Tingkah Laku Murid dalam Kelompok

Posted on May 2, 2013

0


Pagi tadi saya mengajar Linguistics. Kelas saya bagi jadi kelompok-kelompok kecil. Saya serahkan pada mereka cara berkelompoknya, supaya mereka nyaman dan tidak merasa dipaksa bekerja dengan teman yang mereka tidak cocok. Lalu ketika mereka bekerja, saya amati perilaku mereka. Secara umum, ada 4 kategori kelompok: (1) grup pintar dan aktif; (2) grup rata-rata; (3) grup kurang dengan pemimpin pintar; (4) grup gak niat kuliah.

Nah, ada empat perilaku yang saya tentukan sebagai pokok pengamatan: tindakan membentuk grup, berbicara/membahas, mengecek gadget/membaca materi. Pokok pengamatan ini saya tulis di panduan pengamatan untuk membantu saya merekam. Time framenya saya bagi jadi dua: 10 menit pertama, dan setelah 10 menit pertama.

Sudah jelas langsung terlihat bahwa kelompok gak niat kuliah hanya melakukan kegiatan membentuk grup saja; setelah itu mereka duduk diam; tidak berbicara satu sama lain, tidak juga membaca materi, dan tidak juga mengecek gadget untuk menemukan infromasi bantuan tentang tugas yg diberikan. Jadi ya diam saja berpangku tangan. Ck ck ck. Anak-anak ini mungkin salah langkah; seharusnya mereka menikah muda atau membantu orang tua saja di rumah, tidak usah kuliah. Kebanyakan sangat berkecukupan. Pakaiannya bagus-bagus, make up nya khas kelas atas, tapi ya itu tadi, semangat belajarnya nyaris nol.

Yang agak mengejutkan adalah kelompok pintar dan aktif. Apakah Anda membayangkan kelompok ini akan berinteraksi secara aktif dan bahkan berdebat agak seru di kelompoknya? Ternyata tidak. Mereka melakukan semua parameter di atas, kecuali berbicara satu sama lain! Jadi mereka sibuk membaca sendiri-sendiri materi dan gadgetnya, kemudian menulis-nulis sendiri. Kalaupun ada interaksi ya hanya sekilas saja.

Mungkin anak-anak ini tergolong pintar tapi introvert. Mereka tidak merasa perlu berbicara satu sama lain, jadi ya lebih baik mereka kerja sendiri-sendiri.

Yang juga menarik adalah tingkah laku grup rata-rata. Kelompok ini justru paling ramai berbicara dan tampak paling sibuk. Pada tahap selanjutnya juga kelihatan justru mereka ini yang paling berani dan paling spontan maju ke depan untuk menjawab pertanyaan atau menerangkan ke teman-temannya.

Kelompok jenis berikutnya tergolong rata-rata tapi disitu ada seorang mahasiswa yang pintar dan rupanya dipercaya menjadi pemimpin. Maka sang pemimpin ini lah yang mendominasi interaksi: dia memberi penjelasan dan mengarahkan kerja teman-temannya–yang nota bene kemampuannya di bawah dia–supaya selaras dengan tuntutan tugas.

Maka ketika waktu presentasi tiba, saya praktis mengabaikan kelompok gak niat kuliah tadi. Tanpa sadar atau bahkan dengan sangat sadar saya tidak melakukan kontak mata dengan mereka, dan lebih memilih berkontak dengan teman-temannya yang lebih antusias.

Pengamatan saya sekilas itu membuat saya jadi lebih tahu bahwa pintar tidak selalu harus aktif berbicara dengan yang lain; pintar bisa berarti diam dan emas. Kedua, diam tidak senantiasa emas. Dalam kasus kelompok gak niat tadi, diam adalah bangkai. Ketiga, kelompok yang belum kuat benar-benar membutuhkan peran seorang pemimpin yang bukan hanya cakap tapi juga pintar memberi pengarahan kepada rekan-rekannya.

Posted in: Uncategorized