Pendidikan Karakter di Universitas

Posted on September 22, 2013

2


Pendidikan Karakter di Universitas

Pendidikan Karakter di perguruan tinggi? Ah itu mah nonsense. Kampus adalah tempat mengasah ketrampilan keras (hard skills) supaya mahasiswanya siap dipakai dan diperkuda oleh dunia industri di bawah kekaisaran neo liberalisme. Tidak ada tempat untuk mengembangkan karakter yang muluk-muluk. Dosen kejar setoran mengajar sekian puluh sks dan meneliti supaya jadi profesor, mahasiswanya mengejar IPK tinggi supaya lulus cum laude dan segera dipinang oleh dunia industri untuk menjadi robot-robot pengeruk omzet. So what’s left for a character building program?

Hmm, tunggu, tunggu . . . Kalau hanya itu mah semua juga sudah tahu dan posting ini akan selesai dalam satu paragraf. Apa betul sesederhana dan semengenaskan itu? Hmm, mungkin juga tidak. Maka saya pun merenung lagi….

Seiring dengan melesatnya kemajuan teknologi, semakin sadar pula kita betapa keponthal-ponthalnya peradaban manusia mengiringinya. Maka ditengah kegalauan itu sungguh kita bersyukur bahwa masih banyak orang yang sadar bahwa selain hard skills tadi, yang juga penting adalah soft skills. Dengan kata lain, masih banyak yang sadar bahwa keberhasilan dan bahkan kebahagiaan manusia tidak hanya bertumpu pada kecerdasan akademik dan iptek, tapi juga pada karakternya. Dus, kalimat terakhir ini menyiratkan pesan bahwa pengembangan kemampuan akademik dan IQ tidak senantiasa berkorelasi positif dengan kecakapan interpersonal dan kepribadian yang baik. Maka memang dibutuhkan upaya secara sengaja, berkesinambungan, dan berdampak untuk membina karakter anak didik.

Secara sengaja, berkesinambungan, dan berdampak (impactful). Itu adalah tiga kata kunci dari saya yang saya yakini harus melandasi upaya untuk mengembangkan karakter positif.

Secara sengaja artinya juga secara sadar. Pendidikan karakter tidak bisa sekedar dilakukan melalui side effect dari pendidikan hard skills. Ini biasanya diungkapkan dengan kata-kata yang mengesankan simplistis dan terkesan apa adanya: ‘dengan berkuliah secara teratur anak-anak itu kan nanti ya berkarakter baik dengan sendirinya’. Untuk beberapa gelintir mahasiswa yang sudah berbibit dan berbobot baik dari lahirnya ya ungkapan itu bisa betul. Namun sebagian besar, saya percaya, masih memerlukan pengasahan karakter dengan sangat sengaja tadi.

Maka pendidikan karakter seharusnya diartikulasikan secara verbal melalui setiap kegiatan baik yang terstruktur dalam kurikulum maupun yang berupa kegiatan ekstrakurikuler. Di Fakultas saya sendiri saya sudah lama mengangankan bahwa setiap perkuliahan dimulai atau disisipi pesan-pesan ke arah pendidikan karakter: ‘tugas ini adalah individual. Jangan menyontek teman atau copas. Ini adalah saat dimana Anda belajar mengembangkan karakter jujur dan yakin pada diri sendiri’, atau ‘berikan perhatian pada teman yang sedang berbicara. Kalau Anda ingin dihargai, Anda juga harus mau menghargai orang lain. Ini adalah tindakan melatih karakter bertenggang rasa dan menghargai orang lain.’. Masih banyak lagi situasi akademis dimana pendidik yang kreatif dan peduli bisa menggugah kesadaran murid-muridnya untuk berkarakter positif.

Memang, untuk melakukan yang di atas itu ada satu prasyarat yang tidak ringan: dosen harus menjadi teladan untuk setiap tindakan positif yang dia omongkan. Kalau dia bicara menyuruh mahasiswanya untuk atentif tapi dia sendiri asyik BBM an waktu ada orang lain presentasi, ya percuma lah upaya pengembangan itu. Maka pendidikan karakter yang serius harus memastikan satu faktor kunci lagi: pastikan bahwa guru atau dosennya walk the talk! (melakukan apa yang dia khotbahkan).

Berkesinambungan. Ini artinya pendidikan karakter harus menjadi satu untaian yang terentang dari mulai mahasiswa masuk sebagai insan akademis sampai pada saat dia diwisuda. Pendidikan karakter dilakukan melalui ceramah, menghadirkan tokoh-tokoh masyarakat sebagai panutan, melalui kuliah seperti yang saya lukiskan di atas tadi, dan melalui tindakan nyata dari mereka sendiri lewat berbagai program yang dikemas secara serius namun tetap fun dan inspiratif. Salah satu yang saya sangat respek di MaChung ini adalah hari Krida Universitas dimana mahasiswa semester 1 diajak untuk menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan kampus.

Akhirnya, impactful (berdampak). Seberapa jauh semua upaya sadar dan berkesinambungan tadi mengubah karakter mahasiswa menjadi lebih baik? Kampus jangan berbangga diri dulu kalau menjumpai mahasiswa unggul yang berbudi baik, rajin, ulet, sopan, jujur dan pintar di akhir masa studinya. Kalau ternyata anak itu memang sudah terlahir seperti itu, atau mendapatkan tempaan karakter dari keluarga atau lingkungan ibadahnya, ya artinya kampus tidak menyumbang apapun untuk karakternya. Istilah Jawanya : apik apik karepe dewe, bukan sebagai dampak positif dari kampusnya. Sebaliknya, berbanggalah kalau melihat mahasiswa yang dulunya nakal atau malas telah berubah menjadi lebih rajin dan terkendali sebagai akibat dari program pengembangan karakter kampus.

Maka perlulah dipastikan atau setidaknya dirasakan dengan teknik yang relatif valid dan ajeg untuk meyakini bahwa kampus sudah mengerahkan tenaga dan daya upaya yang memang mengubah karakter anak didiknya menjadi lebih baik.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized