English Camp 2013

Posted on November 11, 2013

0


 

English Camp (EC) 2013 diadakan di Gunung Tabor, Tumpang. EC sudah diadakan beberapa kali oleh mahasiswa-mahasiswa Sastra Inggris Universitas Ma Chung, tapi kali ini istimewa buat saya karena saya diundang langsung untuk menginap satu hari bersama para mahasiswa di area EC nya. Saya juga kurang paham kenapa hanya saya yang diundang. Biasanya sih hanya diminta sesi ceramah satu dua jam, lalu pulang.

 

Saya belum pernah ke Gunung Tabor. Wajar, saya bukan orang yang gemar kemana-mana, dan pekerjaan saya menuntut saya lebih banyak bekerja di depan kelas atau nguplek dewe di depan komputer. Dari jauh-jauh hari, mahasiswi saya yang jadi panitia sudah mengingatkan untuk membawa senter, obat2an, sleeping bag, obat nyamuk Autan, selimut, dan jaket. “Senter perlu karena nanti disana ndak ada listrik blas, Pak” katanya. Saya turuti semuanya kecuali sleeping bag. “Nanti kami bantu sewakan,” kata dia. Oke lah.

 

Berangkat hari Jumat jam 6 petang dari kampus bersama 2 orang  mahasiswa, Nicholas Santoso dan Kevin Benaya,  dan Mas Dwika yang staf administrasi Fakultas. Mobil Jazz nya meluncur tidak ngebut tapi pasti membawa ke lokasi EC. Suasana gelap menyambut di lokasi. Terdengar bunyi gemuruh generator yang rupanya dipasang untuk menghidupkan listrik. “Kami tidak mau ambil resiko ada yang jatuh karena gelap, Pak,” Dhita, seorang anggota panitia menjelaskan. “Jadi kami sewa genset untuk menyalakan lampu.”

 

Setelah melihat sendiri medan area itu, saya pikir gila juga kalau tidak ada listrik. Gunung Tabor itu sebuah bangunan yang penuh dengan anak tangga semen menjalar kemana-mana, termasuk ke area perkemahan. Ada beberapa jembatan menghubungkan sayap satu dengan lainnya. Di bawah jembatan ada sungai yang alirannya lumayan dengan suaranya yang cukup keras. Ada dua bangunan utama dengan kamar-kamar berdinding hardboard sampai sekitar 3 lantai. Area itu sendiri dikelilingi semak dan tanaman bambu menjulang, yang rupanya merupakan vegetasi alami di daerah tebing itu. Bisa dibayangkan, tanpa listrik sama sekali, menyusuri area itu pasti sama menegangkannya  dengan film-film horor yang pemainnya hanya bermodalkan lampu kamera.

 Image

 

 

Image

 

 

 

Gambar ini saya ambil esok paginya. Senang ya bisa tinggal di dekat daerah yang masih mesra dengan alam seperti itu. Sungai jernih di bawah, dan vegetasi liar melingkupinya, ditambah dengan hawa dingin. Sudah sering saya tulis bahwa semodern apapun manusia, selalu ada kerinduan untuk kembali ke alam seperti ini seperti Adam dan Hawa dulu di Taman Firdaus.

 

 

Saya sendiri disediakan kamar kecil di lantai 2. Kamar sekitar 3 kali 4 meteran itu berisi ranjang, rak dan cermin serta gantungan baju. Ketika berangkat saya masih yakin bisa tidur di tenda sama seperti para mahasiswa, tapi ketika paginya melihat lahan perkempingan itu, hmm, memang sebaiknya saya tidur di kamar saja sendirian, ha ha ha….

 

Image

 

 

Foto di atas juga saya ambil pagi harinya. Mahasiswa-mahasiswa  yang berkaos biru muda itu adalah anak-anak angkatan 2013.

 

Malam itu kegiatan diisi dengan makan malam, lalu sambutan dari saya selaku dosen, lalu persiapan untuk acara bakti sosial ke sebuah SD di dekat situ. Ini adalah suasana pengarahan malam itu:

 

Image

Kiri – kanan: Priscillia, Fike (ketua Panitia), Nathalie, dan Alvina.

