Lirik Lagu, Sekolah, dan Kekasih Bayangan

Posted on September 19, 2013

3


Setelah makan siang sunyi, saya iseng-iseng membuka album musik. Lalu mengalirlah lagu-lagu favorit. Salah satunya adalah “Another Brick in the Wall”, satu masterpiece karya band Pink Floyd di tahun 1970an. Liriknya berbunyi seperti ini:

“We don’t need no education
We dont need no thought control
No dark sarcasm in the classroom
Teachers leave them kids alone
Hey! Teachers! Leave the kids alone!
All in all it’s just another brick in the wall.
All in all you’re just another brick in the wall.”

Saya terdiam sesaat. Bukankah ini juga yang diratapkan oleh orang-orang jaman sekarang? Pendidikan yang sangat mekanistis, memaksakan satu pola untuk semua murid yang notabene mempunyai minat, bakat, dan kepribadian yang beragam, sedemikian sehingga setiap murid akan dicetak menjadi sekeping batu bata yang membangun sebuah tembok besar. Tembok besar itu adalah neoliberalisme, industri dunia yang notabene merusak sumber daya alam, mengeksplorasi tanah-tanah subur di negara-negara berkembang, dan menyisakan hanya sedikit untuk penduduk pribumi dan membawa keuntungannya ke korporasi-korporasi elit di negara-negara yang sudah makmur.

Ternyata ratapan itu sudah mulai sejak saya belum lahir, dan bahkan sampai sekarang ratapannya masih terdengar. Long live neo liberalisme dan kapitalisme!

Lirik di atas juga menggambarkan situasi teacher-centered: kelas yang sangat terpusat pada guru. Guru adalah sumber yang benar dan sebaiknya kalau dia sudah membuka mulut tidak usah mendebat atau mempunyai pikiran alternatif. Kalau muridnya sudah diajari berkali=kali ndak ngerti juga, maka keluarlah sarkasmenya: “Kalau kamu bodoh, bagi-bagilah dengan saudara2 dan teman2mu; jangan bodohnya kau ambil sendiri.” Ouch!

Ah males wis bicara soal pendidikan yang membebaskan. Kalau Anda punya pemikiran alternatif seperti itu, jadilah kaya raya dulu, trilyuner. Lalu bikinlah paradigma baru dalam pendidikan yang “luar biasa gila” sesuai versi Anda sendiri. Kalau Anda masih sekelas pejabat struktural kampus yang gajinya hanya cukup untuk nyicil rumah ya mending ngomel aja di socmed. Lumayan daripada frustrasi, tapi ya jangan harap akan didengarkan oleh orang-orang yang Anda hujat.

Nah, lalu saya nemu lagu ini. Judulnya membuat miris: Lovers that Never Were”, oleh Paul McCartney:

“I HANG PATIENTLY ON EVERY WORD YOU SEND,
WILL WE EVER BE MUCH MORE THAN JUST FRIENDS?
AS FOR YOU, YOU SIT THERE PLAYING THIS GAME,
YOU KEEP ME WAITING
WHEN ALL OF THE CLOCKS HAVE RUN DOWN,
ALL OVER THE WORLD.
WE’LL BE THE LOVERS THAT NEVER WERE.”

Ah, ini mah menye-menye, ha ha ha! Hmm, tapi tunggu dulu, biar menye tapi saya kok bisa merasakan pahitnya lirik itu ya? Hmmm. . . . menerima kata-kata manis setiap saat, ternyata mendapati bahwa sang pengirim hanya main-main, padahal sudah jatuh cinta sama dia, akhirnya jadilah kekasih bayangan: “lovers that never were”.

Karena lumayan suka twitteran, saya “dikutuk” mempunyai followers maupun tweets yang memfollow saya. Sejumlah 99% adalah anak muda, da bisa ditebak, banyak tweetsnya yang menye-menye kayak gitu: suka sama seseorang, tapi orang itu ndak tahu, atau bahkan sudah terikat sama yang lain. Akibatnya hanya bisa membayangkan sang pujaan hati, lalu frustrasi, ngetweet meratap-ratap, minum vodka, ndak makan berhari-hari, tidur jam 2 pagi, halah, wis wis . . . .

Posted in: Uncategorized