Pesan Buat Dosen Pembimbing Skripsi

Posted on June 5, 2013

0


Saya buka tulisan ini dengan salah satu status saya di fesbuk: “Kalau dipercaya menjadi dosen pembimbing skripsi/tesis, bekerjalah dengan baik. Kalau punya masalah pribadi, konsultasikan dengan psikiater, jangan dilampiaskan ke mahasiswa bimbingannya; kalau nanti mahasiswanya sutris terus mati, dosanya besar”.

Kasihan seorang rekan yang tesisnya ndak selesai-selesai karena dibimbing oleh dosen yang, menurutku, agak mengalami masalah pribadi. Katanya sulit sekali menemui dosen ini karena dia selalu menghindar dengan berbagai alasan. Sudah gitu, sikapnya ketika membimbing juga tidak menyenangkan; cenderung lugas dan mau cepat selesai lantas kabur entah kemana lagi. Kedua dosen lain sudah memberi lampu hijau untuk maju seminar, eh, si dosen yang terganggu ini belum juga selesai membaca dan memberi komentar pada draft tesisnya. Bukankah ini sangat menghambat mahasiswa bimbingannya?

Yang saya prihatinkan adalah sikap lembaga tempat dosen ini bekerja. Wong sudah tahu bahwa beliau ini cenderung berbuat begitu untuk semua mahasiswa bimbingannya kok ya dibiarkan aja terus-menerus begitu? Mestinya kan atasannya, setelah mendengar keluhan dari banyak mahasiswa, segera mengambil tindakan mulai dari yang paling halus sampai yang paling tegas. Tapi ini ndak tuh. Ya sudah, dibiarkan aja itu sang dosen membuat banyak mahasiswa bimbingannya menderita, terkatung-katung karena sikapnya yang tidak jelas.

“Lembaga tempatmu sekolah itu sudah impoten”, demikian saya bilang kepada rekan tersebut. “Sudah tahu ada gejala dosennya ndak beres kayak gitu ya masih diam saja. Mungkin sungkan menegur kolega sendiri, tapi secara profesional kan yang seperti itu ndak bisa dibenarkan?”.

Jangan meremehkan pekerjaan menulis tesis dan/atau membimbingnya. Dua-duanya pekerjaan berat, membutuhkan daya analitis kritis yang prima, ketepatan berbahasa tulis yang jempolan, dan ketelatenan membimbing. Maka saya sebenarnya tidak setuju kalau ada rekan yang meremehkan pekerjaan ini: “panggil tuh pak A untuk datang rapat; wong cuma bimbingan skripsi aja kok sampai harus mengorbankan rapat??”.

Ketika seorang mahasiswa berkonsultasi untuk menulis skripsinya dengan dosen pembimbingnya, itu adalah momen sangat intim dimana mereka berdua harus bebas melampiaskan gairah akademik dan ilmiahnya sehingga mencapai puncak kepuasan karya ilmiah yang patut uji dan layak saji di jurnal terkemuka. Makanya, kalau melihat adegan intim seperti itu, stay away! Jangan mengganggu.

Kembali ke gaya dosen pembimbing skripsi. Saya tidak tahu bagaimana gaya saya, karena orang lain tidak pernah komen. Hanya satu yang pernah komen blak-blakan ke temannya: “Bapak P itu meriksanya cepat sekali; masak aku baru kirim tadi pagi, siangnya udah dia kirim balik ke emailku, lengkap dengan komen-komen yang menbuatku harus kerja keras lagi. Lha kalau kayak gini, kapan aku bisa shopping?”. Ha ha ha, kasian dikau, mahasiswa.

Tapi kan itu jauh lebih baik daripada dosen pembimbing yang bermasalah seperti yang saya ceritakan di atas tadi?

Memang gampang-gampang sulit membimbing mahasiswa menulis skripsi. Kita diharapkan tidak terlampau ketat sehingga mahasiswanya frustrasi, tidak pula terlalu cul-culan sehingga terkesan mahasiswanya menyajikan buah karya yang penuh dengan kelemahan teoretis dan metodologis. Kita harus bijaksana dalam membimbing; harus tahu kapan memberikan bantuan, kapan membiarkan mahasiswa berjuang sendiri mencari referensi atau menganalisis, dan harus bisa memberikan semangat supaya sang bimbingan tetap semangat sampai akhir perjuangan.

Posted in: Uncategorized