Jalan Kaki

Posted on June 17, 2013

0


Saya bekerja 40 jam seminggu; itu artinya sekitar 8 jam sehari. Nah, 95% dari waktu saya di kantor dihabiskan untuk duduk di depan komputer. Bisa dibayangkan betapa besar tekanan di tulang punggung saya untuk menahan berat tubuh saya (sekarang udah 70 kg, howaaah!).

Nah, untuk mengimbangi beban berlebihan itu maka saya mulai merubah gaya bekerja. Okelah saya memang harus duduk selama beberapa jam (dan bulan ini dan 2 bulan ke depan akan makin lama karena sedang liburan semester, jadi saya ndak ngajar di depan kelas), tapi saya usahakan setiap pagi berjalan kaki selama minimal setengah jam. Saya jadi ingat pelajaran Reading waktu saya masih usia 22 tahun beberapa abad silam; salah satu dosen saya yang juga suka berjalan kaki pernah berkata: “asyiknya berjalan kaki itu bukan hanya pada manfaat kesehatannya, tapi ternyata juga terletak pada kenikmatan melihat-lihat suasana sekitar di sepanjang jalan yang kita susuri.” Memang saya lihat bapak dosen ini selalu berjalan kaki dari rumahnya ke kampus, dan di perjalanan dia melewati rumah saya. Sedemikian intensnya dia menikmati pemandangan, sammpai dia tahu perubahan bentuk taman hasil perawatan Ibu saya, dan bahkan mengomentari kuburan anjing saya: “wah, anjing kamu tuh Kristen ya? Kok di kuburannya ada tanda salib?”. Ha ha haaa!

Memang benar yang beliau katakan, jalan-jalan itu makin menyenangkan karena bisa melihat kesibukan manusia-manusia di pagi hari, toko-toko baru di deretan ruko, celoteh ibu-ibu tawar menawar dengan bakul sayur di sudut jalan, sampai ada orang kurang waras yang tahu-tahu menyapa saya dan langsung ngomong ngalor ngidul soal politik, hadeeeh!

Nah, karena saya harus ngantor, maka aku pakailah sedikit taktik supaya kebiasaan jalan kaki ini tidak mandeg. Sekarang, setiap kali sampai di kampus saya geblaskan mobil ke parkiran di basement Bhakti Persada, markir mobil, terus jalan kaki menyusuri bagian belakang kampus, mutar ke arah gedung Rektorat untuk melakukan finger print disana. Lumayan lah, 7 menitan jalan kaki. Saya jadi lebih tahu suasana asri di bagian belakang sana, penuh pepohonan hijau dan kicau burung. Ini nih profesor mestinya dibikinin satu pondok bambu di tengah-tengah hutan kecil disitu untuk bersemedi menghasilkan karya-karya ilmiahnya, halah! Nah, begitu mau pulang, saya ndak langsung ke basement untuk ngambil mobil, tapi jalan kaki dulu ke Rektorat untuk melakukan finger print, kemudian baru jalan balik ke basement dan naik mobil lalu geblas pulang. Tidak cukup sampai disitu; setelah makan siang pun saya mulai berkebiasaan jalan kaki kemana-mana, sekedar melihat rekan-rekan di paguponnya masing-masing, atau bahkan jalan keluar gedung memutar seluruh kampus dan balik lagi ke kantor. Beruntung gue kerja di kampus kecil kayak Ma Chung yang hijau nan asri seperti ini; konturnya naik turun pula.

Saya bandingkan mana lebih menyenangkan: jalan kaki di mall, atau di alam bebas, atau di kampus. Ternyata jalan kaki di mall paling ndak enak; ya mungkin karena faktor pemandangan tadi itu ya: saya kalau jalan kaki di mall bisanya cuman memandang aja, ndak bisa beli, maka mungkin jadi makan ati dan perjalanan itu terasa menyengsarakan.

Resiko duduk terlalu lama adalah tulang punggung yang terbeban. Makanya sekalipun mungkin Anda ndak suka sama saya atau ndak suka membaca blog ini, mulailah berjalan kaki. Jalan kaki tuh sehat, murah, ramah lingkungan, dan kalau mau sedikit meriah ya bolehlah memasang earphone sambil mendengarkan lagu-lagu Jamiroquai atau campur sari. Siiip thok wess!

Posted in: Uncategorized