 

Image

 

Kalau sudah dalam acara outdoor gini (out of class, maksudnya) anak-anak ini jadi lebih kompak. Mereka bisa saling bekerjasama antar angkatan. Yang senior berbaur dengan yang junior bersama-sama merancang sebuah kegiatan yang menyenangkan dan mencerdaskan anak-anak SD yang akan mereka ajar besok. Senang melihatnya.

 

Saya masuk kamar untuk tidur sekitar jam 10 malam. Udara yang tadi masih lumayan sejuk berubah menjadi dingin sekali. Saya ndak bawa selimut, jadi ya cukup lumayanlah berusaha tidur dengan jaket dan celana jeans jadi selimut. Langsung nyenyak, dan begitu terbangun kaget sekali karena kamar jadi gelap gulita. Genset sudah dipadamkan rupanya, dan seluruh area menjadi gelap pekat sampai terasa agak susah bernafas. Jam di BB menunjukkan tiga menit kurang 12 tengah malam. Wow. Hanya suara deru air sungai di bawah yang terdengar. Angin sesekali berhembus menggoyangkan tirai tipis di jendela. Anehnya tidak ada nyamuk, jadi Autan saya pun utuh. Nah, yang aneh adalah tahu-tahu ada kedip-kedip cahaya kecil di dekat jendela. Apa ini? Ya ampuun, terakhir kali saya melihat binatang itu adalah ketika saya masih SMP kelas 3! Kunang-kunang! Hewan itu seolah tahu ada orang kota agak kaget di kegelapan total, dan dia terbang kesana kemari di kamar saya itu seolah-olah mau menemani. Saya lihat aja kedip-kedip lampunya itu sampai akhirnya seperti terhipnotis dan akhirnya tertidur lagi….

 

 Jam setengah lima subuh suasana sudah mulai terang. Matahari bulan November memang terbit lebih awal karena sudutnya yang berubah terhadap garis katulistiwa. Saya langsung mandi dengan air nyaris sedingin es. Biasa aja lah, sehari-hari sejak belasan tahun yang lalu saya sudah biasa mandi air dingin.

 

Jam delapan kami berangkat ke SD Permata Hati. Saya ditawari naik mobil oleh panitia tapi saya ngotot mau jalan aja ke lokasi. Sekalian olahraga, saya juga tidak mau terlalu diistimewakan, dan toh dengan jalan kaki saya bisa menemani mahasiswa-mahasiswa saya yang juga berjalan kaki sekitar 800 an meter itu.

 

Kepala Sekolah SD Permata Hati menyambut saya dan kami berbincang-bincang sejenak. Didirikan 2 tahun yang lalu, SD ini dirancang sebagai sebuah SD inklusif yang kurikulumnya melayani Multiple Intelligences, demikian penjelasan Pak Amin, Kepala Sekolah tersebut. Baru ada 2 kelas, kelas 1 dan 2, dengan jumlah anak sekitar 36 an orang. Di kelas itulah mahasiswa-mahasiswi saya menerapkan praktek mengajar bahasa Inggris.

 

Ini foto-foto mereka.

 

Image

Amanda dan kawan-kawan mengajar adik-adik kelas 2 di SD Permata Hati.

 

Saya terkesan. Amanda yang memimpin sesi di kelas 2 itu sangat antusias dan kelihatan punya bakat tersendiri mengajar anak-anak kecil. Kombinasi nada dan vokalnya berkelindan dengan gerak tangan dan mimik wajahnya untuk membuat anak-anak itu memperhatikan dan menuruti instruksinya.

 

Di kelas yang lain, Chesya memimpin teman-temannya mengawal sesi belajar nama hewan. Kalau sudah begini, kelihatan siapa yang punya bakat menjadi guru. Chesya, mahasiswi 2013 ini, pasti salah satunya.

