Rasa Campur

Posted on May 2, 2013

0


Rasa Campur

Kalau ada es campur, maka ada juga rasa campur.

Rasanya itu yg mewarnai hari ini. Campuran antara lega, senang, tapi juga sebal dan capek.

Kelas jam 10 menyenangkan. Game yang saya ciptakan sangat bisa memancing murid-murid untuk belajar mandiri dan lebih spontan dalam menjawab. Sayang kegembiraaan itu agak ternoda oleh seorang mahasiswi yg terang-terangan memakai baju you-can-see alias memamerkan lengan dan bahunya. Saya heran kenapa anak ini sengaja memakai baju seperti itu waktu kelas saya. Mungkin dia tidak menyangka bahwa dosen prianya yang biasanya cuek menjadi sangat tidak happy ketika saya memanggilnya seusai kuliah. ‘Ati2 kalau berpakaian. Itu terlalu terbuka,” saya mendesis dengan nada ketus. Dia tampak kaget dan langsung mengatakan ‘yes, sir, thanks.’, lalu pergi.

Saya tahu anak itu dan teman2nya se gang tidak suka kuliah saya yang memang sulit kalau tidak tekun dan rajin membaca. Jujur saja saya juga tidak suka sama kelompok itu. Kayaknya anak2 borju yang kuliah hanya untuk pamer dandanan baru dan gaya hidup mewah, dan mempersetankan ilmu.

Sore, rapat. Nah kali ini saya lega dan senang karena secara resmi saya sudah bukan lagi sekretaris kelompok itu. Jabatan itu strategis dan tersohor, tapi tidak disini dan tidak untuk saya. Cukup sudah dua tahun saya menjabat.

Lalu sesaat setelah saya kembali ke kantor, rasa senang berubah jadi sebal. Tulisan-tulisan saya yang sudah saya tugaskan untuk dikomen ternyata masih tetap tanpa komen. Rasa kesal langsung memenuhi dada. Saya jadi berpikir apa orang-orang ini idiot ataukah malas ataukah sengaja mengabaikan tulisan yang dia janji akan dikomen itu. Janji tinggal janji. Sial deh, siapa suruh berinteraksi dengan manusia lemot kayak gini.

Saya pulang dan sudah mati rasa ketika komen itu akhirnya datang. ‘sorry, connection error’ alasannya.

Ah embuhlah, . . . .

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized