Coitus Interruptus

Posted on May 24, 2013

0


Suatu senja, putri saya, seorang murid kelas 11 di Hwa Ind, sedang tekun belajar Biologi. Tahu-tahu dia nyeletuk: “Ini apa pula ini artinya ‘sanggama terputus” atau coitus interruptus??”.

Saya yang kebetulan sedang berada di dekatnya mak jegagik kuaget. Kok bisa pertanyaan seperti itu meluncur dengan enaknya dari seorang ABG umur 16 tahun? Tapi saya setel cool aja. Saya langsung berpikir bahwa sudah saatnya dia tahu tentang seks dengan cara yang benar dan wajar.

Benar dan wajar. Itu prinsip saya. Maka dengan nada datar seolah-olah sedang menjelaskan tentang kenapa lagit berwarna biru, saya menjawab: “Oh, itu artinya berhubungan seks, tapi ketika air maninya mau keluar, lalu segera ditarik dari vagina sehingga tidak membuahi sel telur. Itu salah satu cara mencegah kehamilan.” Dia pun mengangguk mengerti.

Seks. Itu sama alamiahnya dengan bunga yang sedang mekar atau matahari terbenam di Barat atau air laut pasang di laut ketika malam tiba. Itu bagian dari alam. Maka, saya berprinsip bahwa semua yang alamiah juag harus diterangkan dengan nada dan cara yang wajar kepada anak-anak, sehingga mereka tidak mempunyai persepsi yang keliru tentang hal yang sebenarnya wajar dan bahkan sakral.

Ketika putri saya itu masih kecil, seorang teman menyalahkan saya yang dengan tenangnya menjelaskan nama-nama alat kelamin pria dan wanita dengan bahasa apa adanya: vagina, penis, puting dan sebagainya. Saya jawab: “Lhoh, bukankah memang itu nama-nama yang benar untuk organ-organ itu?”. Sekali lagi saya berprinsip kepada anak harus ditanamkan bahwa organ-organ itu adalah bagian dari tubuh, bagian dari alam yang diciptakan Tuhan supaya manusia bisa terus eksis. Lha coba bandingkan dengan orang-orangtua jaman dulu yang cenderung menghardik anak-anaknya supaya tidak bertanya masalah organ seks tersebut. Lho, kalau sejak usia dini anak sudah dihardik untuk tidak mempertanyakan hal tersebut, mereka akan mempunyai persepsi bahwa seks itu sesuatu yang jelek, yang tabu, yang tidak sopan dan segala hal negatif lainnya. Mereka akan tumbuh dengan persepsi keliru tentang seks dan hubungan intim. Maka dikhawatirkan dampaknya adalah rasa jijik terhadap seks, frigiditas, atau bahkan mbablas ke arah yang lainnya: jadi seks maniak atau mengalami penyimpangan seksual.

Begitulah sekelumit pendapat saya. Yah, namanya jaman modern. Anak-anak makin sering terpapar pada informasi yang kadang membingungkan mereka. Orang tuanya harus siap dan bijak menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka tentang hal-hal seks sedemikian sehingga mereka punya sikap yang sehat dan tepat terhadap seks.

    Catatan ringan:

Ibu saya, seorang dosen psikologi, pernah menulis buku yang cukup laris berjudul: “Menjawab Pertanyaan Anak tentang Seks”. Lalu, salah satu paman saya yang terkenal suka mbanyol dan spontan, membaca judul itu keras-keras dan menjawabnya sendiri: “Enak!”. Ha ha haaa!

Lhoo, yang barusan itu guyon lhoo, jangan merengut po’o, ha ha haaa! Sekali-sekali ketawa ya ndak papa laaah . . . .

Tagged: , ,
Posted in: Uncategorized