Socmed oh Socmed

Posted on May 31, 2013

0


Socmed itu singkatan dari “social media”. Seharusnya lengkapnya adalah “online social media”, karena pada kenyataannya semua media itu disajikan lewat Internet. Nah, berarti ini meliputi Twitter, Facebook, Myspace dan sebagainya.

Di jaman socmed ini, manusia lebih banyak memandangi gadgetnya daripada memandang pemandangan atau sesama manusia lain. Maka jitulah strategi kampanye lewat socmed, karena begitu janji-janji kampanye digulirkan lewat socmed, yang membaca pasti banyak; alhasil yang terpikat pun makin banyak.

Di socmed orang bisa menelanjangi dirinya tanpa malu-malu: yang biasanya jaim dan serius bisa konyol dan asal njeplak di socmed; yang dari luar kelihatan tenang ternyata di socmednya ketahuan bahwa dia sedang memendam dendam atau asmara tak sampai, dan lain-lain wis, banyak pokoknya. Entah kekuatan jahanam apa pula yang tersembunyi di balik socmed sehingga orang penggunanya bisa tanpa malu-malu telanjang begitu saja.

Tanpa disadari, socmed merupakan corong kita ke dunia luar: orang akan memandang Anda dan menilai Anda dari socmed. “Bapak ini kami pandang sebagai dosen cool,” kata seorang mahasiswa kemarin. “Tapi kalau sudah di fesbuk, bisa lain sekali, lucu dan kadang jahil. Kok bisa gitu ya? Saya sama teman-teman sampai heran sekali lho, Pak, apa ini benar Bapak yang punya fesbuk, kok lain banget dengan kalau di kelas sehari-hari?”.

Ketika saya bertanya di suatu kelas apakah sempat membuka fesbuk saya untuk melihat sekelumit pelajaran Grammar, seorang murid nyeletuk: “wah, saya ndak nyangka ada pelajaran disitu, soalnya your facebook is a joke, Sir”.

Entah sadar atau tidak atau mungkin saya merasa sudah makin tua, dalam beberapa bulan terakhir ini status saya di fesbuk (yang nama saya sendiri) sudah jauh berbeda dibandingkan beberapa bulan silam. Sekarang status saya jauh lebih sopan, bersifat mencerahkan atau sedikit mengajar, bahkan terkesan alim. Kenapa kok bisa begitu? Ya ndak tahu; kalau saya duga mungkin karena “sesuatu” di profil pic saya. Pernah lihat profil pic saya di fesbuk? Bukan wajah saya atau posenya yang saya maksudkan, tapi benda yang tergantung di dinding di belakang saya itu lho. Lho ini mungkin lhooo, kan boleh sekedar menduga-duga?

Saya nulis di twitter kemarin: “sekilas konyol, tapi saya akui saya senang melihat banyak orang me “like” status-status saya”. Ya memang begitulah adanya. Manusia butuh pengakuan.

Nah, di Twitter saya masih lebih kurang ajar. Mungkin karena saya tidak bisa melihat komen atau reaksi langsung dari tweeps yang lain, saya masih terkesan ngomong se enaknya. Ya yang bermutu ada juga sih. Nah, herannya, tweets saya yang sesederhana ini bisa difavoritkan orang2 bule: “Now my parents live just next door. Every evening, we have Bible reading with my kids.” Apa istimewanya berita seperti itu? Ya nggak tau ya, mungkin buat beberapa yang membaca, tweet itu menyiratkan kedamaian sebuah keluarga yang taat akan Tuhan. Halah . . .

Posted in: Uncategorized