Creative Arts Club

Posted on October 23, 2013

0


“Manusia tidak hanya hidup dari roti, tapi juga (a) sabda Tuhan, (b) pikiran kreatif”.

Mana yang benar? Nah, kali ini jawaban yang benar adalah b, saudara-saudara. Bwa ha ha! Ini bukan pelajaran sekolah Minggu atau pendalaman Kitab Suci; ini adalah penjlentrehan gagasan saya di Fakultas Bahasa dan Seni: Creative Arts Club.

Saya juga tidak tahu pasti kenapa ujug-ujug muncul gagasan untuk mendirikan Creative Arts Club ini. Mungkin dasarnya saya sudah agak “gemblung”, atau setidaknya “aneh”, atau mungkin juga karena saya secara logis berpikir bahwa manusia memang perlu menggeluti kesenian dan melampiaskan daya kreatifnya untuk mengimbangi daya logisnya. Maka, sebenarnya tagline di atas tadi berbunyi begini: “Manusia tidak hanya berpikir dengan otak kiri, tapi juga merasa dan berkreasi dengan otak kanan.”

Ide ini muncul sekitar setahun yang lalu. Saya merasa bahwa mahasiswa-mahasiswa di Fakultas Bahasa dan Seni perlu merasakan sentuhan seni, dan seni tersebut harus diolah secara kreatif oleh mereka sendiri. Itu akan menjadi bekal yang berguna bagi mereka di masa depan yang makin penuh dengan kemungkinan dan peluang, yang akan menjadi lahan subur bagi mereka yang kreatif. Coba lihat sekeliling Anda: Tablet, netbook, twitter, facebook, gantungan kunci, mug cantik, cincin, bahkan tattoo, bukankah semua itu wujud nyata dari kreativitas?

Hampir setahun yang lalu begitu ide itu tercetus di pikiran, saya memilih tiga orang mahasiswi untuk menjadi koordinatornya. Berbulan-bulan berlalu tanpa ada kegiatan sama sekali. Akhirnya salah satu meminta ijin untuk mengundurkan diri, karena dia tidak yakin dia bisa membagi waktu antara mengerjakan tugas-tugas kuliah dengan mengurusi klub ini. Lalu saya baru sadar setelah melihat lebih dekat ketiga mahasiswi saya ini: semuanya adalah tipe murid baik-baik yang tekun dan berprestasi tinggi, namun juga bukan tipe petualang atau risk-taker yang agak nekad. Yah, saya dulu juga seperti itu kok, makanya saya jadi dosen, bukan stunt man atau pengusaha investasi bodong. Maka saya tidak menyalahkan mereka, karena saya maklum sekali apa yang mereka rasakan. Jadi baiklah, saya akan mencari calon lain.

Saya belum menyerah. Kemarin saya kumpulkan lagi mahasiswa dari 3 angkatan, dari senior sampai freshmen. Saya paparkan tujuan utama Creative Arts Club: (1) menjadi wadah pengembangan kreativitas, (2) menjadi cikal bakal ekonomi kreatif yang bisa menghasilkan keuntungan finansial di masa depan. Pada saat itu juga, ada seorang freshman yang menurut insting saya bisa menjadi inspirator dan pemimpin kelompok ini. Mahasiswa ini suka bikin film; pada sesi itu saya minta dia untuk menunjukkan hasil karyanya, berupa trailer dari sebuah film yang dibuatnya bersama teman-temannya. Bagus juga, ndak kalah sama trailernya “The Walking Dead”, ha ha ha!

Nah, ini lah si mahasiswa yang berbakat jadi sutradara itu:

20131023_153223

Sesi itu dipermeriah dengan penampilan ketiga temannya membawakan sebuah lagu dengan petikan gitar. Saya foto mereka bertiga, lalu saya tweet. Momentum sudah tercipta: kelompok kreatif ini lahir juga, walaupun sempat telat. Dengan antusias mereka beramai-rami mengajukan berbagai usul, yang kemudian berujung pada kesepakatan menggelar satu karya kreatif pada saat English Camp tanggal 8 November nanti di Gunung Tabor.

20131023_154109

Creative Arts Club ini nantinya akan menjadi wadah pengembangan seni kreatif di Fakultas Bahasa dan Seni. Salah satu acara rutinnya adalah pertunjukan karya kreatif, kalau perlu lewat sebuah media berupa galeri online ataupun galeri nyata, yang disusul dengan diskusi dan sumbang pikiran untuk membuat karya itu semakin memikat, dan kalau bisa bernilai ekonomis. Semua bentuk karya kreatif bisa ditampilkan disini: seni drama, seni musik, seni film, seni susastra, creative writing, techno-creativity, dsb.

Nah, ini adalah satu karya kreatif yang saya ambil dari sebuah situs di Internet. Yang ini membuat kagum tapi juga merinding:

SENI KREATIF HEBOH

Posted in: Uncategorized