Menguji Kemampuan Google Translate

Posted on May 22, 2013

2


Salah satu mahasiswa saya sedang menulis skripsi tentang kualitas Google Translate. Rekan saya, sesama pembimbing, sudah skeptis duluan. Dia yakin Google Translate itu hasil terjemahannya ndak karuan. Saya tidak percaya begitu saja komentarnya, jadi saya coba menerjemahkan sebuah tulisan saya ke bahasa Inggris via Google Translate.

Berikut ini adalah teks asli yang saya buat:

***
Masalah-masalah nyata dalam pembelajaran:

1. Kelas besar, dengan mahasiswa/siswa yang datang dari berbagai latar belakang dan tingkat kecakapan yang beragam.

2. Ketergantungan yang keterlaluan pada teknologi: begitu komputer rusak atau listrik mati, guru pun mati gaya di depan kelas. Alasan: “lha gimana mau ngajar? Semua materi saya di Power Point.”

3. Kesenjangan digital: generasi yang lahir 1990 an ke atas punya sikap dan gaya belajar yang berbeda dibandingkan dengan dosen/gurunya yang angkatan 1950 an – 1985 an. Satu hal sudah jelas: gaya ceramah satu arah selama berjam-jam hanya akan membuat seluruh kelas tertidur.

4. Kemampuan guru menyampaikan materi secara ringkas, sederhana, dan mudah dipahami.

5. Khususnya di negara kita: kesenjangan yang sangat besar dari segi fasilitas pembelajaran dan mutu guru. Sementara di Jakarta banyak sekolah yang sudah lengkap dengan laboratorium dan guru berkualitas unggul, di banyak desa dan luar Jawa banyak sekolah dan guru dalam kondisi yang sangat mengenaskan.

Masih banyak lagi yang bisa dibahas. Untuk sementara yang ini saja sudah cukup membuat prihatin.

****

Lalu saya masukkan ke Google Translate untuk diterjemahkan ke bahasa Inggris. Hasilnya di bawah ini:

###

The real problems in learning:

1. Large classes, the student / students who come from different backgrounds and varying levels of proficiency.

2. Outrageous dependence on technology: once the computer is damaged or power failure, the teacher was dead style in front of the class. Reason: “LHA how can one teach? All my material in Power Point. ”

3. Digital divide: the generation born to the late 1990s had an attitude and a different learning style than the lecturer / teacher who forces 1950s – 1985’s. One thing is clear: one-way lecture style for hours just to make the whole class to sleep.

4. The ability of teachers present material in short, simple, and easy to understand.

5. Especially in our country: a very large gap in terms of learning facilities and quality teachers. While in Jakarta, many schools are already complete with laboratories and superior quality teachers, in many villages outside Java and many schools and teachers in a very pathetic condition.

.

There is still much more to be discussed. For while this alone is enough to make concerned.

###

Mengagumkan! Selain yang saya cetak tebal bawah sebagai penanda kesalahan fatal, Google Translate menerjemahkan teks saya di atas dengan baik dan benar. Nyaris tidak ada halangan untuk memahami maksud hasil terjemahannya.

Hmm , . . . . Implikasinya banyak. Pikir saja sendiri.

Posted in: Uncategorized