Kampus Bercita Rasa atau Beraspirasi Internasional?

Posted on September 16, 2013

3


 

Seorang pendiri Ma Chung berbisik kepada saya saat prosesi Anggota Senat Universitas MaChung akan memasuki gedung wisuda. Apa yang dia bisikkan membuat saya agak terhenyak dan setelah berpikir beberapa lama lalu tergugah untuk menulis posting ini.

 

Dari sejak lama keinginan banyak lembaga untuk menjadi kampus bertaraf internasional sudah saya dengar lama. Ada yang keras lalu lama-lama lenyap sendiri karena kehilangan momentum, atau karena ternyata sumber daya nya ngglembosi. Ada yang sejak semula memang sudah mantap dan nampaknya bisa mempertahankan status internasional itu. Ada pula yang sekedar berhenti pada label dan setelah itu tidak kunjung terasa internasionalisasinya (istilah vicky).

 

Jadi jelas buat saya bahwa pengertian ‘internasional’ itu sendiri masih rancu. Kerancuan itu akhirnya berujung pada kebingungan pengelolanya sendiri. Mereka bingung bagaimana mengejawantahkan label megah itu. Apakah menjadi kampus internasional berarti mengajar dan berinteraksi dalam bahasa Inggris, Mandarin atau Spanyol atau Jerman, yang notabene sudah menjadi bahasa untuk komunikasi antar negara? Apakah itu berarti mengadopsi kurikulum internasional seperti Cambridge curriculum atau sejenisnya? Atau hanya sebatas kelihatan bertampang internasional dengan fasilitas modern dan lay out yang kelihatannya seperti di negara-negara Barat? Atau mungkin menarik para mahasiswa dari luar negeri sehingga cita rasa internasionalnya menjadi kuat? Atau dengan berkolaborasi dengan lembaga-lembaga dari luar negeri?

 

Belum ada yang tahu pasti bagaimana sebenarnya label ‘internasional’ ini harus diejawantahkan secara operasional. Tapi satu hal sudah jelas: apapun itu, dibutuhkan sumber daya yang mumpuni, yang dihargai profesionalismenya dengan imbalan materi yang cukup dan sistem kepegawaian yang transparan, adil dan tegas. Anda tidak bisa membangun sebuah lembaga bertaraf internasional jika karyawan sebagai elemen kuncinya masih resah soal imbalan, terjadi pengunduran diri massal karena ada hambatan yang tidak kunjung dituntaskan, atau karena ada perlakuan istimewa terhadap salah satu unit yang menimbulkan prasangka dan kecemburuan.

 

 

Tapi baiklah kita tinggalkan dulu semua pertanyaan yang menjurus ke karut marut itu. Karena apa yang dibisikkan tadi sedikit banyak diletakkan di pundak saya, maka akan saya uraikan gagasan saya untuk mewujudkan keinginan menjadi lembaga bertaraf internasional itu. Pertama, yang perlu dilakukan adalah menyelesaikan dulu masalah-masalah yang masih menjadi ganjalan di tingkat operasional, baik yang berupa koordinasi antar elemen maupun yang secara tidak langsung mempengaruhi spirit kerja. Kalau yang ini sudah beres, maka langkah selanjutnya adalah memetakan seberapa jauh lembaga tersebut mau menjadi internasional. Dengan kata lain, saya akan mengajak semua unsurnya memikirkan atau mengkonseptualisasi gagasan menjadi internasional itu. Tentunya semuanya akan berpijak pada makna inti ‘internasional’ itu. Bagi saya pribadi, secara sederhana kata itu berarti mengacu kepada hadirnya cara pandang global yang selama ini menggerakkan dunia menuju pencapaian-pencapaian yang sifatnya menyejahterakan umat manusia. Itu artinya, semua kurikulum yang ada pada segenap program studinya haruslah mengacu pada kepentingan global: perdamaian, pemahaman antar budaya, pelestarian alam, kewirausahaan, kesenian kreatif,  pendidikan alternatif, dan pengentasan kemiskinan, untuk menyebut beberapa di antaranya. Kurikulum dibuat sedemikian rupa sehingga substansinya sudah bukan lagi pada tataran lokal, tapi inetrnasional. Dengan demikian, kurikulum ini siap menampung kelas multinasional juga.  Maka terbentuklah suatu lingkungan belajar yang bukan melulu orang Indonesia, tapi juga dari manca negara. 

 

Baru jika ini disepakati maka kampus itu menjadi bukan lagi sekedar bercita rasa internasional, tapi beraspirasi internasional. 

 

Lalu tahap berikutnya menyiapkan sumber daya manusia dan perangkatnya untuk mencapai aspirasi tadi. Maka peran mengasah kecakapan berbahasa menjadi tugas utama pusat pelatihannya. Supaya efisien, harus dipetakan dulu dengan sangat cermat situasi apa yang akan dihadapi oleh segenap elemen akademiknya dalam pekerjaan sebenarnya. Yang dosen pasti dibekali dengan kecakapan mengajar dalam bahasa asing; yang mahasiswa dilihat dulu prospek karirnya kemudian dikaji dengan cermat bagaimana prospek karir itu bisa dipetakan pada aspek-aspek kebahasaan dan ketrampilan berbahasa yang dibutuhkannya.  Disini jangan harap akan ada pelatihan yang hanya suam-suam kuku atau hangat-hangat tahi ayam seperti yang selama ini terjadi. Kalau perlu, tingkat kehadiran dosen dan kecakapan akhirnya dalam pelatihan bahasa dikaitkan dengan insentif kinerja dan berbagai imbalan lain. 

 

Easier said than done? I know, but at least I have said something. What about you?

 

 

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized