Pria Buaya Darat KO

Posted on September 25, 2013

0


Seorang pria tinggi besar punya jabatan mentereng di sebuah bank di kota kecil. Mentang-mentang tubuhnya seperti itu dan jabatannya juga seperti itu, maka mulailah tingkahnya liar. Bukan liar di jalanan atau tempat dugem, tapi di kalangan lawan jenisnya. Suatu ketika, dia dikenalkan dengan seorang perempuan usia dewasa, sudah menikah, dan sedang menjajagi mau mengambil kredit di banknya. Negosiasinya sih ya gitu deh, tapi yang ternyata celaka adalah dia terpikat wanita ini. Maka sejak itu setiap pagi dia rajin mengirimi chat ke BB si wanita ini. Ada saja caranya menyapa: “Hallo bu bos, sudah bangun?”, atau “bagaimana kabar hari ini?”, atau lain-lain yang remeh temeh. Maksudnya sudah terbaca oleh si wanita itu: “nih laki kayaknya tertarik sama aku”.

Si wanita mulai merasa sebal dan curhatlah dia kepada teman-teman dan suaminya: “apa dia kira bahwa potongan dan jabatannya yang seperti itu membuatku terpikat? Aduuh, ndak lah ya. Bukan dari situ kualitas seorang pria ditentukan. Lagipula, bukankah aku ini sudah punya suami?”

Iya, batin saya. Itu kalau di Madura si pria bisa dicarok sampai mati oleh suaminya si wanita.

Suatu ketika, tengah sang wanita sedang makan bersama suaminya, si pria “bankir buaya darat” ini berceloteh lagi ke BB sang wanita. Rupanya dia terpicu oleh status BB si wanita: “hari ini sedang sibuk jualan.”

Si pria mengirim: “Asal ndak jual diri aja ya? He he he. . . .”

Si wanita membalas: “Wah, kalau itu sorry ya, ndak segitunya. Tapi emang makin banyak orang sekarang mentang-mentang potongan tubuhnya bagus, lalu jual diri sekalian”

Si pria melanjutkan: “Ya, ndak kayak saya ini, ya? Potongan kayak gini, mana ada yang mau?”

Si wanita pun masuk dengan hooknya ke ulu hati sekeras hantaman geledek: “Ya, syukurlah kalau situ nyadar!”

GLODAAAKK!

Si pria hanya terdiam beberapa lama dan kemudian menjawab pendek: “Dasar!”.

Si wanita dengan tenang mendelcon pria malang itu.

Waktu saya diceritani itu, saya tertawa terbahak-bahak. “Kapok!” kata si wanita. “Dia bilang begitu, setengahnya pasti mengharapkan aku akan menjawab: ‘O ya ndak lah, kalau bapak pasti banyak yang mau; kan bapak tinggi besar, pimpinan bank pula. Pasti ya banyak lah wanita yang mau.’. Eh, ternyata malah aku katain “ya syukur kalau nyadar!’. Mampus lo, buaya!”

Kami tertawa terbahak-bahak membayangkan raut muka si pria buaya darat itu.

Yah, sebaiknya pria memang menjaga tindak tanduknya. Itu masih untung lho nasibnya tidak berakhir di ujung carok, atau minimal dipecat karena suami si wanita itu lapor ke atasannya di bank itu. Yah, si suami wanita itu juga bukan orang berangasan; sekalipun dia mangkel tapi karena profesinya sebagai dosen dan guru besar pula yang kebetulan sedang menjabat sebagai dekan maka dia memilih diam dan membiarkan alam menghancurkan hati si pria buaya darat itu.

Ha ha haa!

Tagged: ,
Posted in: Uncategorized