Hari Krida Universitas Ma Chung

Posted on October 26, 2013

0


Hari Krida Universitas Ma Chung

Hari Krida Jumat kemarin nyaris menjadi ajang kongkow-kongkow gak jelas untuk kelompok mahasiswa yang saya dampingi. Karena perubahan jadwal, mereka tidak siap dengan alat-alat untuk bekerja bakti. Akibatnya setengah jam pertama kami hanya duduk-duduk di basement Balai Pertiwi. Sebagian besar mahasiswa mainan gadget, sebagian lagi luntang lantung ndak tahu mau ngapain. Saya lebih konyol lagi, hanya mondar mandir kanan kiri sambil megang pena. Iki terus arep ngopo???

Akhirnya saya ajak mereka naik ke dekat tangga dan duduk disitu. Saya minta mereka berbagi kesan dan pendapat utk kegiatan krida yang sudah berjalan setengah semester ini. Ini saya sengaja, karena tiba-tiba saya ingat satu rasan2 di Twitter dari para mahasiswa tentang kegiatan ini. Saya ingin dengar dari mulut mereka sendiri bagaimana sebetulnya mereka menyikapi program ini.

Setelah saya bujuk dan sedikit dorong2 untuk mau sharing (anak sekarang kan gitu; harus dibujuk dulu supaya mau sedikit terbuka), akhirnya keluar juga satu dua pendapat jujur: ‘pak, kenapa kok kami disuruh bersih-bersih? Kan bosen, pak’. Naah, ini persis dengan apa yang saya baca di Twitter itu. Inilah untungnya jadi intel di socmed. Maka saya jawab:

‘Ya, kegiatan krida jangan dilihat dari kerja baktinya. Ada pesan dan nilai yang terkandung dibaliknya, yaitu keperdulian terhadap lingkungan. Kami tidak ingin membentuk lulusan-lulusan yang hanya peduli terhadap nilai kuliah dan semua hal yang melulu akademis dan materialistis. Kami ingin generasi muda lulusan MaChung ini jadi insan2 yang peduli terhadap kebersihan dan keharmonisan lingkungannya. Di luar sana masih banyak hal yang perlu dibenahi, dan melalui kegiatan krida yang dari luar ‘hanya seperti bersih-bersih’ ini sebenarnya kalian sedang dilatih untuk peka terhadap hal tersebut.’

Seorang cowok dengan sangat jujur berkata: ‘ya, tapi bosan, Pak. Mbok kita renang aja sama-sama.’

Ya, jujur sekali. Saya hargai kejujurannya, tapi tidak logikanya. Maka saya jawab: ‘ya, saya bisa paham rasa bosan itu. Manusiawi. Tapi ya tolong jangan disikapi dengan reaksi sedangkal itu. Seperti tadi saya katakan, cobalah melihat nilai baik yang tadi saya jelaskan di balik kegiatan krida ini. Kelak kalau Anda sudah lulus dan jadi orang sungguhan, punya anak, punya anak buah dan sebagainya, Anda akan melihat kembali momen2 krida ini sekian belas tahun silam di MaChung, dan Anda baru bisa merasakan kebenaran nilai itu di kehidupan Anda’.

Satu lagi yang sebenarnya kurang masuk akal di uneg2nya tadi adalah berenang sama2. Itu jam dua siang. Berenang jam segitu bisa membuat mereka kena kanker kulit, kecuali kalau berenangnya pakai kruntelan sarung dan hoodie, ha ha ha!

Satu lagi pertanyaan dari seorang cewek adalah: ‘kenapa kakak2 kelas kami tidak harus ikut kegiatan ini tahun lalu, sementara kami harus ikut? Dan kenapa sesi Study Skills jadi lebih panjang?’. Jawaban saya sederhana saja: ‘ lho bukannya kamu harus merasa beruntung mendapatkan pengalaman seperti ini? Sesi Study Skills itu lebih panjang karena ketrampilan yang dibekalkan (membaca buku dan menulis esai) bukan kecakapan yang bisa diperoleh hanya lewat satu dua jam sesi di kelas saja’.

Demikianlah, sharing di sesi krida yang nyaris salah kedaden tadi itu pun berakhir dengan pesan-pesan singkat dari dosen pendampingnya. Semoga generasi yang konon dicap sebagai generasi gadget, generasi Me, generasi apatis dan pragmatis ini bisa sedikit tergugah mendengarnya.

Satu hal yang saya ambil juga sebagai pelajaran dari sesi itu adalah ini: kemampuan dan kemauan untuk berkomunikasi antar dosen dan mahasiswa. Kemampuan ini diawali dengan hal sepele yang sungguh sulit untuk sebagian besar orang atau pemimpin dengan gaya memimpin yang payah: MENDENGARKAN, mendengarkan apapun itu yang dirasakan dan menyikapinya dengan bijaksana.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized