Posting Favorit

Posted on September 12, 2013

2


Saya tidak tahu dan bahkan tidak perduli apakah blog saya termasuk blog favorit atau endak di mata orang lain. Yang jelas sejak blog ini dibuat di suatu sore bulan Agustus 2008 di tengah kegendhengan seorang dosen yang menjadi mentor, peminatnya cukup banyak. Sejak saya miara burung ajaib berwarna biru (twitter maksudku) pengunjungnya per hari juga makin naik. Kemarin aja blog ini dibaca oleh 120 orang. Saya tidak tahu ngapain aja orang sekian banyak itu di blog saya. Yang jelas ketiga posting berikut sudah berbulan-bulan bertengger sebagai posting paling hit yang dibaca paling banyak: Cina oh Cina, Jalan-Jalan ke Malaysia, dan Anak Kota Masuk Desa.  

 

Saya ndak tahu apa istimewanya posting tentang Malaysia itu. Dibanding posting wisata di blog orang-orang lain, posting traveling saya ke Malaysia itu benar-benar asal njeplak, miskin foto, bahkan ada baris-baris yang terang-terangan mengejek negeri jiran itu. Bahwa orang membaca posting itu, itu adalah kesalahan mereka atau mungkin ya semacam mukjizat yang saya sendiri tidak tahu dimana letaknya, ha ha ha!

 

Posting tentang Cina juga mendominasi terus sebagai posting terlaris. Entah kenapa, rupanya esai yang satu ini mengundang penasaran mereka yang rasis, atau yang diam-diam menyimpan gairah atau ketertarikan terhadap lawan jenis dari ras lain. Buktinya kunjungan ke posting yang satu itu selalu dihantarkan oleh kata-kata ini yang mereka ketikkan di Google: “gadis tionghoa naksir pria pribumi”, “kenapa dilarang nikah sama pribumi”, “orang jawa suka cina”, dan sejenisnya. Kan sudah saya bilang dua tahun yang lalu: rasisme tidak akan pernah mati. It may fade away but never actually dies.

 

Nah, pengocolan saya tentang pengalaman di desa sewaktu KKN tahun 1989 menjadi posting terlaris berikutnya. Saya menduga orang suka membaca esai itu karena membawa mereka pada bagian dari tanah airnya sendiri yang jarang mereka lihat. Mereka mungkin mengira bahwa pengalaman seorang anak manja dari kota seperti saya di suatu desa terpencil pastilah seru.

 

Saya tidak tahu kenapa orang suka membaca blog machungaiwo ini. Dugaan saya, mereka penasaran dengan apa yang menjadi isi hati seorang dosen yang sekilas kelihatan cuek dan cool dan serius.  Mungkin mereka menemukan aha moment ketika membacanya: “Ahaa, ternyata bisa jahat juga nih orang!”, atau “a ha, ternyata bisa romantis juga orang ini!”, dan sebagainya. Atau, mereka menyukai kepolosan saya dalam menulis: ketika menulis semua yang ada di hati saya langsung tumpah begitu saja nyaris tanpa filter; saya menulis banyak hal mulai dari yang serius macam filosofi  pendidikan sampai yang agak menye-menye, sampai ke yang berbau curcol. Mungkin itu yang bikin orang suka membaca tulisan saya di blog ini.

 

Mungkin, sih.

 

 

 

 

Tagged: ,
Posted in: Uncategorized