Dosen PA

Posted on October 10, 2013

2


Jaman saya kuliah S1, tahun 1986 – 1990, saya juga punya dosen PA. Saya ketemu beliau hanya saat validasi KRS; itupun hanya berupa pertemuan singkat menyodorkan KRS kemudian beliau tanda tangan dan sudah. 

 

Makin lama, pihak petinggi pendidikan rupanya tidak puas dengan peran dosen PA yang sesederhana itu. Maka dibuatlah seperangkat standar yang pada ujungnya membuat dosen PA harus lebih aktif berperan dalam kemajuan mahasiswa bimbingannya. Ya, itu masuk akal. Dibuatlah form-form yang merekam pertemuan antara mahasiswa dengan dosen PA nya dalam satu semester, permasalahan yang dihadapi, dan solusinya.

 

Celakanya, pada prakteknya ternyata tidak semulus itu. Terkuaklah masalah atau kendala yang entah bagaimana bisa membuat program yang mulia itu menjadi seolah mati kutu. Masalah itu berkisar dari banyaknya mahasiswa yang harus dibimbing (bayangkan, disini ada satu dosen yang mahasiswa PA, nya sampai 40), sampai pada kesibukan yang melanda para dosen sehingga tidak sempat meluangkan waktu untuk ketemu anak-anak PA nya, sampai yang “paling mengenaskan” adalah ini: mahasiswa-mahasiswa merasa tidak memerlukan bimbingan dosen PA dalam menghadapi masalah-masalah akademiknya. Yang terakhir ini  mendapatkan penjelasan dari beberapa mahasiswa: “kami baik-baik saja, kok, ndak ada masalah, jadi ya untuk apa harus menghadap dosen PA”, “saya kalau ada masalah lebih suka curhat ke dosen lain dan bukan ke Pak Patris sebagai dosen PA saya, soalnya orangnya sibuk sekali dan pasti ndak bisa enak curhatnya.”

 

Nah, kalau kita mau berpikir simpel, ya sudah sebenarnya biarkan saja semua itu bergulir apa adanya. Di mata saya, yang penting adalah para mahasiswa bisa menuntaskan  studinya dengan selamat. Kalau mereka mengalami masalah, akan baik kalau mereka berkonsultasi dengan dosen PA nya, tapi kalau ternyata mereka bisa menemukan dosen lain atau orang lain yang lebih enak diajak curhat ya kenapa tidak? Tidak perlu harus memaksakan dosen PA toh?

 

Yang jelas seorang dosen PA harus menguasai seluk beluk akademis sehingga bisa memberikan advis akademis untuk mahasiswanya. Ini saya pelajari dari pengalaman pribadi sebagai dosen PA. Ketika datang, kebanyakan pertanyaan mereka adalah: “Pak, saya mau ngambil matkul A, tapi saya belum lulus matkul B, gimana sebaiknya?”, “Pak, saya sudah 24 sks, tapi masih mau ngambil matkul C, supaya tahun depan tinggal ngambil skripsi terus cepat lulus”, atau “Pak, saya mau ngedrop satu matkul; caranya gimana? Bikin surat ke siapa?”

 

Begitulah, seorang dosen PA harus bisa menjawab dengan tangkas pertanyaan-pertanyaan seperti itu, lha wong itu semua kan urusan akademis. 

 

Pada saat rapat di Theater kemarin ada rekan yang mengusulkan supaya fungsi PA diperlebar lagi menjadi mentor, karena mahasiswa bisa saja membutuhkan bantuan seorang mentor untuk masalah-masalah non-akademisnya. Saya ketawa terbahak-bahak dalam hati mendengar saran itu. Kok kayak ndak tahu aja nasib mentoring di kampus ini? Matek sek (=mati seketika) karena baik dosen maupun mahasiswanya ogah pol.  Saya menjadi satu-satunya mentor yang masih aktif 2 tahun yang lalu, tapi itupun akhirnya saya hentikan karena di mata para dosen lain saya jadi kelihatan aneh sendiri: mereka sudah lama ndak perduli sama menteenya kok saya masih mau2nya mengadakan pertemuan rutin dengan para mentee saya.

 

Jadi sudahlah, ini kampus, sebaiknya tidak usah menguarkan wacana-wacana mulia non-akademis yang pada akhirnya mati karena pada tataran praktek kendalanya terlalu besar untuk bisa diatasi. Mending kembalikan aja fungsi dosen PA seperti ketika saya kuliah dulu: sebagai penanda tangan lembar KRS, kemudian terima kasih bu dan balik kanan untuk lanjut kuliah sampai selesai dan wisuda.

 

Tapi, dua hari yang lalu ternyata saya disadarkan oleh beberapa peristiwa yang seolah terjadi untuk meluruskan pandangan saya yang simplistik itu.  Dua orang mahasiswa datang ke saya untuk meminta saran. Yang satunya saran non-akademis karena memang masalahnya adalah non-akademis, dan satunya lagi adalah saran akademis karena dia ini berniat mau mendrop matkul yang sudah diambilnya dengan alasan “terlalu sukar”. Begitu mereka mengucapkan terima kasih dan beranjak keluar dari pintu kantor, baru saya sadar bahwa sebenarnya peran dosen PA tetap didambakan oleh sebagian mahasiswa. 

 

Pagi tadi setelah mengajar kelas, saya minta para mahasiswa 2013 di bawah bimbingan PA saya ke kantor sebentar. Saya beri mereka penyemangat untuk menempuh semester ini dan ajakan untuk tidak segan mendatangi saya sebagai dosen PA nya manakala ada masalah-masalah yang melanda. Saya melakukan ini terakhir kali adalah dengan mahasiswa th 2008 yang sekarang sudah habis tak bersisa. Astaga, yg 2009, 2010, dan 2011 lewat dah.  Jadi memang sudah saatnya saya menggiatkan kembali “human-based interaction” ini.

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized