Belajar Online

Posted on April 27, 2013

0


Ide saya untuk program kerja Fakultas tahun 2013 adalah merintis pembelajaran online. Bukan hanya sekedar ikut2an arus, tapi saya lihat dulu arusnya bener apa ndak. Memang dunia pembelajaran sekarang sedang marak dengan yg namanya MOOC (Mass Open Online Course), yaitu pembelajaran online yang bisa diikuti gratis oleh semua orang dari penjuru dunia yang terkoneksi Internet. Nah, saya melihat bahwa moda pembelajaran seperti ini potensial untuk bisa mengembangkan pembelajaran di kampus saya sendiri, karena

1. Online Learning (OL) membantu mahasiswa yang tidak lulus mata kuliah prasyarat. Supaya mereka tidak harus menunggu satu tahun untuk bisa mengikuti kembali mata kuliah itu, maka mereka bisa mengambil kuliah tersebut di semester berikutnya secara OL.

2. OL bisa dikemas menjadi bentuk pembelajaran yang memungkinkan orang dari mancanegara mengambil kuliah di Ma Chung. Ini bisa diterapkan untuk mata kuliah pengantar (Intro to Indonesian Culture; Basics of Indonesian Grammar) sehingga sebelum datang ke Ma Chung untuk berkuliah tatap muka, mereka sudah dibekali dengan pengetahuan-pengetahuan dasar. Efek baiknya, ada biaya yang bisa dihemat, sementara efektivitas tidak terhambat.

Nah, karena OL masih hal yang sangat baru di dunia, maka saya tidak bisa menerapkannya begitu saja di kampus ini. Perlu didahului oleh semacam studi kelayakan. Nah, tadi pagi ketika melamun setelah sarapan pagi, tiba-tiba beberapa ide berkelebatan di benak saya. Biasa, ini namanya gejala seorang profesor “kesurupan ide”. Karena saya hanya bawa gadget, maka langsung saja saya tuliskan di twitter saya beberapa ide rintisan OL itu:

1. Dlm online learning, mahasiswa yg bergaya visual akan banyak terbantu karena harus banyak membaca materi. Padahal kan ndak semua mahasiswa bergaya visual; ada yang lebih auditori (suka mendengarkan) dan ada yang kinestetik (belajar dengan melakukan sendiri yg dipelajari). Maka perlu diungkapkan dalam penelitian itu seberapa besar mereka yang bergaya belajar non-visual bisa menyesuaikan diri dengan kewajiban membaca yang khas dalam setiap OL.

2. Salah satu aspek yg ditanyakan dalam riset OL adalah seberapa besar biaya yg pantas dari sudut pandang murid. Ini penting karena peserta OL tidak akan banyak berinteraksi dengan sesi tatap muka di kelas, plus jadi tidak bisa berinteraksi langsung dengan teman-temannya. Sementara itu, tetap ada biaya yang harus dikeluarkan untuk maintenance situs webnya, membayar provider, dan juga membayar dosen-dosennya yang walaupun tidak bertatap muka tapi terus memonitor pekerjaan murid-muridnya.

Pada gilirannya, nanti ini akan menggiring pada seberapa banyak porsi interaktif yang dibutuhkan dalam OL. Barangkali saya bisa memakai pendekatan “flipped classroom”, dimana dosennya mengupload video ceramahnya sendirian di depan kelas menerangkan prinsip-prinsip dasar suatu ilmu, kemudian mahasiswanya melihat ceramah itu secepat dan sebanyak yang dia mampu (kalau dia belum mengerti, dia bisa mengulangi video itu beberapa kali sampai paham).

3. Dlm riset OL, saya akan bandingkan baseline kemampuan mahasiswa sebelum ikut OL dengan sesudahnya, dalam setiap level kognitif mulai dari pengingatan sampai merancang.

Demikianlah sekilas gagasan saya tentang Belajar Online, yang akan saya awali dengan sebuah studi kasus sederhana.

Ketika iseng-iseng mebuka tweet siang harinya, saya mendapati sebuah link yang isinya membahas ide saya tadi. Si penulis ini cukup kritis rupanya; dia menanyakan: “bagaimana mencegah muridnya nyontek?”. Hmm, ya, betul juga ya, itu malah belum sempat terpikirkan oleh saya. Terima kasih untuk kritiknya; pasti akan menjadi pemikiran saya juga nantinya. Untuk saat ini, sekian dulu saja ulasan singkat tentang gagasan belajar online.

Posted in: Uncategorized