Image

 

 

Di kelas lain Gita memimpin game “Simon Says”. Anak-anak kelas 1 itu dibuatnya berlarian sambil tertawa-tawa dari satu kakak ke kakak lainnya yang memegang karton dengan warna yang bermacam-macam. Salut. Ndak mudah lho mengajar anak kecil. Harus punya segudang teknik untuk membuat mereka belajar dengan riang gembira. Saya yang sudah jadi dosen belasan tahun saja belajar teknik-teknik baru oleh mahasiswa-mahasiswi saya pagi itu. Memang beda sih. Saya spesialis pendidikan  Androgini (orang dewasa), dan mereka pada pagi itu menjadi praktisi PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) atau TEYL (Teaching English to Young Learners). Dari pengamatan itu saya bisa dapat ide untuk meluaskan topik skripsi mahasiswa dan memperluas layanan ELTISI nya Fakultas.

 

Pulang, masih dengan berjalan kaki ditemani Chesya, beriringan bersama belasan mahasiswa lain  kembali ke penginapan dan camping ground. Karena sudah jam 10.30 siang dan jalanan mendaki, lumayan juga tuh jalan balik ke Gunung Tabor. Mobil panitia sliweran dan setiap kali ditawari naik, saya hanya mengatakan: “Thanks; saya jalan aja!”. Lalu ada pick up menderu dari belakang dan waktu lewat sebagian mahasiswa ternyata menumpang di bak belakang sambil melambai-lambai. Yah, kok ya sempat-sempatnya nyegat pick up untuk numpang sampai ke Gunung Tabor.

 

 

Setelah makan siang, acara dilanjutkan dengan workshop dari Kaprodi, Bu Lilis. Temanya adalah Education and Community Service. Mahasiswa dibagi menjadi kelompok-kelompok dan mereka diminta merundingkan apa saja yang mereka mampu sumbangkan untuk pembangunan komunitas sosial di luar kampus. Saya dengarkan Kevin dan Steven yang datang ke saya minta advis. Mereka akhirnya punya ide membuat pelatihan kesegaran jasmani untuk anak-anak difabel.

 

Setelah workshop selesai, tibalah giliran Creative Arts Club di bawah pimpinan Dinal Nirvandy, mahasiswa 2013 juga. Kelompok yang saya bentuk sekitar sebulan yang lalu itu sudah  mampu menelurkan satu karya pentas musikal singkat. Nah, ini foto-fotonya:

 

 Image

 Tha masked leader of Creative Arts Club, Dinal, is poised to stage his act at the maiden show of Creative Arts Club.

 

Saya senang sekali kelompok ini segera bergerak mementaskan satu karyanya. Walaupun masih sederhana karena latihan juga hanya beberapa hari, saya harapkan itu menjadi momentum untuk perkembangan mereka selanjutnya.

 

 

Naah, ini foto saya di sungai di dekat balai tempat makan. Kaosnya keren, pemberian seorang lao shi, sayanya ndak tau keren apa endak, tapi yang jelas fotonya payah karena overxposed (terlalu banyak cahaya sehingga wajah saya putih kayak malaikat). Saya kapok menggunakan kamera di Tablet Samsung Galaxy 3 saya. Hampir semua foto yang saya ambil dengannya kabur karena tidak bisa menangkap gerakan cepat.

Image

 

Nah, tapi untuk yang satu ini kamera itu justru berdaya: ini foto mahasiswa saya, Aldi, yang orangnya kocak banget dan tingkahnya selalu disambut ketawa oleh teman-temannya dan saya. Disini dia memperagakan gerakan shuffle, dan kamera lemot itupun dengan pas menangkap dramatisnya gerakannya. Yah, semoga tidak kayak penampakan di Gunung Tabor, ha ha ha:

 

Image

 

 

English Camp 2013 akhirnya saya akhiri dengan pulang lebih awal bersama kedua dosen lain naik mobil Ma Chung kembali ke kampus. Banyak oleh-oleh buat saya sendiri, khususnya untuk pengembangan bakat mahasiswa, pengabdian masyarakat, dan teknik-teknik  mengajar. Posting ini adalah salah satu oleh-oleh itu.

 

Catatan: Terima kasih buat Nicholas Santoso yang mengantar saya ke sana, Fike sang ketua panitia, Dhita yang mengawal kemana-mana dan cekatan dari satu acara ke acara lain, Christian TanggaJaya, dan Nathalie Fransisca yang mengingatkan saya untuk mandi siang, bwa ha ha!

Posted in: Uncategorized