Kawinan dan Lubang Jalan

Posted on October 25, 2013

2


Acara pesta perkawinan dan lubang-lubang di jalan raya. Apa hubungannya? Ada. Dua-duanya menganggu kelancaran lalu lintas!

 

Sudah beberapa hari terakhir ini semua yang bekerja dan bertempat tinggal di daerah Tidar harus berpayah-payah menembus kemacetan panjang setiap pagi dan sore karena ada galian yang dalam dan crane sebesar bangkai Titanic di depan kampus STIKI.  Itu masih ditambah dengan galian yang sama di jalan Bondowoso. Akibatnya lalu lintas jadi macet, dan sudah tiga hari terakhir ini saya harus pergi pulang kantor lewat jalan yang lebih jauh dari tembusan ke Lembah Dieng. Jalan disana ndak kurang jeleknya karena geronjalan gak karuan dan saya hanya bisa bertanya: “jalan kayak gini kok ya dibiarkan aja? Kemana itu pajak yang dituntut terus dari masyarakat?”

 

Herannya, kenapa ya pemkot seolah tidak merasakan bahwa pekerjaan penggalian lubang itu mengorbankan kelancaran dan kenyamanan berlalu lintas? Kesan saya, pekerjaan yang sangat menganggu itu–lepas dari maksud baiknya–tidak segera diselesaikan. Lubang dibiarkan menganga dan crane itu juga disitu terus, dari hari ke hari, minggu ke minggu, sementara kemacetan terus menjadi-jadi, terutama pada jam-jam sibuk. Anda tahu ada galian serupa di pertigaan Cipto dengan Rampal yang sudah berbulan-bulan seolah dibiarkan begitu saja? Apa karena pekerjanya dibayar harian sehingga sengaja berlama-lama bekerja? Kalau iya, betapa rendahnya etos kerja orang-orang ini.

 

Nah, tadi pagi lalu lintas di sekitar jl. Ciliwung mendadak mbulet ndak karuan. Pasalnya, ada rumah dekat pertigaan situ yang menyelenggarakan hajat perkawinan dengan menutup hampir seluruh pertigaan dengan tenda, sehingga lalu lintas disitu terpaksa dialihkan ke jalan-jalan kecil disekitarnya. “Ini hanya ada di Indonesia”, kata saya kepada si bungsu yang selalu semobil dengan saya setiap pagi ke sekolahnya. “Kalau di negara Barat, si empunya rumah sudah dituntut ke pengadilan karena dia mengutamakan kepentingan pribadi atas kepentingan orang banyak”. Saya jadi ingat keluhan yang sama dipostingkan di fesbuk oleh seorang mantan kolega: ada tetangganya menututp jalan dan berpesta 3 hari suntuk dengan musik dangdut yang memekakkan telinga sehingga mustahil bagi  tetangganya untuk bisa tidur dengan tenang.  

 

Mungkin kalau dikonfrontir, si pemilik hajatan akan mengatakan: “ya, situ toleransilah dikit; rame2 kayak gini  kan ndak setiap hari.” Menurut saya, ini bukan masalah toleransi atau tidak, ini adalah masalah menghormati hak publik, dan untuk itu dia lah yang seharusnya bertoleransi lebih dulu.

 

 Pelajaran lain yang bisa dipetik: kalau ga punya duit untuk nyewa gedung, mending ga usah nikah dulu. Bleh.

 

Ya, jadi kesimpulannya: cara pikir sebagian orang di negeri ini aneh. Kerja galian di jalan raya dilambat2kan, tidak perduli lalu lintas jadi terhambat. Orang kawinan punya hak untuk menutup jalan sehingga lalu lintas pun jadi amburadul ndak karuan.  Ya, kalau ditanya mereka pasti juga punya logikanya sendiri-sendiri, tapi logika itu menjadi aneh dan terkesan sangat egois dan tidak profesional manakala ditumbukkan dengan logika jalan raya sebagai hak publik yang mereka peroleh lewat pajak yang mereka bayarkan tanpa alpa.

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized