Kenangan Masa Kuliah

Posted on October 19, 2013

2


Kenangan Masa Kuliah

Itu terjadi 27 tahun yang lalu, tepatnya 1986. Sebagai mahasiswa baru di IKIP Malang, saya resmi menjadi mahasiswa bulan Agustus. Kenangan pertama adalah upacara bendera di lapangan di jl. Surabaya yang saat itu masih berupa lapangan rumput luas. Saya berdiri di baris depan dan teman2 lain di belakang. Sepanjang upacara mereka ceikikan terus, dan ketika salah satu celetukan membuat saya berbalik dan ikut tertawa, sontak mereka mengatakan: ‘wah, tuh liat, ternyata teman kita ini bisa ketawa juga! Ha ha haa!’.

Itulah pertama kalinya saya sadar sepenuhnya bahwa saya memang bertampang serius pol, suatu stigma (cap buruk) yang terus melekat berabad2 kemudian bahkan ketika saya sudah tua, sudah jadi dosen dan konon juga profesor di Universitas Ma Chung.

Di kampus saya dikenal sebagai anak alim yang kutu buku, ber IPK bagus, tapi juga agak kurang gaul. Kalau jam istirahat, teman2 pada ngeluyur ke kantin atau basketan, saya antri buku di perpustakaan. Jaman itu untuk mendapatkan satu judul buku saja kami harus mengubek2 katalog, kemudian kembali ke rak buku dan mencarinya. Tidak terbayangkan bahwa hanya dalam dua dekade setelah itu saya bisa menemukannya hanya dengan bantuan kakek luar biasa cerdas yg namanya Mbah Google. Mungkin rekan2 di perpustakaan heran kenapa saya yg konon profesor kok jarang sekali kluyuran di perpustakaan. Ya karena Mbah Google tadi itu, plus cucu2nya yaitu online journal, Google Scholar, academia, edudemic dsb.

Karena dikenal tekun, teman2 sekelas mengandalkan saya manakala ada kesempatan untuk nyontek waktu ujian di kelas. Suatu ketika kami ujian Morphology. Ada satu soal yang susahnya minta ampun. Teman2 menunggu saya menjawab apa, dan mereka tinggal mencontohnya. Setelah berpikir keras, saya tuliskan satu jawaban di kertas saya dan begitu dosen lengah, kertas itu pun beredar di deretan teman2 yang lain. Eh , ternyata setelah soal itu dibahas, jawaban saya salah. Jadi belasan orang teman yang nyontek saya pun ikut salah. Patris D semua D, ha ha haa!

Jaman itu kuliah terasa jadul bener kalau dipandang dari jaman kini. Kelas ditata khas untuk teacher-centered: kursi sekian puluh menghadap ke papan dan mimbar tempat dosen mengajar. Ada kotak kecil tempat kapur dan penghapus. Kalau dah penuh penghapusnya digedok2 di luar kelas sehingga debu sisa kapurnya berhamburan. Jadul? Ternyata tiga dekade kemudian di Machung setting tolol itu masih bertahan, cumak bedanya sekarang dilengkapi dengan komputer dan LCD aja. Tunggu saya jadi rektor ya, akan saya ubah setting kuno itu menjadi lebih student-centered dan community-centered.

Yang terasa sangat berbeda dengan atmosfer sekarang adalah kemampuan memperhatikan. Kami dulu bisa dan biasa mendengarkan dosen berceramah selama satu jam kuliah penuh. Sekarang, sebagai dosen saya harus sesekali berhenti menerangkan karena daya tahan murid2 tidak sekuat dulu: lima belas menit setelah ceramah aja pasti mereka langsung kehilangan konsentrasi dan lebih suka chat dengan gadget atau dengan temannya. Di sisi lain, itu memacu saya untuk senantiasa berinovasi di kelas sehingga pelajaran tetap bisa membuat para murid fokus.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized