Mahasiswa dan Lagaknya

Posted on October 3, 2013

0


Sebagai seseorang yang berkecimpung dalam bidang pendidikan, saya tidak henti-hentinya merenung, berpikir, dan mempertanyakan segala hal yang berkaitan dengan tingkah polah dan lagak laku para pemeran panggung pendidikan. Satu hal yang akhir-akhir ini sering menggayuti perhatian saya adalah tentang kesenjangan harapan antara para pendidik di lembaga-lembaga konvensional dengan beragam sifat dan bakat mahasiswa-mahasiswanya.

Beberapa bulan yang lalu saya menulis apa yang saya yakini di Facebook: “pendidikan di kampus itu cocok untuk mereka yang berpola pikir sistematis, hirarkis, akademis dan ilmiah, tapi tidak untuk mereka yang bergaya hidup bohemian, agak liberal, spontan dan kreatif. Tapi apakah mereka yang disebut terakhir ini tidak akan sukses dalam kehidupannya kelak? Ya belum tentu; setiap manusia punya agenda hidup sendiri-sendiri dan mustahil bisa meramalkan keberhasilannya dari suatu kotak serba ilmiah yang bernama perguruan tinggi.”

Pikiran itu makin menjadi-jadi manakala mengamati lagak laku beberapa mahasiswa saya. Ada beberapa gelintir yang saya sebut benar-benar tidak pas untuk menjadi mahasiswa atau seorang akademisi di kampus. Beberapa di antaranya memang wanita muda yang dianugerahi keindahan fisik. Nah, melihat lagak lakunya saja sebenarnya saya sudah membatin: “kamu seharusnya ndak usah kuliah.” Lho bukannya saya diskriminatif, tapi coba lihat apa yang anak-anak macam begini lakukan ketika kuliah: make up, berpakaian mewah, kadang malah sangat sexy, dan yang lebih parah adalah mereka kelihatan sekali tidak menunjukkan gairah untuk belajar. Sudah jangan mengharap mereka akan dengan bersemangat mencari tahu jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan dosennya, atau berdiskusi membahas masalah-masalah aktual, atau menelurkan prestasi akademis yang mendapat penghargaan atau decak kagum. Praktis nol untuk semua itu.

Ada juga yang pria. Mereka populer di kalangan mahasiswa lain karena aktif berorganisasi. Bagus. Tapi prestasi dan kinerjanya di kelas berbanding terbalik dengan kiprahnya di luar kelas. Mblebes pol! Persis seperti mercon habis terendam air satu tahun, blas gak nyala begitu disulut. Aaahh!

Jadi saya lanjutkan perenungan saya: jelas kedua golongan mahasiswa itu tidak bisa disebut pantas untuk menjadi seorang akademisi. Ya bukan salahnya juga; mungkin salah orangtuanya yang mendesak mereka untuk berstatus mahasiswa demi martabat keluarga. Tapi itu tidak berarti bahwa mereka juga manusia tanpa potensi. Potensi itu pasti ada, tapi sangat tidak selaras dengan dunia yang sangat terstruktur, ilmiah, runtut dan penuh aturan seperti sebuah universitas. Aspirasi mereka baru bisa menemukan hidupnya di lingkungan selebritis atau pemimpin massa atau di komunitas dengan gaya hidup tertentu: tidak seturut pakem yang umum, relatif minim aturan formal, tidak ada struktur, tidak harus urut, dan tidak mengapresiasi karya ilmiah, yang penting penampilan yang memikat atau koneksi sosial yang sarat dan guyub.

Kalau saya lanjutkan kontemplasi saya, saya menemukan figur-figur yang serupa dengan mereka dan menjadi tersohor di panggung dunia. Bukankah Steve Jobs dan Bill Gates adalah drop out universitas? Bukankah the Beatles juga tidak pernah tamat kuliah? Bukankah sebagian besar bintang film Hollywood juga kocar-kacir sekolah atau kuliahnya?

Jadi, status Facebook di atas yang saya bikin seolah-olah tanpa berpikir itu ternyata masih benar, setidaknya setelah saya selesai merenung.

Posted in: Uncategorized