Belajar di Jaman Modern

Posted on September 10, 2013

0


Belajar di Jaman Modern

Kalau melihat betapa canggihnya dunia pembelajaran sekarang, saya ingat betapa berbedanya dengan jaman saya masih di bangku sekolah. Saya beruntung bisa mendapatkan kesempatan untuk mengalami dua jaman tersebut. Usia 4 sampai 30 thn adalah jaman kuno dimana saya masih mengajar dan belajar dengan bekal buku-buku sak debok, kapur, papan tulis, sampai yang sedikit lebih canggih seperti layar OHP dan lembar transparan. Nah, setelah usia 35 ke atas, saya seperti meloncat ke jaman yang sangat canggih: buku sak debok dan materi yang biasanya ditulis di papan diganti oleh flash disk dan layar LCD. Perpustakaan diganti dengan Mbah Google, dan sesi tatap muka di kelas bisa dillakukan lewat teleconference, Skype, atau Facebook chat pun jadilah.

Namun kadang-kadang saya merasa kecanggihan itu membuat manusia keblinger. Mereka lantas berpikir bahwa piranti-piranti canggih tadi mutlak harus ada supaya pembelajaran bisa berjalan. Kalau komputer rusak, Internet woles atau layar LCD buram, maka baik dosen maupun mahasiswanya merasa bahwa pembelajaran tidak bisa dilakukan. Ya sudah kita pulang saja, demikian kata mereka.

Padahal esensi belajar bukan lah pada kecanggihan sarana pendukungnya. Belajar adalah tindakan yang mengubah perilaku atau pengetahuan dari semula tidak tahu menjadi tahu, menjadi lebih fasih, atau menjadi lebih terampil. Untuk mencapai semua itu, yang diperlukan adalah teladan dari sang guru tentang perilaku atau ketrampilan yang sedang dituju, dialog, kegiatan berpikir yang distimulasi oleh kegiatan membaca, diskusi, praktek, dan pemberian umpan balik, yang semuanya akan berujung pada pengetahuan atau kemampuan baru. Teknologi bisa membuat semua hal ini lebih efisien, namun tidak berarti teknologi menjadi penentu satu-satunya.

Hari Senin yang lalu komputer di kelas saya ngadat. Akibatnya materi saya di Power Point tidak bisa ditayangkan. Saya hanya punya spidol dan whiteboard serta sekian puluh mahasiswa yang menanti dengan mata penuh harap menunggu suapan pengetahuan dari saya. Saya bilang: ‘ kita manusia, kita harus tetap cerdas sekalipun tanpa dukungan komputer dan LCD’. Maka saya pakai whiteboard dan spidol itu untuk memulai sesi brainstorming tentang konsep yang mau saya ajarkan. Dialog pun bergulir, makin lama makin substantif dan mampu mengarahkan mahasiswa-mahasiswa saya untuk mencari lebih jauh detail-detail konsep yang sudah kami bahas.

Teknologi canggih memang bukan penentu keberhasilan pembelajaran. Motivasi dan kerja sama antar pemelajar menjadi kunci yang lebih menentukan. Teknologi berperan untuk memperluas pengalaman belajar itu melampaui batasan waktu dan tembok kelas dan memantapkan pengetahuan lewat sumbernya yang luar biasa kaya. Selain daripada itu, hanya gurulah yang bisa memberikan sentuhan motivasi, dukungan, atau guyon-guyon segar yang membuat pembelajaran menjadi serius namun menyenangkan.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized