Kharisma part 2

Posted on September 5, 2013

0


Posting ini dipicu oleh sebuah video klip di Youtube yang saya lihat beberapa menit yang lalu. Sebenarnya isinya pasti sudah basi, yaitu tentang tribute (penghormatan) kepada Ayrton Senna, pembalap F1 yang sudah meninggal 19 tahun silam karena kecelakaan di trek Imola. Kenapa juga orang masih saja membicarakan tentang dia? Kalau bicara soal rekor, semua rekor fantastisnya sudah terlampaui oleh pembalap-pembalap tenar setelah eranya, seperti Schumacher dan sekarang Vettel. Rekor Senna yang 3 kali juara dunia dan 94 kali pole position itu sudah jauh kalah ketinggalan oleh Schumi dan Vettel. Tapi kenapa orang tidak memuji2 kedua pembalap Jerman ini, dan tetap menggaungkan kebesaran Senna yang sudah “basi” tadi?

Kharisma. Itu yang dikatakan oleh banyak media bahkan ketika Senna masih hidup dan berjaya. Ini pun menyisakan tanya buat saya, karena apa yang saya baca di buku-buku bukanlah apa yang ditunjukkan Senna. Menurut buku2 itu, orang berkharisma adalah orang yang ramah, outgoing, pintar bicara dan sebagainya yang rame kayak gitu. Yaah, itu mah bukan yang ditunjukkan oleh Senna ketika dia hidup. Senna dikenal sebagai pembalap yang moody, temperamental (dia pernah hampir menghajar Schumi ketika keduanya bersenggolan di GP Prancis, dan bahkan sudah menempeleng Eddie Irvine di GP Jepang), dan secara keseluruhan tidak menampilkan sosok yang ceria seperti Vettel (yang masih kelihatan sering pringas-pringis). Sosoknya agak murung, mahal senyum apalagi ketawa. Tapi tak bisa dipungkiri bakat membalapnya fantastis.

Kembali pada kharisma. Jadi sampai sekarang pun penjelasan tentang kharisma belum memuaskan saya. Semua yang mencoba menjelaskan cenderung mengacaukannya dengan ramah dan pintar bicara. Bukan itu mah kalau menurut saya.

Yang jelas juga bukan terletak pada fisik. Napoleon itu hanya 160 an sentimeter; itu artinya di antara orang-orang sebangsanya yang rata-rata 175 an cm, dia pasti kelihatan seperti anak kecil. Tapi toh dia adalah pemimpin Perancis yang reputasinya bahkan masih terasa sampai sekarang. Lho lha kok bisa orang “cebol” seperti itu memimpin sebuah bangsa besar yang tinggi orang-orangnya jauh di atasnya? Apalagi itu kalau bukan karena kharisma nya?

Jadi, seperti yang sudah saya postingkan beberapa tahun yang lalu, kharisma tetap menjadi misteri buat saya. Apakah itu sesuatu yang diperoleh dari sananya, seperti tinggi tubuh, ataukah sesuatu yang bisa diupayakan dan dibentuk? It remains a question to me.

Posted in: Uncategorized