Gadget dan Kita

Posted on September 14, 2013

0


Gadget dan Kita

Jaman millenium atau jaman informasi ini membuat banyak hal berubah, termasuk cara berkomunikasi. Dengan hadirnya gadget yang semakin lama semakin ringkas, portable, dan menjangkau kemana-mana serta menghadirkan aneka rupa, makin luaslah kemampuan manusia untuk berkomunikasi. Pada saat yang sama, terjadilah paradoks yang aneh bin ajaib: kecanggihan sarana komunikasi itu justru menjadi penghambat komunikasi!

Pemandangan ini tentu sudah tidak aneh lagi: satu keluarga duduk di meja makan sebuah restoran. Alih alih berbicara ke satu sama lain, semua sibuk menatap layar gadgetnya. Si bapak mungkin asyik membaca blog, si mama mencari barang online shop, dan sang anak main Angry Bird atau online game yang lain. Yang dekat tidak disapa, yang jauh secara fisik dilihat, dibaca, atau diajak chatting. Sungguh benar semboyan blackberry: menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh.

Jaman dulu, sekitar tiga atau empat dekade yang lalu, tentulah semua itu tidak terjadi. Kalau satu keluarga makan bareng ya pastilah mereka bicara satu sama lain. Apakah ini berarti orang-orang jaman dulu lebih ‘beradab’ daripada orang jaman sekarang? Ya endak. Itu karena tiga puluh tahun yang lalu belum ada ponsel, BB, tablet atau iPad! Ha ha haa! Coba pada tahun 1970 atau 1980 an sudah ada gadget, ya pastilah tingkah polah keluarga-keluarga itu sama aja dengan keluarga jaman sekarang.

Seorang dosen pernah dikritik habis oleh para mahasiswanya karena ketika sang mahasiswa presentasi di depan kelas, sang dosen malah sibuk chatting di gadgetnya. Ya mungkin ada urusan urgen, kata saya. Ah endak mungkin, bantah sang mahasiswa, soalnya dosen itu suka senyum-senyum sendiri ketika asyik chatting dengan orang lain lewat gadgetnya. O alah, pikirku, kalau itu mah keterlaluan.

Saya juga membawa gadget ketika mengajar, namun tujuannya bukan untuk chatting dengan teman atau pergi kemana-mana, tapi karena saya kadang harus mencari rujukan untuk membantu mahasiswa belajar. Satu fungsi lain yang agak konyol adalah mengecek jam. Ya ndak tau ya, rasanya lebih yakin mengecek jam di BB daripada di jam tangan, ha hah!

Karena saya punya prinsip bahwa komunikasi yang manusiawi adalah secara tatap muka, saya sering kesal kalau istri saya sibuk dengan BB nya ketika kami sedang berduaan di kamar. Dia berkilah ada teman yang tanya lah, atau ada yang pesan kue lah, atau ada yang mau les privat lah, pokoknya ada saja alasannya. Kalau sudah begitu saya diam saja tidak mendebat lagi, tapi kemudian tanpa ba bi bu lagi saya langsung beranjak pergi ke ruang tengah. That is a very clear sign for my wife that i dont appreciate her behavior.

Nah, gadget bisa membantu saya mengukur kepribadian para mahasiswa. Ada beberapa mahasiswa saya yang seolah akan mati lemas kalau tidak sibuk dengan gadgetnya. Jadi ketika saya mengajar dan teman-temannya sibuk beraktivitas belajar, si mahasiswa ini tetap asyik dengan gadgetnya. Anak seperti ini umumnya bukan yang tergolong pintar, berasal dari lingkungan menengah ke atas, dan kuliah karena desakan sosial atau supaya tidak bengong di rumah nunggu masa kawin tiba. Ah.

Sebenarnya saya pun menggunakan tingkah laku yang kurang lebih sama untuk memberi pesan kepada seorang pemimpin rapat. Dalam setiap pertemuan saya selalu mematikan semua gadget saya karena saya ingin berkomunikasi lebih manusiawi dengan rekan kerja lain. Tapi adakalanya rapat menjadi sangat menyebalkan karena ada pimpinan yang bicara nggedabrus tak henti-hentinya, atau karena rapat menjadi tidak karuan ujung pangkalnya. Nah, dalam situasi seperti itu saya akan terang2an mengeluarkan gadget kemudian twitteran atau ngeliat yang lain. Itu sebenarnya pesan non verbal dari saya bahwa saya kurang suka ada yang sangat mendominasi rapat atau kurang bisa mengarahkan jalannya rapat.

Jadi bagaimana ini? Gadget yang tujuannya adalah connecting people kok malah menjadi musuh terbesar dalam komunikasi manusia? Ya embuh juga ya, silakan pikir sendiri jawabnya, saya kan hanya mau curhat aja disini.🙂

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized