Enaknya Menulis

Posted on July 3, 2013

0


Saya seorang pendiam. Kalau Anda bertemu saya, Anda akan sedikit kebingungan karena saya tidak banyak mengeluarkan pendapat dan kebanyakan hanya mengatakan: “Oh, begitu ya?” atau “ha ha haa!”. Mungkin justru karena itu saya suka menulis, karena menulis menjadi cara saya mengatakan kepada dunia bahwa saya juga punya pikiran dan perasaan yang perlu saya ungkapkan. Kalau Anda melihat bahwa saya lebih banyak diam ketika bertatap muka, jangan lah menduga bahwa pikiran saya sediam dan setenang wajah saya yang memang serius dan oleh beberapa mahasiswa dibilang “frighteningly cold”. Pikiran saya riuh rendah seperti pasar pagi atau arisan PKK, sibuk mengevaluasi dan mengkritik apapun yang Anda katakan. Nah, karena saya tipe orang yang enggan berseberangan pendapat dengan orang lain secara frontal, saya memilih diam-diam masuk ke kantor atau kamar dan menulis apapun yang saya rasakan ke laptop atau buku catatan saya. Beberapa hari kemudian buah pikiran saya itu akan muncul di blog saya ini atau di Facebook. Anda membacanya dan mengumpat lirih: “Diamput! Ini kan yang waktu aku ngomong2 sama dia kapan hari itu; ternyata diam-diam dia tulis buat blognya”. Ha ha haaa! Itulah saya.

Ternyata dengan menulis saya menjangkau audiens yang jauh lebih luas daripada ketika saya berbicara dengan orang per orang. Dengan datangnya era dunia maya, kebiasaan menulis itu menjadi seperti ikan menemukan air: saya menggebu-gebu menulis di blog, di Facebook, di Twitter. Dulu jaman saya masih SD, menulis seperti itu harus melalui saringan dewan redaksi dan baru berbulan-bulan kemudian cerpen saya diterbitkan oleh harian Kompas. Jaman sekarang, tulisan saya bisa muncul di blog nyaris hanya dalam hitungan menit setelah saya punya ide dan menuliskannya, dan langsung terpapar kepada perhatian banyak orang. Sejatinya, saya tidak perduli pada apa yang dinamakan royalti atau honor menulis (kalau mau cari uang mah lewat cara lain, tidak menulis), karena buat saya menulis dan kemudian dibaca orang banyak itu lah yang memberikan saya kepuasan. Kepuasan itu makin bertambah kalau ternyata buah pikiran yang saya tuangkan ke dalam tulisan itu mempengaruhi cara pikir atau wawasan beberapa orang. Retweet twitter, jempol di posting Facebook atau komentar di blog ini sudah cukup memberitahu saya bahwa ada beberapa orang yang terkesan dengan pikiran saya.

Baru-baru ini saya cukup gerah dengan kondisi prodi saya di Universitas Ma Chung. Prodi ini punya potensi bagus untuk berkembang, namun kurang mendayagunakan peluang luar biasa di dunia cyber yang tersedia di depan mata. Saya bisa mengerti. Sebagian besar rekan saya adalah seperti saya juga: imigran digital, kaum STW (setengah tuwa) yang agak gagap teknologi cyberspace, masih terkesan malu-malu, masih sibuk kareppe dewe, dan memang tidak suka menulis. Maka saya buat grup Prodi Sastra Inggris di Facebook ; saya isi foto-foto mahasiswa dan dosen, dan rencananya akan saya buat tautan ke blog yang cukup laris ini plus segala macam unjuk prestasi dan wadah kontribusi lainnya. Barusan saya diberitahu kolega saya tentang Baltyra.com yang memuat banyak tulisan dengan beragam topik oleh orang-orang Indonesia. Tanpa pikir panjang saya kirimkan satu tulisan saya kesana. Nanti begitu dimuat, akan saya susulkan beberapa tulisan lagi yang memuat link ke halaman Prodi saya di Facebook itu.

Menulis juga merupakan katarsis buat saya. Itu adalah istilah untuk pelampiasan emosi yang terpendam. Sama seperti Anda yang mungkin melampiaskannya lewat membaca novel atau menonton film, saya memilih menulis sebagai sarana katarsis.

jadi lengkaplah alasan mengapa saya suka menulis daripada berbicara banyak. Anda mungkin bukan orang yang tergolong suka menulis; ya tidak mengapa. Saya yakin Anda juga punya cara untuk menginspirasi dunia lewat berbagai kegemaran dan kebiasaan.

Tagged: ,
Posted in: Uncategorized