Nilai, IPK, dan Kita

Posted on July 2, 2013

0


Sadar atau tidak, suka atau tidak, hidup di dunia akademis itu tak pernah bisa terpisah dengan nilai, baik nilai yang artinya “etika moral” maupun yang artinya “skor”. Saya ingin membahas arti yang kedua. Saya mulai dengan suatu kasus nyata: seorang dosen tidak tetap di sebuah PTN terkenal di kota ini diminta (setengah dipaksa) oleh seorang dekan untuk memberikan nilai tinggi bagi semua mahasiswa peserta kuliahnya, dengan batas nilai terendah 70. Sang dosen bersikeras bahwa permintaan itu tidak masuk akal: “lha wong kualitas beberapa mahasiswa itu hanya paling banter 65 kok, masa mau dinaikkan jadi 70?”. Sang dekan tidak kunjung berhenti mendesak, tapi sang dosen bergeming tidak mau merubah nilai yang sudah diberikannya. “Emang kenapa harus dinaikkan nilainya?” tanya sang dosen, dan jawaban sang dekan membuatnya terpana: “soalnya kalau ndak dinaikkan, nanti calon mahasiswa menganggap di prodi ini sulit dapat nilai baik, lalu mereka tidak mau kuliah disini. Dus, kalau ndak ada mahasiswa, kita ya ndak dapat pemasukan uang. Lagipula, kampus-kampus pesaing kita juga sudah sering kok berbuat seperti ini.”

Logikanya jelas: berilah nilai yang murah supaya mahasiswa senang, cepat lulus, dan di pasar kerja cepat memikat calon majikan karena IPK nya tinggi.

Yah beginilah kalau pendidikan sudah menjadi komoditas industri. Prinsip yang dipakai untuk berpikir adalah perhitungan permintaan dan penawaran, dan kalkulasi rugi laba, yang semuanya dipicu oleh pendewaan materi (uang) di atas semua nilai luhur yang banyak digembor-gemborkan: pendidikan karakter, integritas, kejujuran, keunggulan, keuletan, daya juang dan sebagainya. Namanya aja gembar-gembor, ya pantas lah kalau hanya berhenti sampai di mulut dan di dokumen-dokumen cetak; prakteknya ya boleh lain lagi.

Ya, sebenarnya setiap kampus kan bebas mengelola dirinya sendiri, termasuk mau mengobral nilainya menjadi murahan seperti itu. Tapi kalau jalan itu yang ditempuh ya sebaiknya sudah direncanakan juga road mapnya: lima atau sepuluh tahun ke depan ndak usah ada kuliah segala; pasang aja tarif untuk mahasiswa: untuk nilai A sekian juta, nilai AB sekian ratus ribu, nilai B sekian ribu, mau langsung ijazah sekian ratus juta. Kan gitu? Lha buat apa kuliah, wong nilai sudah bukan lagi tergantung pada kualitas pikir kok?

Kasus lain: ketika saya bekerja di Surabaya, ada satu kampus yang malang nian nasibnya karena hampir semua lulusannya sulit dapat pekerjaan. Kenapa? Usut punya usut, ternyata di kalangan perusahaan dan lembaga-lembaga profesional lain sudah beredar isu santer bahwa kampus itu memang gemar mengumbar nilai murah. Mahasiswa yang secara obyektif punya kemampuan setara dengan nilai 60 bisa mendapatkan nilai 80, bahkan lebih. Akibatnya, ketika mereka melamar pekerjaan, IPK yang sekilas tampak dahsyat karena tiga koma tujuh ke atas itu menjadi seperti macan ompong, karena ternyata setelah diuji beneran sang mahasiswa sebenarnya hanya pantas ber IPK dua koma.

Kelemahan seperti ini luput dari perhatian pengelolanya dan berlangsung belasan tahun, sehingga akhirnya kualitas lulusan kampus itu menjadi sangat rendah di mata publik. Mengenaskan.

Tempat saya bekerja, Universitas Ma Chung (www.machung.ac.id), tidak mau terjebak pada stigma publik yang mematikan itu. Makanya, setelah 6 tahun jalan, kami mengevaluasi semua rerata IPK dari tahun ke tahun, mendengarkan masukan dari pihak luar terutama penyedia lapangan kerja, dan tidak segan merevisi kriteria dan standar penilaiannya ketika dipandang sudah tepat. Maka, rentang nilainya sekarang memang menjadi lebih ketat. Prinsipnya sederhana sebenarnya: rentang nilai yang ketat berarti standar yang lebih tinggi; di balik standar yang lebih tinggi berarti ada tekad bulat untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tekad itu diharapkan tumbuh tidak hanya dari kalangan mahasiswanya, tapi juga dosen-dosennya. Sang dosen meningkatkan kemampuan mengajar dan mengujinya, sementara mahasiswa meningkatkan porsi dan kualitas belajarnya. Layaknya seorang pelatih para atlit renang: ketika anak didik kami sudah bisa berenang sangat cepat menyusuri kolam sepanjang 25 meter, kami perjauh jarak renangnya menjadi 50 meter, dan kami tingkatkan standar waktunya dari waktu ke waktu sehingga bakal atlit itu terpacu lebih keras untuk menjadi unggul di standar kolam 50 meter. Kenapa? Ya karena mereka nanti bakal bersaing dengan atlit-atlit kelas dunia yang juga sudah terbiasa menaklukkan kolam 50 meteran!

Saya tulis inti sari posting ini di Facebook saya beberapa bulan silam: “lebih baik meluluskan seorang mahasiswa dengan IPK 2.8 tapi dengan kemampuan setara mereka yang ber IPK 3.5, daripada sebaliknya.” Memang ini sedikit ekstrem, tapi sebenarnya intinya adalah peningkatan kualitas berkelanjutan: di dunia yang makin kompetitif ini yang seharusnya dilakukan adalah meningkatkan standar penilaian, bukan mengobral murah nilai atau bahkan melacurkan intelektualitas untuk keuntungan sesaat tapi kehancuran di masa depan.

Posted in: Uncategorized