Berantakan

Posted on September 18, 2013

0


Sialan, foto ruang kantor ku dibilang “berantakan”. Ya, . . . . ya emang sih, wa ha haha!

Sulit sekali saya membuat rapi kantor kesayangan ini. Meja utama selalu penuh berkas, map, kertas, alat tulis. Berkas itu juga barang yang sulit dikategorikan. Pemisahan ke dalam map-map ternyata tidak menyelesaikan masalah. Yang jelas tumpukan mapnya tambah terus: satu untuk paper yang belum selesai, satu untuk surat masuk/keluar, satu lagi materi kuliah plus paper-paper mahasiswa yang sudah maupun yang belum dikoreksi, satu lagi tempat nyimpan bon-bon setelah melakukan perjalanan dinas,. . .  beuuh…tambah terus.

 

Meja bundar yang ada di depan pintu masuk tak kalah mengenaskannya. Heran, yang namanya berkas selalu saja ada: materi promosi, buku, handout, daftar inventaris dan embuh wis opo maneh iku. Menjadi lebih parah lah situasi di meja bundar itu karena sekarang ada tempat gula dan kopi bertengger disitu. Kebiasaan saya adalah menyantap makan siang di meja itu, lalu ngopi, minus rokokan karena dilarang merokok di kampus sialan ini.

 

Di depan meja utama ada tiga lemari kaca besar lengkap dengan laci di bawahnya. Setiap kali saya pulang seminar dari luar kota pasti rak kaca di lemari tengah itu ketambahan penduduk karena ada prosiding yang tebal-tebal. Sebelah kirinya saya pakai untuk menyimpan suvenir dan gifts dari orang-orang yang pernah hadir dalam hidup saya. Ada catur kaca, botol vodka, dan celengan buatan tangan yang didekorasi dengan bunga-bunga dari beludru. Lalu masih ada kerajinan tangan China, dan satu miniatur buaya sedang main ski . Yah, pemberian cewek semua. Kok bisa gitu? Ya karena jelas: ndak ada pria suka memberikan gifts ke sesama pria, kecuali dia agak kemayu atau bahkan homo. Ha ha ha!  . . . 

 

Saya tidak habis pikir kenapa ada beberapa kolega yang bisa rapi sekali tempat kerjanya. Ya sih, rata-rata yang wanita. Kolega sesama pria biasanya sama aja berantakannya, kalau ndak lebih parah, we ke kek! Dulu saya masih ingat kolega saya di DPM beberapa bulan sekali membersihkan laci dan mejanya dari berkas-berkas yang sudah kadaluwarsa. Dia bisa melakukannya seharian, kalau DPM sedang masuk masa senggang. Sekarang setelah dia pindah kantor pun, saya lihat ruangannya masih rapi. Saya mau menuruti teladannya: membersihkan kantor sebulan sekali. Apa lacur, impian tinggal impian: setiap kali ke kantor saya selalu langsung sibuk di depan komputer, terus capek, terus jalan2 sebentar, terus makan dan ngopi, terus pulang. Lha terus kapan mau merapikan kantor? Ha ha ha!

 

11.14. Waktunya mengecek email kantor lalu makan siang terus setelah itu mengajar jam 1.

 

 

 

 

 

Tagged:
Posted in: Uncategorized