Jurus Kombinasi dalam Memberi Kuliah

Posted on October 31, 2013

0


Sudah sejak lama saya mengidamkan kelas yang tidak konvensional. Kelas konvensional itu artinya yang sebagian besar didominasi oleh ceramah guru atau dosen, dan yang menjadikannya sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Kelas yang saya idamkan adalah kelas yang sebenarnya berciri sederhana: guru sebagai fasilitator, dan murid mencari dan melemgkapi dirinya dengan pengatahuan baru dengan secara aktif bertukar pikiran, saling mengomentari, dan bahkan agak berdebat dengan teman-temannya. Murid juga relatif bebas menentukan cara belajar yang sesuai dengan seleranya.

 

Kesempatan itu datang pada satu mata kuliah yang saya asuh di Universitas Ma Chung, yaitu Language Testing.  Pada tanggal 23 Oktober 2013 mendadak tercetus keinginan untuk menyiapkan mahasiswa-mahasiswa saya melakukan kuliah yang lebih student-centered ini. “Baca di rumah Chapter 7 tentang Testing Speaking”, kata saya sebelum kelas itu usai. Chapter 7 itu terdiri dari sekitar 15 an halaman tentang bagaimana menguji kecakapan berbicara.

 

Minggu depannya, 30 Oktober 2013, kelas itu bertemu saya lagi. Saya segera meminta mereka untuk membagi diri menjadi beberapa kelompok dengan setiap kelompok beranggotakan 4 -5 orang.  Kemudian saya minta mereka melakukan brainstorming tentang apa pun yang terkait dengan Testing Speaking. “Buat sebuah lingkaran di tengah kertas Anda; isikan tulisan “Testing Speaking” di dalamnya, kemudian bersama grup Anda, lakukan brainstorming tentang apapun yang terkait dengan konsep tersebut. Kaitkan dengan apa yang sudah kalian baca dari Chapter 7″. 

 

Mereka pun lalu sibuk berdiskusi dalam kelompoknya masing-masing.  Saya membebaskan tempat dimana mereka  mau berdiskusi.  Satu kelompok memanfaatkan kebebasan ini , dan jadilah mereka berdiskusi  di depan ruang kelas, di selasar gedung yang sore itu agak redup dan sejuk karena mendung menggayut. Ini yang sedikit banyak merupakan penerapan Personalized Learning: belajar dengan gaya yang disesuaikan dengan selera dan kebutuhan pribadi.

 

Image

 

 

 

Teman-temannya tetap tinggal di dalam kelas, dan inilah suasana di dalam kelas tersebut:

 

Image

 

 

Image

 

Tak ada lagi jejeran bangku dan wajah-wajah beku memandang ke dosen di depan kelas sebagai pusat perhatian.  Sekarang (hampir) semuanya sibuk berdiskusi dengan temannya per kelompok. Mereka melontarkan ide, mengoreksi ide satu sama lain, membaca buku, dan mencocokkan hasil diskusi dengan buku.

 

Sesi itu cukup dalam 15 – 25 menit. Setelah itu saya minta kertas hasil diskusi mereka , dan saya pertukarkan kertas-kertas tersebut antar kelompok: “Sekarang, amati kertas hasil kerja kelompok lain; beri catatan atau komentar atau tambahan pada bagian yang Anda anggap kurang jelas, kurang lengkap dan sebagainya. Lalu pergilah ke kelompok tersebut dan mulailah berdiskusi dengan mereka tentang komentar Anda tadi.”

 

Ini salah satu lembar dari sebuah kelompok, beserta komentar dari kelompok lainnya yang ternyata hanya berupa tanda tanya-tanda tanya. Kenapa? Rupanya kelompok ini merasa masih banyak yang kurang pada hasil tersebut. 

Image

 

Nah, inilah suasana tukar pikiran antara kelompok yang tadi memberi banyak tanda tanya (para gadis itu), dan kelompok yang membuat lembar kerja yang “naas” tersebut:

 

Image

 

Image 

 

Intermezo: coba amati cowok di ujung kanan. Saya geli melihat tampangnya. Serius bangeet, man! Ha ha ha! Entah dia serius karena mikir kok bisa kertasnya dikasih tanda tanya-tanda tanya, atau setengahnya grogi “diserbu” oleh cewek-cewek :) 

 

Ok, kembali serius. Nah, di bawah adalah gambar interaksi antar kelompok yang lain:

Image

 

 

 

Di kelompok ini yang terjadi adalah pertukaran komentar dan penajaman konsep. Selebihnya, hasil dari keduanya relatif sama.

 

Lalu sesi tersebut berakhir. Saya menekankan kepada mereka intisari dari sesi tersebut: “kalian lihat, kalian ternyata bisa belajar secara mandiri lewat membaca buku teks dan bertukar pikiran di dalam kelompok, lalu saling menajamkan satu sama lain di sesi interaksi antar kelompok. Saya tidak lagi berceramah satu arah, kan? Tugas dan peran saya tadi hanya menciptakan suasana yang kondusif untuk kalian saling beinteraksi secara ilmiah.”

 

Jadi, tujuan pertama dalam pembelajaran itu tercapai: semua mahasiswa punya pemahaman yang relatif sama tentang keseluruhan materi tentang Testing Speaking, semuanya tanpa dominasi  dosen sebagai sumber pengetahuan tunggal yang menyuapi satu persatu konsep ke pikiran murid-muridnya.

 

Berikutnya, saya bawa mereka ke tantangan lebih tinggi: saya putarkan sebuah video klip tentang penampilan seorang siswa dalam wawancara. Lalu saya minta mereka memberikan skor dalam kelompoknya untuk siswa tersebut. Tujuan dari langkah ini adalah mengkonfrontasikan apa yang sudah mereka dapat tadi dengan kasus aktual dalam dunia nyata. Tumbukan ini saya sengaja supaya mereka mengggali lagi lebih dalam konsep=konsep yang sudah dikuasainya lewat tahap kerja kelompok tadi. 

 

Tugas menilai itu dijawab dengan ungkapan beragam dari mereka. Oke, sekarang saatnya kembali ke mode konvensional: ceramah satu arah. Ini penting karena konsep yang berkaitan dengan cara menilai itu adalah vital, dan kalau tidak diarahkan secara seragam seperti ini, penafsiran mereka bisa berbeda-beda.  Pun itu hanya benar-benar konsep utama dan umum yang saya paparkan; nanti biar mereka sendiri yang menajamkannya dengan membaca dan berdiskusi lagi.

 

 

 

 

 

Image

 

 

Demikianlah sekilas ulasan tentang sebuah cara berkuliah yang agak lain. Ini makin lama makin sering saya lakukan di kelas-kelas saya di Sastra Inggris. Kombinasi antara belajar mandiri, personalized learning, konstruktivisme, dan pengarahan satu arah membuat pembelajaran akan terasa lebih luwes, santai tapi serius,  tidak menafikan interaksi sosial, dan tetap membekali pikiran dengan wawasan baru.

Jangan dikira setting perkuliahan seperti ini lebih enteng daripada ceramah satu arah. Sebagai dosen, saya harus paham benar konsep-konsep yang saya ajarkan, plus detail-detailnya. Jadi isi bab 15 halaman tadi harus sudah saya baca dan pahami baik-baik. Sebagai fasilitator, saya harus peka terhadap dinamika kelompok, bahkan juga peka terhadap anak-anak yang kelihatan mandeg karena mungkin tidak nyaman dengan setting kerja kelompok seperti itu. Mengajar dengan jurus kombinasi memerlukan ketelatenan dan ketrampilan tersendiri sehingga kelas tidak berubah menjadi pasar yang akhirnya tidak jelas mau kemana dan ingin mencapai apa.

 

 

Posted in: Uncategorized