Obrolan Dua Dosen Ma Chung

Posted on November 2, 2013

0


Obrolan Dua Dosen Ma Chung

Sesi Study Skills hari Jumat kemarin saya ngobrol dengan seorang pembesar MaChung (disebut pembesar karena memang potongannya tinggi besar) tentang anak muda jaman sekarang. Ceritanya, waktu itu kami sedang mengawasi para mahasiswa angkatan 2013 membuat naskah drama bahasa Inggris yang saya tugaskan. Rekan ini bilang tadi di belakang ada cewek yang menggerutu: ‘apaan sih study skills kayak gini? Gak ada gunanya!’

Manusia muda memang begitu. Sangat spontan tapi juga dangkal. Kok ya tidak mau sedikit merenung bahwa setiap kegiatan yang dirancang di kampus selalu memberi bekal dan hikmah yang bisa dipetik untuk keutuhan akal budinya di masa depan. Tidak usahlah saya ceramah panjang lebar soal bekal itu. Saya hanya ingin ngerasani sikap kurang dewasa yang ditunjukkan oleh perempuan sialan tersebut.

Obrolan berlanjut ke susahnya mengendalikan kelas massal seperti siang itu. Bayangkan, sekitar 250 an mahasiswa dalam satu aula, jam 1 siang pula. Rekan saya bercerita bahwa pembicara sebelumnya menjadi marah di akhir ceramahnya dua minggu yang lalu karena para mahasiswa gaduh ngomong sendiri. Saya bilang, ‘ya memang ciri mahasiswa sekarang sudah berubah. Anak sekarang sulit sekali memusatkan perhatian pada satu penceramah tunggal selama berjam-jam. Jangankan satu jam, dua puluh menit pertama pasti mereka sudah sibuk dengan gadget atau ngomong sendiri dengan temannya.’ Itu sebabnya saya semakin kreatif mencari bentuk bentuk penyajian materi yang sedapat mungkin menghindari ceramah tunggal satu arah. Posting saya sebelumnya tentang jurus kombinasi adalah usaha saya mencari bentuk pembelajaran yang tidak satu arah namun tetap membekali dengan ilmu.

Lalu rekan saya itu setengah menyanggah menceritakan bahwa mahasiswa semester 3 ternyata masih bisa diam dan memperhatikan. O ya? ” Iya, Pak, tapi kayaknya mereka diamnya karena ndak mikir apa2, atau mungkin sudah saking bosan dan skeptisnya sehingga diam saja. Buktinya,,setelah selesai ceramah saya tanya mereka apakah paham maksud ceramah tadi, mereka ndak tahu apa-apa tuh.”

Ha ha haaa, zombie generation! Kami tertawa bersama-sama.

Saya duga itu karena anak jaman sekarang makin pragmatis dan ogah disuruh kontemplasi. Mereka hanya tertarik pada hal-hal yang sangat relevan dengan kebutuhan jangka pendeknya. Pancasila? Ah, ogah ah, aku maunya tips untuk bisa dapat uang dengan cepat lewat MLM. Hadeeh!

Obrolan menukik makin jauh ke hal tentang kepemimpinan. Rekan saya itu bilang bahwa tidak mudah membentuk jiwa kepemimpinan di kalangan mahasiswa. Format dan materi trainingnya harus diubah-ubah untuk mendapatkan racikan yang pas untuk melatih kepemimpinan. Tapi dia juga memberitakan kabar baik: ada satu kelompok mahasiswa yang ternyata berubah menjadi lebih perduli dan lebih responsif setelah hidup bersama-sama penduduk suatu kampung jauh dari Ma Chung. Mereka bahkan masihnsaling mempertahankan silaturahmi sekalipun program itu sudah berakhir. Nah, yang seperti ini benar-benar terasa seperti oase di tengah kerontangnya padang pasir.

Lalu kami bicara tentang pendidikan karakter. Kami sepakat bahwa pendidikan karakter sebaiknya tidak dipisahkan dengan pembelajaran akademis, sehingga terbentuk dikotomi penting vs gak penting. Kuliah penting karena berujung nilai dan IP, pendidikan karakter ndak penting karena ndak diimbal dengan nilai atau IP. Ya, kalau ini sudah saya yakini sejak lama. Kalau mau mendidik karakter dengan serius ya harus diintegrasikan dengan kegiatan kuliah sehari-hari, harus dicontohkan oleh para dosen dan staf, termasuk the so-called pimpinan Universitas.

Demikianlah sekelumit obrolan dengan rekan muda yang kritis dan berwawasan luas tadi. Senang bisa ngobrol hal-hal edukasi dengan orang seperti rekan saya itu. Selain bertukar informasi, saya juga bisa terus mengasah kepekaan saya tentang ciri anak muda jaman sekarang, dan terus mencari ramuan sihir yang bisa mengubah mereka menjadi lebih baik untuk masa depan mereka sendiri.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized