Pemahaman Antar Budaya: Hal Bertanya

Posted on June 27, 2013

2


Hal bertanya itu masalah sepele, tapi kalau dua budaya yang berbeda sudah bertemu maka yang terjadi bisa seru. Itu yang saya amati ketika sedang menghadiri forum-forum ilmiah seperti seminar atau workshop.

Seminar-seminar yang saya hadiri kebanyakan mempertemukan dua budaya, yaitu budaya Eropa dan budaya Indonesia. Sebagian besar hadirin adalah orang Indonesia, tapi banyak juga yang bule. Nah, perbedaan yang sempat saya amati adalah ketika mereka bertanya pada seorang penceramah pada sesi pleno atau paralel. Orang Indonesia umumnya suka berpanjang lebar ketika bertanya. Rasanya mereka tidak puas kalau harus melontarkan pertanyaan yang langsung pada intinya. Banyak kali saya lihat mereka masih mengawalinya dengan cerita tentang pengalamannya (“begini…saya ini pernah mengajar mahasiswa yang punya gaya agak berbeda. Nah, waktu itu dia itu gini lho. . .bla bla blaaaa…), lalu disusul dengan pendapatnya sendiri tentang kasus itu (lha kalau nurut saya ya, mestinya gaya belajar murid itu kan . . . bla bla yadda yadda yadda. . . ). Nah, ini aja sudah makan waktu sekitar 1.5 menit sendiri. Biasanya sang moderator–yang juga didesak waktu– akan mengingatkan: “mohon dipersingkat pertanyaannya, Pak”. Nah, biasanya orang yang tanya tadi, entah sudah kesurupan atau gimana, cuek bebek aja sekalipun sudah diingatkan kayak gini. Mungkin dia mikir kayak gini: “sek talah! Aku ini belum sampai klimaks ceritanya! Mbok dengarkan kenapa sih??!” Wis, wis, begitulah orang Indonesia kalau bertanya. Bikin geli tapi sekaligus juga sebal.

Orang Barat (negeri Eropa atau Amerika, maksudnya, bukan barat sungai) sangat lain. Ketika bertanya, bukannya mereka tidak bercerita atau berpendapat, tapi mereka bisa meringkasnya dengan sangat padat dan kemudian langsung melontarkan pertanyaannya. Singkat, padat, jelas. Misalnya begini: “Saya pernah mengajar di sebuah sekolah yang semua muridnya bergaya kinesthetic. Saya sempat bingung gimana ya menangani mereka. Menurut Anda, apakah teori tentang gaya belajar yang Anda paparkan tadi sudah menjelaskan kemungkinan itu? Terima kasih!”. Enak to? Jelas, padat, tidak bertele-tele.

Perbedaan ini bukannya ndak disadari oleh kedua belah pihak, terutama orang-orang Barat. Suatu ketika, di sebuah seminar di ibukota, saya dibuat tertawa ketika mendapati insiden ini: seorang penanya bertanya panjang lebar bla bla blaaa yadda yadda yadda hoek hoek bla bla bla, dan buntutnya adalah pertanyaan: “What do you think about this, Sir?”. Sang penyaji yang rupanya juga sudah mulai sebal harus menunggu pertanyaan si Ibu yang mbulet tadi menjawab dengan enaknya: “Yes, I think so. Next question, please?”. Langsung semua orang tertawa, kecuali si Ibu yang Mrs. Mbulet tadi.

Nah, di satu konferensi di Bandung pernah ada seorang Inggris yang jadi moderator, dan dia tahu sekali kebiasaan buruk orang Indonesia ini. Maka sejak awal membuka sesi dia sudah wanti-wanti: “tolong batasi pertanyaan Anda satu saja, dan kemukakan dengan singkat dan jelas.” Nah, begitu sesi dimulai dan sampai pada sesi tanya jawab, seorang doktor sok keminter dari luar pulau mengajukan pertanyaan. Seperti biasa, pertanyaannya diawali dengan cerita dan pandangannya sendiri, tapi eits, baru juga dia mau memulai berkisah, langsung sang moderator British tadi mencegatnya: “Sorry, get to your point, please!”. Whew, kereeen!

Tapi memang begitulah seharusnya seorang moderator kan? Dia bertugas membatasi pertanyaan sehingga tidak terkesan sesi presentasi itu menjadi molor berkepanjangan gara-gara beberapa penanya tidak bisa mengekang nafsunya untuk bertanya panjang lebar.

Nah, cerita tadi belum selesai. Ketika rehat makan siang, saya sempat mendengar si penanya tadi ngerasani si moderator bule bersama teman-temannya: “Sialan tuh bule, sok banget! Aku kan baru aja mau bertanya, eh dia udah main potong aja!”. Nah, ternyata dari persepsinya, apa yang akan dia ceritakan panjang lebar tadi masih baru pembukaan, belum sampai intinya. Ya iya sih, tapi kalau nuruti orang kayak gini, bisa-bisa presenternya dia, bukan penyaji sebenarnya.

Begitulah, orang-orang dari dua budaya yang berbeda dalam satu kegiatan bersama, selalu ada kesenjangan pemahaman akan sebuah tindakan. Itu baru soal kecil kayak bertanya lho; masih banyak hal-hal lebih krusial lagi yang dipersepsikan berbeda oleh budaya yang berbeda. Makanya memang pemahaman–dan toleransi atau bahkan win-win solution –antar budaya itu perlu dilakukan seiring dengan makin intensifnya interaksi antar budaya.

Tagged: ,
Posted in: Uncategorized