan di leher dengan tulisan: “Patrisius. Dosen”.

1374719_10201434540958995_1275872746_n

Saya bagikan kertas satu persatu ke mereka, sambil saya minta mereka untuk menggambar apa yang mereka cita-citakan.  Maka mulailah mereka asyik dan sibuk menggambar.  Saya berkeliling dari satu meja ke meja lain membantu dan mendorong mereka, termasuk juga meminjamkan bolpen ke seorang anak yang menangis karena pensilnya diambil temannya.  Saya terkesan melihat ternyata anak-anak ini telah mempunyai banyak cita-cita menjadi orang berguna. Ada yang menggambar motor balap karena dia ingin jadi pembalap; ada yang menggambar seperti saya: guru dan papan tulis; ada yang menggambar alat suntik dan stetoskop nya dokter; ada yang menggambar dia sedang membacakan berita di sebuah stasiun TV yang dia beri nama “TV C”; banyak  yang menggambar tentara dengan seragam, baret, tank dan senapannya ; ada yang menggambar kotak-kotak doang. Saya tanya: “Kamu mau jadi apa?”. Dia jawab: “Arsitek, pak”. Rupanya kotak-kotak itu adalah gedung bertingkat.

Ini adalah foto-foto dari sesi menggambar itu:

Image

Image

Nah, ini yang paling unik. Gadis kecil kelas 4 ini ingin jadi atlet catur, maka dia pun menggambar papan catur. Dia bercerita bahwa dia pernah dicurangi lawannya. “Waktu itu saya ke kamar kecil dan sebelum kesana, saya sudah memakan Menterinya; eh, ternyata ketika saya balik, Menteri itu sudah ada lagi di papan. Lawan saya curang, tapi  saya harus sabar”.  Saya gemes melihat tampangnya yang menyiratkan kepolosan tapi juga tekad kuat untuk mencapai impiannya.

Setelah menggambar, saya minta mereka menuliskan apa yang harus mereka lakukan supaya cita-citanya tercapai. Ini bagian penting untuk menanamkan nilai jujur, mandiri, ulet, dan pantang menyerah. Bersahut-sahutan mereka menyebutkan jawabannya. Lalu saya minta mereka menuliskan jawabannya di kertas mereka.  Nah, ini salah satunya. Bagus kan? Rapi, dan dari bentuk tulisannya, kelihatan anak ini mantap sekali mau mencapai cita-citanya.

Image

Setelah sesi itu, saya panggil setiap kelompok cita-cita ke depan kelas, dan saya tunjukkan gambar mereka satu persatu kepada seluruh kelas. Setiap gambar disambut dengan celotehan dan tawa spontan teman-temannya. Setiap kelompok gambar saya akhiri dengan ucapan: “Mari kita doakan Daffa dan teman-temannya bisa mencapai cita-citanya menjadi tentara!”, yang kemudian disambut dengan seruan serempak “amiin!” dan tepuk  tangan dari seluruh kelas. Menyenangkan.

1458634_10201434542639037_1129176422_n

Masing-masing dari kami mengajar  3 sesi, masing-masing sesi 70 menit. Pertemuan diakhiri dengan beramai-ramai menempelkan gambar cita-citanya ke sebuah banner yang sudah disiapkan oleh koordinator lapangan kami, Mas Ibnu Hasan.  Itu  kemudian disusul dengan suguhan bakso dari Bu Anna yang dengan keramahannya menyediakan traktiran bagi kami para relawan.

Saya pulang jam 2 siang, kembali ke kantor untuk menyambut pekerjaan yang masih menunggu. Sepanjang jalan, terbayang wajah-wajah murid-murid SD itu: polos, penuh ingin tahu, sedikit malu-malu dan kadang-kadang jahil, namun apapun itu tak kuasa menyembunyikan secercah harapan akan masa depan yang lebih baik ketika mereka telah mencapai cita-citanya masing-masing.

Posted in: Uncategorized