Mengajar Generasi Vicky

Posted on September 18, 2013

7


Mengajar Generasi Vicky

Saya tidak mau mahasiswa mahasiswi saya menjadi Vicky yang sekarang ngetop karena bahasanya yang bisa membangkitkan mayat saking kacaunya. Supaya mahasiswa saya terlatih berpikir sistematis, mandiri, dan bisa menata pikirannya sehingga nanti omongannya juga tertata dan mudah dimengerti, saya secara berangsur-angsur melepaskan diri dari peran sebagai guru yang terus menerus menyuapi muridnya lewat ceramah satu arah.

Siang tadi saya mengajar Language Testing di kelas semester 5. Begitu masuk saya suruh mereka menutup semua catatannya dan menyiapkan secarik kertas. ‘Tulis apapun yang kalian ingat tentang validitas konten, yang sudah kalian baca dari textbook’. Maka merekapun mati-matian mencoba menulis apapun yang mereka ingat. Jelas bahwa ada beberapa yang membaca bagian itu sebelum kuliah, ada yang tidak membaca sama sekali. Yang golongan pertama masih bisa menjawab sedikit tepat, yang kedua ngawur sak ngawur-ngawurnya. Yah, biar aja, sekali-sekali perlu mereka dikasih shock therapy semacam itu supaya mereka tahu betapa pentingnya membaca textbook sebelum kuliah.

Tes kecil itu usai. Berikutnya, saya sajikan satu masalah lewat PPT. Saya minta mereka berkelompok untuk menawarkan solusi terhadap masalah itu dengan membaca beberapa halaman dari textbook dan kemudian berdiskusi. Saya biarkan mereka sibuk membaca, menstabilo hal-hal yang penting, dan berdiskusi untuk mencari solusi terhadap permasalahan itu. Dengan demikian, mereka akan terbiasa menelaah secara mendalam uraian tertulis di textbooknya, kemudian bertukar pikiran untuk merumuskan penyelesaiannya.

Hampir satu jam berlalu dan satu persatu menyerahkan kertas berisi hasil diskusinya. Saya lirik sekilas jawaban-jawaban mereka. Ternyata mereka terbagi jadi dua golongan: yang menjawab benar, dan yang menjawab salah. Saya minta kedua golongan besar itu menyajikan pendapatnya disertai dengan justifikasinya. Yang salah akhirnya sadar kesalahannya setelah kelompok yang benar menjabarkan pemikirannya disertai dengan rujukan ke teks dan dibantu prompt (pertanyaan-pertanyaan penggiring) dari saya.

Yang agak lain dari sesi itu dan mungkin membuat para mahasiswa terhenyak adalah ketika saya menyuruh seseorang untuk berbicara, kemudian mengatakan: ‘Anda semua dengar apa yang dia katakan? Ya itulah yang benar. Saya tidak akan mengulasnya lagi panjang lebar. Makanya, dengarkan kalau teman kalian sedang bicara mengungkapkan pendapatnya!’

Pada sesi itu saya tidak menulis sedikitpun di whiteboard seperti biasanya yang saya lakukan kalau sedang menyuapi mereka. ‘Anda sudah makin dewasa,’ saya bilang. ‘Saya tidak mau menjadi guru yang terus menerus menyuapi kalian dengan materi dari textbook. Baca sendiri, diskusikan, sajikan, dan dengarkan teman kalian bicara. Saya hanya menjadi fasilitator saja.’

Demikianlah sekelumit pengalaman saya menjadi dosen fasilitator. Saya rasa pendekatan itu cukup efektif untuk membuat mahasiswa melakukan apa yang saya yakini sebagai kunci berpikir akademis: membaca, berpikir, berdiskusi, dan mendengarkan satu sama lain.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized