Pemahaman Antar Budaya: Amrik vs Indonesia

Posted on June 12, 2013

0


Kemarin seorang kolega dari Amerika curhat panjang lebar ke saya di kantor. Saya bilang “curhat” karena pada awalnya dia mengatakan bahwa dia hanya ingin melaporkan kegiatan penelitian untuk disertasinya; ternyata sampai di depan saya dia malah cerita macem-macem. Ya saya dengarkan dengan telaten, karena bukankah saya sedang belajar menjadi pendengar yang baik?

Salah satu cerita menarik darinya adalah perbedaan kepribadian begitu kita berbicara bahasa lain: “Saya bisa bahasa Vietnam, tapi entah mengapa begitu saya bicara bahasa Vietnam, saya jadi agak pasif. Ternyata ya memang begitulah sikap orang Vietnam, cenderung pasif. Nah, ketika bicara bahasa Inggris, bahkan orang Vietnam yang aslinya pasif pun menjadi agak spontan.” Ini menarik karena nampaknya sesuai dengan kecurigaan saya bahwa berbicara dalam bahasa lain berarti memakai pola pikir budaya lain. Coba deh Anda yang sehari-hari bicara bahasa Indonesia suatu hari beralih ke bahasa Malangan yang terkesan agak kasar tapi egaliter itu; coba lakukan sehariii aja di kantor, nanti kan terasa ada yang agak lain dengan cara pikir maupun pola kepribadian Anda.

Lalu, si rekan Amrik ini melanjutkan obrolannya, Kali ini dia ngerasani “budaya” orang Indonesia yang suka menutup jalan umum untuk keperluan hajatan pesta nikah di kompleks perumahan. “Itu jalan umum,” dia bilang, “maka saya berhak memprotes kenapa mereka menutup jalan umum untuk kepentingannya sendiri? Sudah gitu, hajatan-hajatan seperti itu memasang loud speaker yang membuat semua ujaran MC nya terdengar sampai setengah kilometer jauhnya; belum lagi kalau malamnya ada tari-tarian atau musik live, aduuh, sampe pernah sehari aku ndak bisa tidur gara-gara di dekat rumahku ada kayak gituan.”

Di Amrik rasanya ndak ada orang sampe nutup jalan umum karena mau mendirikan tenda untuk pesta kawinan atau kematian. Betul ya? Anda mungkin sama kayak saya, belum pernah ke Amrik, tapi pernah kan liat film dimana ada adegan seseorang menelpon polisi mengadukan tetangganya yang mengadakan pesta sampai larut malam dengan bunyi dentuman musik hingar bingar? Nah, kalau di Amrik, urusannya bisa sampai ke polisi tuh.

“Orang Indonesia bukannya suka dengan yang begituan, tapi kita disini punya tenggang rasa yang lebih besar. Jadi kami rela satu dua hari jalannya agak memutar karena ada tetangga sedang hajatan, plus rame-ramenya. Soalnya ntar kalau kita sendiri yang bikin acara kayak gitu, kita juga akan mengharapkan toleransi yang sama,” demikian saya mencoba menjelaskan.

Satu hal lain yang membuatnya geli adalah ketika menerima email dari pimpinan lembaga. “Aku hanya minta ijin apa bisa bicara dengan dia,” katanya, “eh, you know the answer? She wrote: “I feel honored to discuss with you”. Wow! Ini bahasanya terlalu sopan! Aku ini kan karyawannya, aku kerja untuk dia, jadi ya gak usahlah pakai bahasa sehalus itu, ha ha haaaaa!”

Saya juga ha ha ha! Nah, itu, satu lagi pelajaran pemahaman budaya langsung dari sumber aslinya! Yeahhhh!

Demikianlah curhat berlanjut, mulai dari masalah tiket pesawat, keluarganya, studi lanjutnya, sampai kerinduannya akan seseorang yang bisa diajak curhat seperti siang itu dengan saya. Yang terakhir ini membuat saya agak terenyuh: ya iyalah, saya juga bisa merasakan sendiri gimana menjadi karyawan di negeri seberang yang berlainan budaya dan bahasa; kadang pingin ngomong mengungkapkan isi hati tapi tidak menemukan yang cocok untuk sejenak mau mendengarkan dan menanggapi curhat itu.

Posted in: Uncategorized