Kuliah di New Zealand: Kenangan tentang Dosen

Posted on July 31, 2013

2


Sepenggal kenangan masih tertinggal dari pengalaman belajar di Victoria University of Wellington, New Zealand, tahun 1992. Kali ini tentang para dosen yang mengajar saya di English Language Institute. Sudah 21 tahun berlalu, namun sekarang ketika saya menjalani profesi yang sama dengan mereka, kenangan itu pun menggeliat minta dituangkan ke blog ini.

Saya masih 25 tahun saat itu. Masih bujangan, bobotnya masih 51 kg alias kerempeng, dan gelarnya masih Drs. Dosen-dosen yang mengajar saya saat itu mestinya berusia 40 an atau awal 50 an, seusia saya sekarang. Pada hari pertama, ada acara penyambutan maharu, kira-kira sama dengan acara Fakulter di Machung Festival. Salah seorang dosen yang rupanya kenal dengan ayah saya yang juga pernah kuliah disitu memperkenalkan saya ke Dekannya. Begitu melihat saya, sang Dekan nyeletuk ke dosen tersebut (yang sudah nyaris gundul karena botak): ‘Wow, he’s got more hair than you do!’. Ha ha haa! Waktu itu memang rambut saya masih banyak, sebelum akhirnya menipis karena tidak kuat menahan panasnya ambisi saya menjadi profesor.

Dosen-dosen di VUW ini rata-rata bersikap ramah dan mudah ditemui mahasiswanya. Mereka minta dipanggil dengan nama depannya saja. Jadi saya yang masih ingusan saat itu harus memanggil mereka dengan ‘Dave’, ‘Paul’ , ‘Jane’, dan ‘Sara’. Tentu tidak mudah buat kami yang terbiasa dengan budaya Asia yang penuh unggah-ungguh. Seorang teman sekelas dari China sampai harus datang ke sang Dekan dan mengutarakan kegelisahannya itu. Dia bilang: ‘maaf, kami dari budaya yang sangat menghormati guru, sehingga sulit sekali bagi kami kalau harus memanggil Bapak dan dosen-dosen lain hanya dengan nama depan saja’. Sang Dekan menjawab: ‘oh, itu tidak masalah sama sekali buat kami. Seperti itulah budaya di sini, jadi take it easy lah. Kami ndak merasa bahwa Anda bersikap kurang ajar kalau memanggil kami dengan nama depan saja’.

Mungkin juga karena sudah terbiasa dengan mahasiswa yang datang dari berbagai budaya itu, dosen-dosen kami itu tidak kaget dengan bahasa Inggris berlogat ‘aneh bin ajaib’ dari para mahasiswanya. Saya bilang aneh bin ajaib karena banyak kali saya tidak memahami bahasa Inggris yang diucapkan oleh rekan-rekan dari Thailand atau China. Temen Thailand tuh ndak bisa ngomong ‘fain’ atau ‘fail’ (fine dan file); mereka selalu mengucapkannya ‘fai’ sehingga kalau tidak terbiasa kita benar-benar bingung dibuatnya. Teman sekelas dari China bunyi ‘r’ dan ‘l’ nya kecampur-campur ndak karuan. Terang aja saya bengong ketika melihat salah satu dari mereka melontarkan pertanyaan panjang lebar. Nah, herannya dosen kami yang orang bule New Zealand itu manggut-manggut aja pertanda bahwa dia memahami maksudnya.

Yang juga mengesankan bagi saya adalah sikap para dosen ini terhadap studi lanjut. Kalau di Indonesia, begitu kita lulus sarjana kan terus ada semacam desakan sosial untuk lanjut ke S2 dan S3. Nah, suatu ketika saya bertanya kepada seorang dosen saya yang sudah Master: ‘apa Anda ndak kepingin studi S3?’ Dengan enteng dia menjawab: ‘ah, endak lah. Hidup terlalu singkat hanya untuk mengejar gelar akademis’. Oh wow! Saya baru sedikit paham makna lebih jauh di balik ungkapan itu ketika melihat seorang rekannya yang juga masih Master namun karya-karyanya sudah mendunia. Saya yakin bahwa ada ribuan Doktor dan profesor yang berguru kepada dosen saya yang ‘hanya’ Master ini lewat buku-bukunya. Satu pelajaran: yang penting adalah ketekunan dan konsistensi menjalani satu bidang sehingga menjadi pakar kelas dunia, sekalipun tanpa embel-embel gelar Doktor atau profesor.

O ya, yang menekuni pembelajaran kata bahasa Inggris pasti kenal dengan nama dosen saya itu. Kalau digoogling dengan kata kunci ‘English vocabulary learning’ pasti langsung muncul namanya.

Dua dari dosen saya ini terkenal di bidangnya masing-masing. Yang satu, yang saya sebut diatas, adalah tentang pembelajaran Vocabulary. Yang lainnya adalah pakar tes bahasa. Disini saya lihat bahwa seorang dosen memang sebaiknya menentukan spesialisasi bidang kepakarannya. Di negeri sendiri, saya sering melihat dosen menjadi “jack-of-all-trade”, yaitu si serba bisa. Karena harus membagi perhatian dan ketekunannya pada banyak bidang, jadinya mereka kurang mendalami satu bidang khusus. Ya memang sedikit banyak itu disebabkan karena tuntutan profesi dan iklim keilmuan yang menuntut pengumpulan kredit poin/kum juga sih.

Satu hal yang membuat saya sadar bahwa justru orang Barat lah yang sangat jeli terhadap budaya kita sendiri adalah ketika seorang dosen bertanya ke saya: “Katanya, kalau di Indonesia itu orang ndak pernah bertanya “siapa nama Anda?”; mereka tahu nama orang lain dari temannya. Betul, begitu?” Saya malah agak tergagap-gagap menjawabnya: “Ya, maybe like that ya…I’m not quite sure”. Ah, dasar! Setelah saya pikir-pikir, mungkin ada benarnya juga ya. Kalau kita punya tetangga baru, kebanyakan kita akan tahu namanya justru dari pembantunya atau pak satpam, bukan karena berkenalan secara pribadi. O alaahh..

Posted in: Uncategorized