Merencanakan Kegiatan di Tengah Kantong Kempes

Posted on May 14, 2013

2


Kemarin saya mengikuti rapat keluargadi ruang teater keluarga. Topiknya tentang kegiatan di tahun depan. Pertama, ibu yang berbicara. Beliau mengatakan bahwa kondisi keuangan dalam keadaan tidak menggembirakan. Usaha kos-kosan yang kami jalankan tidak sanggup menarik cukup banyak mahasiswa, sementara tagihan untuk biaya air, listrik, wi-fi, kolam renang, taman, dan sebagainya tetap harus dilunasi. Maka, untuk membayar para pembantu, supir, guru les dan penjaga kos-kosan terpaksa kakek yang di Surabaya lah yang terus menerus harus mengucurkan dana segar. “Kasihan kakek,” kata ibu, “beliau memang kaya, tapi sudah tua dan tentunya beliau keberatan kalau terus menerus harus menalangi biaya gaji pembantu dan karyawan disini.”

Lalu bicaralah suami ibu yang pertama. Aneh, seolah tidak mendengarkan atau tidak memahami uraian panjang lebar ibu tadi, bapak ini mencanangkan kegiatan-kegiatan yang serba wah di tahun depan. “Kita akan mendirikan tempat kursus baru, minimal 5 buah, supaya kita bisa tidak kalah dengan tetangga-tetangga yang lain,” katanya. Itu masih ditambah dengan rencana untuk mendirikan pavilyun-pavilyun baru di sayap kiri dan kanan rumah untuk menampung tempat kursus itu.

Mungkin mendengar rencana yang serba megah itu, sang adik bungsu tiba-tiba angkat bicara: “Aku juga ingin kamar baruku di lantai 7 itu dipenuhi dengan mebel lengkap, komputer, TV, perpustakaan, laboratorium mini untuk hamster dan tikus, dan itu sudah harus siap tahun depan.”

Sang ibu, mendengar omongan si bungsu yang nadanya sudah setengah merengek, menjawab dengan nada keibuan: “Ya, nak, pasti akan kami isi gedung, eh kamarmu itu dengan semua sarana dan prasarana itu.”

Suasana hening sejenak. Kalau Ibu sudah bicara, apalagi kalau tentang putra kesayangannya itu, semua diam. Tapi saya yakin semua bertanya apa yang saya tanyakan dalam hati: “Duitnya dari mana? Masak duitnya embahnya?”.

Ya mungkin memang tidak salah. Kan selama ini juga embah (kakek) yang terus menerus menyuplai dana segar ke rumah kami ini?

Lha terus gimana ini? Duit kurang, tapi ambisi gedhe. Terus kami mau ngapain tahun depan? Sebagai anak tengah, saya tidak akan berpikir yang muluk-muluk dah. Mungkin akan saya rencanakan kegiatan kongkow-kongkow saja yang tidak menghabiskan banyak uang.

Yang saya prihatinkan adalah sikap kakak-kakak saya dan saudara-saudara yang lain. Mereka tenang-tenang saja mendengar laporan keuangan yang memprihatinkan tadi. “Kita akan survive,” kata suami ibu yang kedua. “Kan sudah 5 tahun kita seperti ini, wong nyatanya ya tetap survive kok.” Penghiburan yang ala kadarnya itu disambut dengan tawa cengengesan dari saudara-saudara saya yang lain.

Heran saya. Kenapa kami malah cengengesan dan tidak merasakan adanya sense of emergency? Kenapa kita tidak menjadi sedikit paranoid dan segera mengetatkan ikat pinggang, membatasi pengeluaran mati-matian, dan tidak bermuluk-muluk? Nanti kalau ternyata uang amblas beneran dan kakek tidak sanggup lagi memikul biaya, lantas gimana?

Heran saya . . .

Tagged: ,
Posted in: Uncategorized