Morale

Posted on August 16, 2013

0


Morale adalah kata bahasa Inggris yang berarti “semangat kerja”. Istilah ini sering dipakai dalam wacana bisnis, manajemen, dan kepemimpinan. Intinya, apapun yang diciptakan di lingkungan kerja, entah itu gaya memimpin, imbalan, pujian, konflik dan sebagainya akan berdampak pada “morale” karyawan.

Tidak perlu ulasan teori panjang lebar untuk mengetahui bahwa morale itu rentan terhadap apa yang dinamakan konflik, miskomunikasi, incommunicado ( = ketiadaan komunikasi), perlakuan berat sebelah, favoritisme, ketidakjelasan jenjang karir, dan minimnya penghargaan psikologis maupun materi. Salah satu dari sekian banyak penyakit ini bisa membuat morale terpengaruh, dan akhirnya merosot. Yang lebih berat lagi adalah kalau penyakitnya komplikasi, alias kompak menyerang bersama-sama: minimnya penghargaan materi (baca: kenaikan gaji) diimbuhi dengan favoritisme, lalu diperparah luar biasa dengan incommunicado. Morale karyawan bisa hancur-hancuran. Kalau sudah hancur-hancuran, akibatnya sikap apatis yang meruyak; masih untung kalau hanya itu, karena sikap apatis yang berkepanjangan bisa menjelma menjadi sikap destruktif, pembangkangan dan akibat lebih jauh lainnya pasti akan sangat merugikan.

Pemimpin yang baik bukan hanya yang paham dan hafal ilmu manajemen (mungkin karena seringnya hadir di seminar AMA di Hotel Tugu), tapi yang mau dan bisa menjaga komunikasi dengan yang dipimpinnya. Dalam situasi yang kadang kurang menguntungkan karena situasi global yang juga sedang kurang sehat, pemimpin yang baik menyediakan diri untuk mendengarkan keluhan dan uneg-uneg yang dipimpinnya. Pemimpin yang baik telinganya harus tebal dan saraf sensinya dimatikan, sementara kepekaan dan logikanya tetap berjalan untuk mencari jalan keluar dari kesulitan. Pemimpin yang baik tidak banyak bicara, tapi juga tidak diam saja dan terkesan menghindar manakala ada masalah sangat krusial yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Hal paling buruk adalah manakala pemimpin hanya mendengarkan masukan dari “lingkaran dalam”nya, kemudian menelurkan kebijakan yang membuat geram dan shocked dan sedih sebagian besar karyawan.

Benar kata Ahok tentang memimpin Jakarta: “Jakarta ndak butuh orang pintar, karena sudah banyak. Jakarta butuh “orang gila” untuk memimpinnya”. Dalam isi yang agak berbeda namun kurang lebih bernada sama, saya yakin bahwa kita tidak butuh semata-mata orang-orang pintar untuk menjadi pemimpin di sebuah lembaga yang penuh dinamika dan mengarungi lautan yang juga bergolak; kita butuh orang yang mau membuka jalur komunikasi, pintar menenangkan kelompok karyawan yang sedang resah, dan impartial dalam tindakannya. Impartial artinya tidak menganakemaskan satu unit atau kelompok tertentu semata-mata karena istri/suaminya atau bidang kepakarannya berada disitu.

Pemimpin yang buruk tidak peka terhadap masalah yang sedang merongrong morale karyawannya. Mungkin juga dia tahu tapi sengaja menutup diri karena malas berargumentasi; atau pun kalau berargumentasi mereka akan memasang seorang dari antara mereka untuk menjadi bemper kemarahan atau kecemasan banyak orang. Celakalah yang jadi bemper tadi, karena akan menjadi “public enemy no 1”.

Jadi intisari dari tulisan panjang lebar di atas adalah kemauan untuk berkomunikasi. Komunikasi membuat morale sedikit bertahan karena orang yang morale nya sedang merosot pertama-tama perlu didengarkan dan dipahami dulu, sebelum diminta perlahan-lahan untuk mengerti dan menerima kebijakan yang diambil. Kalau tidak, nanti pasti ada saja yang meledak dan kemudian mengirim email ke semua karyawan dan secara nekad menelanjangi semua “borok” yang bau busuknya sudah tercium kemana-mana tapi ditutup-tutupi: “Anda bisa bikin gedung tujuh lantai tapi mbelikan Tablet pusing kepala aja ndak bisa??!!”. Wis, wis, wis, orang Inggris bilang: “things get nasty” (lalu menjadi mengerikan).

Marah baca tulisan ini? Ya jangan. Introspeksi aja lah, lalu dengan kepala dingin mencoba membuat suasana nyaman sekalipun Tablet tadi tetap harus diminum.

Posted in: Uncategorized