Fasilitator Terbaik

Posted on April 25, 2013

0


Bahkan sejak saya bergabung dengan kampus ini saya sudah tahu prinsip ini: kalau mau melatih staf dan dosen di kampus ini, pelatih/fasilitator terbaik ya dari . . . . kampus ini sendiri!

Kenapa saya bilang “terbaik”? Ya karena alasan yang sangat sederhana: fasilitator internal tahu betul seluk beluk permasalahan dan hal-hal teknis administratif lainnya di kampus ini. Nah, karena dia tahu betul, maka semua materi yang disampaikannya akan sangat relevan dengan kebutuhan aktual dan ibarat pedang sangat menusuk pada inti permasalahan. Fasilitator eksternal–yang notabene orang-orang terpandang di negeri ini dan oleh karenanya dibayar jauh lebih mahal daripada fasilitator internal–mana tahuu masalah-masalah aktual di kampus ini?? Mana mereka tahu bahwa ujian disini itu bisa berupa Kuis Kecil, Kuis Besar dan UAS?? Mana tahu merekaaa?? Haa?! Pengalaman berkali-kali membuktikan bahwa setelah mereka yang dari luar ini diundang untuk kasih training atau workshop, materi dan inti penyajiannya meleset dari sasaran. Pesertanya bengong karena prinsip-prinsip yang mereka paparkan panjang lebar ndak kena secara pas dengan masalah keseharian mereka baik di kelas, di sistem penjaminan mutu atau di komponen organisasi lainnya.

Perlu bukti? Ingat ada seminar tentang mentoring beberapa tahun lalu? Didatangkanlah pakar dari Jakarta yang sudah kondang sebagai ahli psikologi. Ya bisa dibayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh lembaga ini untuk sekaliber dia. Begitu dia tampil, harapan tinggi pun langsung gembos karena solusi yang dinanti-nanti untuk mentoring di tempat ini tidak kunjung diberikan. Buntut-buntutnya dia nyeletuk: “sebenarnya di UI sana nggak pernah ada itu yang namanya program mentoring”. Glodak!

Lalu soal evaluasi. Didatangkanlah profesor dari sebuah perguruan tinggi kondang di kota ini. Ternyata podho ae, beliau mengupas sisi-sisi umum tes yang sama sekali tidak memberi solusi pada keunikan permasalahan evaluasi disini. Podho gembose. Yang berikutnya seorang Doktor dari lembaga yang sama. Ketika ditanya tentang solusi terhadap masalah khas di sekolah ini, beliau dengan enteng mengatakan: “Wah kalau saya ndak seperti itu. Kalau di lembaga saya tuh begini caranya” dan bla bla bla bla dia ngomong panjang lebar tentang tekniknya sendiri. Lhoh, kita itu lho mengharapkan solusi yang pas untuk masalah di tempat ini, bukan di tempatmu sono, Misteerr!

Soal kurikulum, didatangkanlah pakar lainnya dari kampus kondang lain. Ternyata ya sama azaaa, haduuh! Waktu dua jam dia pakai hanya 35 menit, sisanya tanya jawab ndak jelas karena ya memang ibarat makan babi, kami itu baru sampai baunya doang, belum sampai pada dagingnya yang lezat itu.

Belum cukup rupanya. Soal pembelajaran, didatangkanlah seorang bule. Setengah jam dia ngomong, sebagian peserta mulai sadar bahwa orang ini berlatar belakang pendidikan anak-anak usia dini. Lha biasa ngajar anak kecil kok suruh ceramah soal adult learning. Yaah, . . . siksaan buat peserta belum mereda juga. Saya sampai ndak sungkan-sungkan lagi membolos dari sesi itu😦

Mungkin karena sudah sadar, akhirnya ada tindakan mengundang seorang dosen internal untuk berbicara dan memimpin workshop tentang evaluasi di proses belajar mengajar. Dosen ini dikenal introvert, super cuek dan to some extent can be a pain in the ass, tapi untuk masalah pembelajaran dan evaluasi ya dia orangnya, lha wong gelar profesornya aja adalah di bidang pembelajaran bahasa dan tes bahasa kok.

Maka jadilah dia memberi pencerahan kepada rekan-rekan dosen lain dalam dua sesi terpisah: satu di Teater dalam bentuk ceramah umum tentang tes, dan satu lagi workshop di kelas untuk melatih ketrampilan membuat soal ujian dan membuat panduan penilaian. Dua kali sesi, hadirinnya cukup banyak dan responnya tidak bisa dikatakan payah. Yang jelas kelihatan adalah bagaimana dia menguasai betul semua masalah yang dilontarkan. Semua solusi yang diberikannya pas dengan sikon di lembaga itu. Kenapa? ya karena dia orang dalam, dia sudah tahu dan mengalami benar semua kendala teknis Kuis Kecil, Kuis Besar, UAS dan sebagainya. Sore setelah sesi workshop, atasannya menelpon: “Cukup bagus, Pak, Anda langsung menukik pada inti masalah yang sudah menjadi hal yang umum dihadapi dosen-dosen disini, dan rekan-rekan juga nampaknya mendapat pencerahan dari pelatihan itu. Kalau pembicara dari luar sering mereka malah ngomong hal-hal yang nggak ada kaitannya dengan masalah-masalah kita.” Dalam hati si dosen itu bilang: “Ya, kalau itu sudah saya sadari sejak jaman dulu, Pak.”

Fasilitator terbaik adalah yang paling efektif aatu setidaknya relevan dengan permasalahan aktual di sebuah lembaga. Dia terbaik bukan karena gelar atau reputasinya. Lho, kalau mau dibandingkan lho ya, si dosen yang menjadi pahlawan itu tadi ndak punya reputasi apa-apa kalau dibandingkan pembicara-pembicara dari luar. Nulisnya juga paling banter sekelas Malang Post atau paling banter Jawa Pos. Penghargaan ndak pernah dapat, hadiah Nobel apalagi. Tapi dia terbaik karena dampaknya terasa paling efektif untuk mendapatkan solusi dari permasalahan di lembaga ini.

Posted in: Uncategorized