Rasis via Suara

Posted on October 5, 2013

2


Barusan ini saya membaca sebuah artikel hasil penelitian yang menarik. Judulnya “Linguistic Profiling”. Sekilas keren, tapi kita akan sedikit bergidik mengetahui artinya: mengetahui ras seseorang dari caranya berbicara di telpon, kemudian memilih untuk menjawab dengan ramah atau sebaliknya dengan nada datar atau bahkan ketus!

 

Saya masih takjub bahwa posting saya yang berbau “rasis” berjudul “Cina oh Cina” ternyata masih sering dibaca orang. Rupanya kita ini agak traumatis, dendam, atau bahkan ngeri dengan topik ini; makanya diam-diam banyak yang membaca, apapun suku atau rasnya.

 

Nah, pada Linguistic Profiling, dijelaskan disitu bahwa seorang peneliti Amerika berkulit hitam menemukan bahwa kita sudah bisa memperkirakan apa ras seseorang ketika mendengar suaranya lewat telpon.   Berdasarkan profiling itu, banyak orang kemudian menarik satu stereotipe tertentu dan kemudian mengubah sikapnya terhadap si penelpon. Kalau si penerima itu orang kulit putih, dia akan cenderung lebih ramah terhadap penelpon yang karakteristik  bahasanya adalah khas orang kulit putih. Tapi kalau si penelpon berbicara dengan bahasa khas orang Negro (African-American, istilah sopannya), maka dia akan cenderung datar, apa adanya, bahkan ketus. Nah, apakah ini berlaku sebaliknya? Ternyata ya sama saja!

 

 

.

Nah, si peneliti ini kemudian mencoba sesuatu: dia mengubah cara bicaranya menjadi seperti orang kulit putih, lalu menelpon seorang penjual real estate yang juga berkulit putih. Eh, ternyata sambutannya ramah sekali! Nah, lalu mereka janjian untuk ketemu. Begitu si agen kulit putih melihat bahwa si penelpon tadi adalah orang kulit hitam, dia kelihatan sekali terkejut, dan perlakuannya pun berubah datar, tidak seramah ketika di telpon tadi.

Menyedihkan ya?

Seolah tahu saya sedang menulis topik ini, tiba-tiba tadi telpon berdering. “Hallo, Pak Patrisius. Saya L. Ini gini lho, Pak, saya ini mau ikut kursus bahasa Mandarin, tapi lek isa yang jam tujuh malem. Isa ndak ya kursusnya dibuat jam tujuh, soale lek hari kerja saya pulange sodok sorean.”

Saya terpana. Saya belum pernah ketemu sama si L ini; namanya juga baru dengar tadi itu. Tapi dari bahasanya (baca kata-kata yang saya cetak tebal di ujarannya di atas), saya tahu dia “seperti apa” (saya tidak tega menuliskan “ras apa”). Sepersekian detik saya terdiam, mengingat kembali apa yang yang baru saja saya baca tentang Linguistic Profiling tadi . . . .

Saya putuskan saya adalah saya. Maka saya menjawabnya dengan tetap ramah, tapi dengan bahasa Indonesia yang setidaknya adalah “versi yang saya anggap tepat untuk situasi itu”.

“Ya, silakan saja kalau mau ikut yang agak malam. Tapi kami harus bicara dulu dengan gurunya, apakah dia mau mengajar semalam itu. Anda dari mana? Boleh saya catat nomernya? Nanti saya berikan ke kepala lembaga kursusnya, soalnya, saya sudah tidak lagi menjabat sebagai kepalanya”.

Begitulah. Linguistic Profiling. Anda bisa mengetahui dengan ras macam apa Anda sedang berbicara, kemudian memutuskan untuk bersikap seperti apa. Ya terserah Anda juga; kalau Anda rasis, Anda akan mengandalkan stereotipe yang sudah dimasukkan ke bawah sadar tentang orang-orang dari ras itu, lalu bersikap rasis pula. Kalau Anda netral seperti saya di atas, Anda akan bersikap biasa saja dan tetap ramah, selama apapun yang diujarkan juga masih dalam nada yang ramah.

Nah, sebagai selingan dari topik yang terkesan sangat serius ini, ini saya ceritakan satu anekdot: saya punya kolega yang suka meniru-nirukan cara bicara suku atau ras lain. Suatu ketika, kami dan rekan saya yang lain sendirian di Theater Room. Mendadak usilnya kumat, dan dia mulai berkata-kata dengan bahasa rasis itu: “Ayok, sampekno lho, Ko Tris! Ayok, masuko ae,”. Saya nguakak, dan menyambut guyonannya tak kalah rasisnya: “Wis, kamsia kamsia, Koh. Ini lho be’e tacik ku ini mau” (sambil menunjuk ke rekan saya yang perempuan, yang wanita Jawa asli).

Maka Theater Room yang sepi itu pun berubah jadi panggung ngakak kami bertiga.

Bwa ha ha haaaa!

Posted in: Uncategorized